Cokelat Valentine Berhadiah Kondom


Jumat, 13 Februari 2015 - 20:02:24 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Tak kurang, dua wali­kota, yakni Mahyeldi An­sharullah (Padang) dan Riza Falepi (Payakumbuh) me­nang­kap sinyalemen ter­sebut. Keduanya mendapat sinyalemen bahwa hadiah valentine disisipi kondom. Karenanya, kedua walikota itu tegas-tegas me­larang perayaan valen­tine di kota yang mereka pimpin.

Guna mendukung kepu­tusan walikota-nya, Satpol PP Padang menggelar razia di sejumlah tempat hiburan sejak Jumat (13/2) tengah malam hingga Sabtu (14/2) dinihari. Satpol PP Kota Padang sendiri melakukan razia terhadap pasangan yang merayakan valentine dengan tidak wajar. Hal ini seperti diungkapkan oleh Kepala Bidang Ketertiban Umum Ketentraman Ma­syarakat Satpol PP Kota Padang Fajar Sukma Jumat (14/2). “Kita saat ini sedang melakukan razia saat ini (malam ini),”ujar  Fajar Sukma kemarin malam yang sedang melakukan razia di kawasan Nipah Pondok.

Lalu, hasil penelusuran Haluan di beberapa toko obat di Tarandam terungkap penjualan kondom di kawa­san tersebut memang me­nga­lami peningkatan. Saat Haluan coba membelinya, sang penjual yang minta namanya tak disebutkan, mengaku penjualannya me­ning­kat, tapi tak signifikan.

Seorang mahasiswi PTN di Padang, sebut saja na­manya Ria, memang menda­pat informasi hadiah co­kelat ber­hadiah kondom. “Itu didapat dari pembelian on­line. Jadi kita pesan co­kelat valentine, maka kon­domnya akan disisipi dalam bung­kusannya,”kata Ria lagi.

Saat ditanya kemana saja mereka menghabiskan wak­tu merayakan iven tahunan ini, Ria mengaku dari cerita teman-temannya, pasangan muda mudi itu meng­habis­kan waktu di tempat wisata, seperti Pantai Padang, Bukit Lampu hingga lokasi ter­anyar, Bukit Nobita di Lu­buk Begalung.

Sinyalemen lain yang tak kalah memprihatinkan adalah, ada­nya sebagian pasangan remaja, khu­susnya remaja putri yang menja­dikan ajang ini sebagai ajang lepas pera­wan. “Iya, saya sempat men­dengar­nya,”sebut Ria yang wanti-wanti minta namanya tak disebutkan.

Soal himbauan, tokoh masya­rakat di Sumbar kerap bersuara. Sebut saja Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau kepa­da muda mudi agar tidak ikut-ikutan meraya­kan valentine’s day. “Jangan pernah meniru apalagi mengikuti perayaan seperti ini. ini bukan kultur kita karena secara agama, budaya dan negara tidak sesuai,”  ujar Ketua MUI Sumbar Syamsul Bahri Khatib dihu­bungi Haluan Jumat 913/2) kemarin.

Syamsul Bahri Chatib juga ber­ka­ta, semua pihak harus memahami, ada tiga budaya di tengah ma­sya­rakat, yakni budaya agama, budaya daerah dan budaya nasional. Hari valentine tidak termasuk salah satu di antara tiga budaya itu dan tidak mendatangkan keuntungan bagi masyarakat Sumbar.

Ketua LKAAM Sumbar Datuk Sayuti juga berpendapat serupa.  Selain tidak sesuai dengan agama mayoritas di provinsi ini,  katanya, perayaan hari kasih sayang tersebut juga tidak cocok dengan budaya Minangkabau. Ketua LKAAM Sum­bar, Sayuti mengatakan, dunia sudah kecil dengan pesatnya perkem­bangan teknologi. Dalam dunia yang kecil itu, terdapat rumpun-rumpun budaya dalam era neoliberal seperti sekarang ini, yang bergerak secara genetik dan saling mempengaruhi.

Sayuti berpandangan, muda-mudi yang merayakan hari valentine tidak mendapatkan ruang untuk bersenang-senang merayakan buda­ya daerah mereka.

“Siapa pun pemimpin di Sumbar, harus bisa memberikan ruang-ruang bagi pemuda-pemudi untuk mera­yakan kebudayaan Minangkabau. Pemerintah provinsi harusnya bisa menganggarkan dana APBD untuk mengadakan lomba-lomba bertema kebudayaan Minangkabau, yang pesertanya merupakan muda-mudi. Dengan begitu, akan berkurang muda-mudi yang merayakan hari valentine karena mengikuti valen­tine, sebab sebagai peserta, mereka juga mengajak teman-teman mereka untuk berpartisipasi,” ujarnya. (h/dib/mat/mg-isr/mg-fds/mg-san)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM