Buah Naga, Primadona yang Kini Diabaikan


Kamis, 05 Februari 2015 - 19:33:37 WIB
Buah Naga, Primadona yang Kini Diabaikan

Di sana, ia menyewa lahan penduduk yang ada di sekitar sana untuk ditanami bibit batang naga dengan me­manfaatkan tenaga pekerja lokal. Selang tidak berapa lama sekitar satu tahun setelah dita­nam batang naga­pun mulai tumbuh dan ber­buah. Karena buah nya yang unik dan punya ciri khas tersen­diri, maka pen­duduk sekitar­pun mulai ter­tarik untuk mem­­budidayakan buah naga ini.

Baca Juga : Kawasan 1000 Rumah Gadang Dilema antara Mimpi dan Kenyataan

Dari tahun ke tahun, bu­didaya buah naga di Padang Pariaman kian berkembang dan hasilnyapun cukup meng­giur­kan. Karena pemasaran yang tidak sulit dan  harganya bisa sekelas dengan buah kiwi, tentunya ini sangat meng­giurkan warga untuk mengem­bang­kan buah asal Amerika selatan ini.

Basri Malik salah seorang petani naga yang berdomisili di Nagari Ulakan kepada Haluan mengatakan ia mulai berkebun buah  naga sekitar pertengahan 2010. Pada masa itu perkembangan buah mata naga cukup mengembirakan.

Baca Juga : Registrasi Perkara Konstitusi

“Saya mulai tertarik berkebun buah naga karena mencontoh kesuk­sesan para petani yang ada di daerah ketaping. Dengan memanfaatkan pekarangan seluas satu hektar milik orang tua, saya memulai usaha itu memakai empat orang pekerja dari Jawa,” sebut Basri.

Pertama mulai Basri membeli bibit ke daerah Ketaping sebanyak 5600 batang dengan harga Rp10.000 perbatang, dengan jumlah tiang pe­nyangga sebanyak 1400 buah, biaya yang ia keluarkan waktu itu di luar upah pekerja berkisar Rp200 juta.

Baca Juga : Pembiasaan Karakter Pembelajaran Online Masa Pandemi Covid-19

“Setahun setelah tanam buah naga mulai panen, dengan masa panen setiap bulan sekitar 1,2 ton per bulan, harga perkilo waktu itu di tempat Rp20.000 pema­saran­nyapun cukup luas hingga ke Bukit Tinggi, Solok, Pekanbaru dan Kota Padang. Namun sayang masa kesuk­sesan ini kami nikmati hanya sekitar satu tahun. Di pertengahan tahun 2012, buah naga­pun mulai berku­rang dan batang­nyapun mulai me­nun­jukkan warna kekuning-kuni­ngan seperti kena penyakit,”papar Basri.

Semenjak itu Basri tidak fokus lagi dengan kebun buah naganya. Kendati tak lagi produktif, ia masih enggan mencabut buah naga peliha­raannya modal besar yang ditanam di awal, belum balik dari hasil panen selama satahun.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq Bagai Santan Berbalas Tuba

“Dari sisi ekonomi keluarga alhamdulillah tidak ada goncanagan karena kebun buah naga bukanlah sumber utama penghidupan. Hanya sekedar untuk melepaskan hobi saja yang memang dari masa sekolah dulu sudah sering berkebun juga. Untuk saat ini, saya fokus di peker­jaan sebagai PNS begitu juga dengan istri yang kebetulan satu profesi,” ungkap Basri Malik yang kini  menj­ab­at sebagai Camat Pariaman Selatan.

Namun ia juga berharap pada pe­merintah untuk mengatasi persoa­lan ini, karena sangat disayangkan  selama delapan tahun Padang Paria­man sebagai centra buah naga di Sumbar kini hanya tinggal kenangan saja.

Hanya saja, Dinas Pertanian Padang Pariaman, mengakui, bahwa buah naga tidak menjadi primadona lagi semenjak tahun 2011. Saat itu, hasil buah naga mulai mengalami penurunan karena penyakit kuning hingga sekarang.

