Ikan Mati Tebar Aroma Busuk di Danau Singkarak


Kamis, 12 Februari 2015 - 20:00:04 WIB
Ikan Mati Tebar Aroma Busuk di Danau Singkarak

“Seperti ikan nila yang biasa dijual Rp 24 ribu per­kilo, hanya dihargai Rp 8 ribu hingga 11 ribu perkilo.”ungkap Okta­vianus, salah seorang pemilik ke­ram­ba apung di nagari Saniang Ba­kar, kepada Haluan Kamis, (12/2).

Baca Juga : Positif Covid-19 di Sumbar Mencapai 26.610 Kasus

Pihaknya menyebutkan, sebe­lum mati ikan  keramba apung miliknya bermunculan di permu­kaan air dan berputar-putar seperti mabuk. Selang beberapa jam kemu­dian, satu persatu ikan-ikan itu mengambang dalam kondisi mati

Oktavianus memperkirakan hal ini dipicu akibat pengaruh belerang gunung merapi yang mengakibatkan air danau singkarak tercemar. “Kecu­rigaan itu karena kondisi fisik air yang berbeda dari biasanya,” ujarnya.

Baca Juga : Angka Kesembuhan Covid-19 di Sumbar Mencapai 92,09 %

Terkait itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Solok M Saleh menye­butkan, terkait matinya ikan keram­ba apung milik petani nelayan di Danau Singkarak, pihaknya telah sudah mendapat informasinya dari masyarakat setempat. Terhadap itu, M. Saleh telah meminta jajaran dinas terkait untuk segera turun ke lokasi.

M Saleh memperkirakan ada dua penyebabnya, yakni karena balerang dan karena  perubahan cuaca. ”Ke­tika kemarau, pakan ikan yang mengandung zat tertentu banyak mengendap di bawah. Dan ketika turun hujan, endapan itu naik sehing­ga membuat hewan di air menjadi mabuk,” bebernya

Baca Juga : Ketua DW IV Jurai Kabupaten Pessel Terima Penghargaan Sebagai Penggita Literasi

Sementara itu menurut Wakil Ketua DPRD Kabupaten Solok Setrismen,  berharap kepada dinas terkait agar segera memberikan tindakan antisipatif. Apalagi peristi­wa ini terjadi setiap tahun.  ” Seharusnya bisa diantisipasi jangan sampai terus terjadi, sehingga mem­buat petani ikan merugi,” kata Septrismen via ponselnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, Yosmeri yang dihubungi di Padang juga mem­prediksi matinya puluhan ton ikan di Danau Singkarak disebabkan oleh belarang. Munculnya belerang dari dasar danau, disebabkan oleh gempa tektonik yang terjadi di lempengan bumi di bawah danau.

Baca Juga : Bupati Pessel Minta Masyarakat Gunakan Produk Lokal Karya UMKM

“Kabarnya 4 hari sebelum ikan mati di Singkarak, terjadi gempa. Hal ini memang tidak bisa diatasi. Namun, untuk meminimalisir keru­gian, masyarakat harus memahami tanda-tanda alam ini,” ujarnya saat dihubungi Haluan, Kamis (12/2).

Walau pun belerang sering mun­cul di Danau Singkarak, kata Yos­meri, tidak akan mematikan ikan yang hidup liar, karena ikan bisa berpindah tempat menghindari belarang dan mencari oksigen. Namun, karena terdapat di dalam keramba, ikan tak bisa keluar meng­hindari belerang sehingga menye­babkan kematian.

Pakar perikanan dari Universitas Bung Hatta (UBH), Hafrijal Sandri juga punya pendapat senada. Ia me­ngatakan, secara alami, muncul­nya belerang di Danau Singkarak sekali 5 tahun karena danau itu berada di kawasan rentan gempa tektonik.

Hal itu diperparah dengan diku­rungnya ikan dalam keramba dengan kepadatan tinggi, sehingga menye­babkan oksigen berkurang dan ikan tak bisa lari menghindari belerang untuk mencari daerah yang ber­oksigen banyak.

Namun, Kepala Badan Pengen­dalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Sumatera Barat (Sum­bar), Asrizal Asnan, berpendapat berbeda. Kematian ikan di Danau Singkarak karena belerang menu­rutnya perlu ditinjau lebih dalam. Menurutnya, kemungkinan itu ada. Namun, yang pasti, kematian terse­but disebabkan oleh predator berna­ma Gami.

Karena terdapat predator Gami, kata Asrizal, ikan keramba tak cocok dikembangkan di Singkarak, bila dipandang dari segi habitat. Habitat ikan yang cocok di sana adalah ikan bilih yang tidak dimakan oleh preda­tor karena Danau Singkarak adalah habitat asli ikan bilih. (h/ndi/dib)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 28 Januari 2021 - 08:50:25 WIB

    Positif Covid-19 di Sumbar Mencapai 26.610 Kasus

    Positif Covid-19 di Sumbar Mencapai 26.610 Kasus Berdasarkan data yang dirilis Pemprov Sumbar pada Rabu (27/1/2021) terdapat 103 orang pasien terkonfirmasi positif. Sehingga total pasien yang terinfeksi mencapai 26.610 orang..
  • Kamis, 28 Januari 2021 - 08:47:11 WIB

    Angka Kesembuhan Covid-19 di Sumbar Mencapai 92,09 %

    Angka Kesembuhan Covid-19 di Sumbar Mencapai 92,09 % Berdasarkan data yang dirilis Pemprov Sumbar pada Rabu (27/1/2021) terjadi penambahan pasien yang terkonfirmasi sembuh. Penambahan pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 148 orang..
  • Kamis, 28 Januari 2021 - 08:41:07 WIB

    Ketua DW IV Jurai Kabupaten Pessel Terima Penghargaan Sebagai Penggita Literasi

    Ketua DW IV Jurai Kabupaten Pessel Terima Penghargaan Sebagai Penggita Literasi Marhamah Betriadi menerima penghargaan sebagai Ketua Darmawanita IV Jurai Kabupaten Pessel sebagai Penggiat Literasi, dari Kepala Kantor Kementerian Agama. Berawal dari hobi membaca dan belajar menulis, serta ketertarikan den.
  • Kamis, 28 Januari 2021 - 08:39:59 WIB

    Bupati Pessel Minta Masyarakat Gunakan Produk Lokal Karya UMKM

    Bupati Pessel Minta Masyarakat Gunakan Produk Lokal Karya UMKM Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni meminta masyarakat untuk menggunakan produk lokal karya UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) sendiri. Karena dengan menggunakan produk lokal dalam keseharian akan turut mendukung pertumbuha.
  • Rabu, 27 Januari 2021 - 23:57:59 WIB

    Dirjen PPKL KLHK Tawarkan Empat Pendekatan Atasi Banjir Kalsel

    Dirjen PPKL KLHK Tawarkan Empat Pendekatan Atasi Banjir Kalsel Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), M.R. Karliansyah menawarkan empat pendekatan penanganan dan upaya pemulihan lingkungan di Kalimantan Selatan ke.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]