Jeritan Warga dari Tengah Rimba


Senin, 16 Februari 2015 - 20:11:12 WIB
Jeritan Warga dari Tengah Rimba

Semenjak setahun terakhir, seti­dak­nya telah ada sekitar 10 KK yang kembali pulang. Mereka, merambah kembali lahan yang telah jadi hutan untuk selanjutnya bercocok tanam. Tanam tua yang mereka tinggalkan puluhan tahun lalu sudah menunggu sebagai modal awal untuk meng­hidupkan kampung mati. Meski belum terstruktur, sebagai sebuah kampung, keberadaan mereka yang pulang “kampung” setelah gagal meraih sukses di Sindang dan sejum­lah tempat lainnya patut kembali diperhatikan pemerintah. Mereka hidup dalam dalam segala keter­batasan dan kekurangan, yang mere­ka punya adalah sebuah semangat untuk menata hidup di kampung halaman.

Baca Juga : Kawasan 1000 Rumah Gadang Dilema antara Mimpi dan Kenyataan

Indra Satri (45) adalah salah satu Kepala Keluarga yang mencoba untuk menata hidup di Kampung Bukit Gandum. Ia dan istrinya Suhartati beserta anak-anaknya tinggal di sebuah pondok di pinggang Bukit Gandum. Keduanya merasa­kan betapa berat memulai kehi­dupan di kampung dengan fasilitas serba terbatas. Tidak ada sekolah, tidak ada bidan desa dan tidak ada sarana hiburan. Hidup mereka benar-benar diserahkan pada tuhan dan belai kasih alam.

Menurutnya, ia harus berjalan kaki empat jam untuk bisa sampai ke pusat nagari Muara Air. Se­tiap hari Rabu ia turun ke pusat nagari untuk memenuhi berbagai keperluan hidup. Perjalanan pan­jang dan sangat berat sesungguhnya, apalagi saat turun ia harus memang­gul puluhan kilo kulit manis atau hasil perkebunan dan pertanian lain­nya. Selama di perjalanan ia ber­gantian mengangkut hasil pertanian.

Baca Juga : Registrasi Perkara Konstitusi

Di Pasar Muara Air, touke dan pedagang pengepul lainnya sudah menunggu orang - orang seperti Indra Satri. Indra Satri tidak akan pernah menawarkan berapa hasil pertaniannya akan dijual. “Saya serahkan saja kepada para touke di pasar. Bila harga tinggi menurutnya, ya tinggilah saya jual, bila rendah yang rendah,” katanya.

Tidak punya posisi tawar mem­buat Indra Satri tidak dapat meraup keuntungan dari apa yang telah diusahakannya di Bukit Gandum. Namun bagi Indra Satri, hasil ladang dan kebunnya itu dapat membeli beras, cabai, gula dan kopi, setelah itu ia akan kembali pulang dengan barang bawaan disandang dengan kantong terbuat dari karung.

Baca Juga : Pembiasaan Karakter Pembelajaran Online Masa Pandemi Covid-19

Untuk bisa pulang, Indra Satri dan istrinya kembali menjejal me­dan berat. Jika untuk turun gunung ia menghabiskan waktu empat jam, maka untuk kembali pulang paling tidak ia menghabiskan waktu sekitar 6 jam. Berat dan melelahkan.

Dengan terbukanya akses Bayang - Alahan Panjang ia berharap, peme­rintah bersegera menuntaskan jalan. Bila jalan ini tuntas, tidak hanya Indra Satri, seluruh warga Bukit Gandum yang ada di luar akan kembali pulang untuk menghi­dupkan kampung.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq Bagai Santan Berbalas Tuba

Terkait dengan itu Bupati Pessel Nasrul Abit menyebutkan, ruas jalan Alahan Panjang-Pasar Baru yang mele­wati kawasan hutan konservasi ini mulai dikerjakan tahun 2011 lalu memanfaatkan dana APBD Sumbar 2011. Pekerjaan jalan ini mulai pada bagian jalan yang tidak termasuk kawasan hutan. Sebab rekomendasi izin peman­faatan kawasan hutan untuk pem­bangunan jalan alternatif Alahan Panjang-Pasar Baru itu baru diperoleh setahun kemudian.

