Usut Kematian Dewi, Tim Polda ke Pasaman


Kamis, 05 Februari 2015 - 19:32:57 WIB
Usut Kematian Dewi, Tim Polda ke Pasaman

Kapolres Pasaman AKBP Agung Suryonegoro melalui Wakapolres Kom­pol Sihana mengatakan, usai melaporkan oknum polisi inisial N berpangkat briga­dir itu, ayah korban, Much­tar, langsung dimintai kete­ra­ngan oleh Satreskrim Pol­res Pasa­man sampai sore harinya.

Baca Juga : Dirjen PPKL KLHK Tawarkan Empat Pendekatan Atasi Banjir Kalsel

“Benar, pihak keluarga korban sudah melaporkan oknum polisi berinisial N, karena N menjemput kor­ban ke rumah dan berada bersama korban sebelum kejadian ini terjadi,” ujar Kapolres Pasaman AKBP Agung Suryonegoro Widajat melalui Wakapolres Kom­pol Sihana.

Wakapolres Kompol Si­ha­na membantah, hasil ou­top­si belum keluar dari pihak rumah sakit. Jadi, belum bisa ditentukan kare­na hasil outopsi kemung­kinan dikirim pada Sabtu mendatang. “Benar, saat ini oknum polisi N itu sudah diamankan. Amankan da­lam arti kita di kepolisian, ya dia­mankan dalam sel,” ujarnya.

Baca Juga : Dishut Sumbar Targetkan ITH Sebesar 61% Tahun Ini

Saat ini, pihak kepo­lisian terus mendalami ka­sus dugaan bunuh diri pera­wat tersebut. “Kita sudah mintai keterangan sekitar 15 orang, baik orang yang meli­hat kejadian di TKP mau­pun orang-orang yang me­lihat korban dan N di seki­tar tempat tinggal korban,” sebutnya.

Kompol Sihana memin­ta media, untuk bersabar menunggu hasil outopsi tersebut. “Kita akan buka kasus ini selebar-lebarnya. Tidak mungkin ditutupi-tutupi. Maka itu, media harus sabar,” pinta Wakapolres.

Baca Juga : KPHP Dharmasraya Usulkan Perluasan Wilayah Kerja Pengelolaan Hutan Sosial

Paur Humas Polres Pasaman Syamjianto yang ditanyai soal hubu­ngan Brigadir N dengan korban tak bisa bicara banyak. Hubungan kor­ban dengan brigadir N pun sampai saat ini masih abu-abu. Apakah ada hubungan bisnis antara mereka, hubungan teman, atau hubu­ngan spesial. “Hubu­ngan mereka berdua itu hanyalah tetanggaan, karena istri N juga perawat tugas di RSUD dan korban Dewi pun perawat,” terang Syamji.

Wakapolres Kompol Sihana pun menukukkan, bahwa pihak kepoli­sian belum sejauh itu mengeksplor pertanyaan terkait hubungan antara oknum N dengan korban. Sampai saat ini, mengenai hubungan mere­ka, antara brigadir N dengan korban masih teka-teki.

Baca Juga : 17 Kabupaten/Kota di Sumbar Jadi Prioritas Pemberian Vaksin Kedua

Dari Padang, Kabid Humas Polda Sumbar,  AKBP Syamsi menyebutkan anggota Propam Pol­da Sumbar sudah turun ke Simpang Rumbai, Kecamatan Rao, Kabu­paten Pasaman, Kamis (5/2).

“Anggota Propam Polda Sumbar hari ini (kemarin,red) menuju Pasaman untuk melakukan penye­lidikan atas kejadian tersebut,” kata Kabid Humas Polda Sumbar AKBP Syamsi kepada Haluan, kemarin.

Nantinya, kata Syamsi, hasil penyelidikan yang telah dikum­pulkan anggota Propam Polda Sumbar akan diserahkan ke pim­pinan Polda Sum­bar. Apakah ok­num N ini terkena pelanggaran atau tidak.  “Yang jelas, untuk penanga­nan tetap ditangani di Polres setem­pat,” jelasnya. Sedangkan untuk hasil otopsi, lanjutnya, hasilnya akan diketahui secara tertulis hari ini (Jumat) dan diserahkan ke Polres Pasaman.

Sementara oknum N yang diduga memakai mobil Avanza warna silver BA 123 SI, barang bukti kasus penangkapan kasus ganja kering seberat 16 kilogram guna menjemput korban ke rumahnya. Dibantah Kabid Humas Polda Sumbar AKBP Syamsi, saat ditemui di ruangannya, Jumat (5/2).

“Saya menghubungi Kapolres Pasaman untuk memastikan infor­masi tersebut, ternyata Kapolres membantah bahwa itu bukan mobil barang bukti narkoba,” ujarnya.

Menurut Kapolres Pasaman kepadanya, mobil yang dikendarai oknum N tersebut adalah milik anggota Sabhara Polres Pasaman. Dimana, oknum N menyewa atau merental kepada anggota itu.  “Kita tunggu aja hasilnya nanti. Sekarang sudah lima saksi yang telah diperiksa oleh Polres Pasaman,” ungkapnya.

Sumber Haluan menyebutkan, tim dari Polda Sumbar turun ke TKP di Bendungan Panti-Rao Am­pangga­dang Kecamatan Panti, Jumat (6/2) hari ini, untuk melakukan olah TKP.

Sementara itu, Koordinator Po­lice Watch Sumbar, Ilhamdi Taufik berpendapat Polri harus transparan menginformasikan pe­nye­bab kema­tian korban. Jika  tidak ada trans­paransi dalam pengusutan, hanya akan memperburuk citra kepolisian di tengah-tengah ma­syarakat.

“Wajar jika berbagai asumsi berkembang di tengah-tengah ma­sya­rakat. Untuk itu yang perlu dilakukan oleh kepolisian adalah melakukan pengusutan hingga tun­tas dengan cara yang transparan. Kalau ditutup-tutupi, lalu tiba-tiba diumumkan, kepercayaan masya­rakat luas kepada kepolisian akan semakin terdegradasi,” ucap Ilham­di yang juga pengajar di Fakultas Hukum Universitas Andalas.

Ilhamdi melanjutkan, jika me­mang oknum kepolisian yang diduga keluarga korban melakukan pem­bunuhan tidak melakukan apa-apa, maka pengusutan secara trans­paran akan sangat menguntungkan institusi karena berpotensi meningkatkan kepercayaan dari masyarakat.

Sementara itu, Pakar Hukum Pidana dari Universitas Eka Sakti (Unes) Adi Wibowo menyam­paikan, di mata hukum hal pertama yang harus dilakukan adalah me­ngum­pulkan segala jenis barang bukti yang ada di tempat kejadian. Sedangkan otopsi dilakukan untuk membantu proses penyelidikan. Kedua belah pihak seharusnya tidak berkomentar banyak sebelum semua hasil tersebut diketahui.

“Jika memang terjadi pem­bunu­han, maka proses hukum harus berlakum bagi siapapun. Jika bu­nuh diri, maka hasil penyelidikan harus diumumkan setelah melalui proses yang terbuka agar tidak terjadi simpang siur dugaan di tengah masyarakat,” jelas Adi. (h/tim/nas/mg-isq)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]