“Batang buah naga ini terkena penyakit oleh suatu virus yang memang merupakan bawaaan/ gen dari awal. Untuk mengatasinya, dibutuhkan waktu untuk mene­mukan vaksin yang tepat,”sebut Kepala Dinas Pertanian Yurisman SP, MM pada Haluan. Ia juga menye­butkan, bahwa pada tahun 2013 Balai Penelitian Buah yang berala­mat di Aripan Solok telah mela­kukan uji sampling terhadap batang naga yang terkena penyakit. Namun hingga saat ini masih menunggu hasil dari pene­litian tersebut.

“Sebagai solusi Balai Penelitain buahpun, telah menguji coba bibit naga yang berasal dari Yogya yang telah ditanam di daerah Lubuk Alung pada tahun lalu, dan telah menghasilkan dengan kondisi yang masih sehat hingga saat ini,”tambah Yurisman.

Pada umumnya batang buah naga yang kena penyakit sekarang me­rupakan bibit dari Malaysia, yang mana di negara asalpun kondisinya sama-sama terkena penyakit. Kini para pedagang buah naga menerima pasokan hanya dari daerah Pasaman, Solok, dan Bukit tinggi.

“Hingga saat ini belum dite­mukan vaksin yang mampu men­gobati penyakit batang naga ini. Untuk solusinya, petani diharapkan memusnahkan batang naga mereka secara keseluruhan, tapi belum berjalan maksimal,” aku Yurisman.

Hingga saat ini di Padang Paria­man memiliki sekitar 46 hektar kebun naga keseluruhan, daerah Batang Anai merupakan yang paling luas mencapai 12 ha, dengan jumlah total petani sebanyak 23 orang. (*)

 

Laporan: WARMAN

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 21 Januari 2021 - 21:41:45 WIB

    Kawasan 1000 Rumah Gadang Dilema antara Mimpi dan Kenyataan

    Kawasan 1000 Rumah Gadang Dilema antara Mimpi dan Kenyataan Sebentar lagi akan selesai pekerjaan revitalisasi 33 Rumah Gadang dan penataan lingkungan beserta pembangunan Menara Pandang berikut Pentas Budaya beserta bangunan los etalase souvenir di Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Pa.
  • Selasa, 19 Januari 2021 - 16:43:09 WIB

    Registrasi Perkara Konstitusi

    Registrasi Perkara Konstitusi Ada yang bersorak riang. Begitu membaca berita di media tentang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar. Seolah-olah Pemohon/Penggugat PHPU sudah menang di Mahkamah Konstitusi (MK). Yang me.
  • Senin, 11 Januari 2021 - 21:54:30 WIB

    Pembiasaan Karakter Pembelajaran Online Masa Pandemi Covid-19

    Pembiasaan Karakter Pembelajaran Online Masa Pandemi Covid-19 Sejak ditetapkannya masa Pandemi akibat serangan ganas Covid-19 maka seluruh aspek aktivitas manusia mengalami perubahan, sebagai dampak dari pemberlakuan Lock Down atau PSBB yang terus berlanjut sampat sekarang. Mulai dari k.
  • Senin, 04 Januari 2021 - 13:07:17 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq Bagai Santan Berbalas Tuba

    Prabowo dan Habib Rizieq Bagai Santan Berbalas Tuba HARIANHALUAN.COM - Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Rabu, 30 Desember 2020 - 17:58:00 WIB

    Catatan Akhir Tahun (3): RAKYAT TAK MINTA BERLEBIHAN

    Catatan Akhir Tahun (3): RAKYAT TAK MINTA BERLEBIHAN Sebenarnya rakyat dalam kondisi sulit seperti sekarang ini tidaklah meminta yang muluk-muluk atau berlebihan kepada pemerintah. Rakyat tampaknya hanya mengiginkan, agar di tahun 2021 nanti pemerintah menciptakan situasi bangs.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]