Pembangunan jalur alter­natif yang sangat didambakan masyarakat kedua daerah ini, diperkirakan menghabiskan dana sebesar Rp100 miliar yang dialokasikan pada tahun jamak. Pada 2011, APBD Sumbar mengalokasikan dana sebesar Rp5,1 miliar untuk pekerjaan pembukaan trase jalan dan pembentukan grade (kelandaian ideal jalan) sepan­jang 6 km. Kontrak kerjanya dijadwalkan selesai awal 2012.

Pada jalur ini nantinya juga akan dipasang rambu-rambu khusus yang mengingatkan masyarakat, dianta­ranya dila­rang adanya pemukiman pen­duduk di sekitar kawasan hutan lindung, aktifitas perdagangan seper­ti warung atau rumah makan, dan ketentuan khusus lainnya.

Disebutkannya, tidak ada lara­ngan bagi warga untuk tinggal di kampung tersebut sepanjang tidak mengganggu hutan yang masuk kawasan hutan lindung.

Di ruas yang sedang di­bangun itu, potensi besar yang menunggu adalah segitiga pariwisata Sumbar, yakni Bukittinggi, Danau Kembar, dan Pesisir Selatan dengan Titia­nakar, Air Terjun Bayang Sani, terus Kawasan Mandeh Tarusan. Pesisir Selatan akan terlepas dari kun­kungan jalan tunggal Lintas Barat yang menjemukan. Terlepas dari soal pariwisata, maka jalur ini adalah jalur penting bagi bergeraknya per­ekonomian, suplai barang dari luar dan ke Pesisir Selatan akan lebih mudah dan berbiaya murah. “Se­buah mimpi besar itu telah didepan mata,” kata Nasrul Abit. (Habis*)

 

Laporan: HARIDMAN KAMBANG

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 21 Januari 2021 - 21:41:45 WIB

    Kawasan 1000 Rumah Gadang Dilema antara Mimpi dan Kenyataan

    Kawasan 1000 Rumah Gadang Dilema antara Mimpi dan Kenyataan Sebentar lagi akan selesai pekerjaan revitalisasi 33 Rumah Gadang dan penataan lingkungan beserta pembangunan Menara Pandang berikut Pentas Budaya beserta bangunan los etalase souvenir di Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Pa.
  • Selasa, 19 Januari 2021 - 16:43:09 WIB

    Registrasi Perkara Konstitusi

    Registrasi Perkara Konstitusi Ada yang bersorak riang. Begitu membaca berita di media tentang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar. Seolah-olah Pemohon/Penggugat PHPU sudah menang di Mahkamah Konstitusi (MK). Yang me.
  • Senin, 11 Januari 2021 - 21:54:30 WIB

    Pembiasaan Karakter Pembelajaran Online Masa Pandemi Covid-19

    Pembiasaan Karakter Pembelajaran Online Masa Pandemi Covid-19 Sejak ditetapkannya masa Pandemi akibat serangan ganas Covid-19 maka seluruh aspek aktivitas manusia mengalami perubahan, sebagai dampak dari pemberlakuan Lock Down atau PSBB yang terus berlanjut sampat sekarang. Mulai dari k.
  • Senin, 04 Januari 2021 - 13:07:17 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq Bagai Santan Berbalas Tuba

    Prabowo dan Habib Rizieq Bagai Santan Berbalas Tuba HARIANHALUAN.COM - Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Rabu, 30 Desember 2020 - 17:58:00 WIB

    Catatan Akhir Tahun (3): RAKYAT TAK MINTA BERLEBIHAN

    Catatan Akhir Tahun (3): RAKYAT TAK MINTA BERLEBIHAN Sebenarnya rakyat dalam kondisi sulit seperti sekarang ini tidaklah meminta yang muluk-muluk atau berlebihan kepada pemerintah. Rakyat tampaknya hanya mengiginkan, agar di tahun 2021 nanti pemerintah menciptakan situasi bangs.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]