Mengajarkan Kejujuran Pada Anak


Kamis, 19 Februari 2015 - 18:38:20 WIB
Mengajarkan Kejujuran Pada Anak

“Jujur” atau “berbohong” tidak berarti baginya. Kedua konsep itu sangat sukar untuk dimengerti oleh anak umur ini. Menurut American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, sampai mereka berusia 7 atau 8 tahun, anak-anak tidak mengerti bahwa berbohong itu upaya nyata untuk memperdaya seseorang.

Batita adalah pengkhayal. Anak umur 2 dan 3 tahun hidup dalam dunia imajinasi, dan fantasi mereka tampak sangat hidup dan nyata –sehingga mereka sangat mempercayainya. Se­orang anak yang terobsesi dengan anjing, mengatakan kepada seseorang di tempat penitipan anak bahwa dia mempunyai seekor anak anjing, pa­dahal tidak benar. Dia betul-betul menyakinkan dirinya sendiri bahwa itu benar adanya.

Mereka menyenangkan hati orang. Ya, batita berbohong untuk menghindari hukuman, tapi mereka melakukan itu juga karena khawatir tentang apa yang akan Anda rasakan (“Mama bahagia jika saya baik - apakah mama akan kurang mencintaiku kalau mendapatiku berbuat hal yang tidak baik?”). Dalam kasus Jack yang membantah mencoret rumah boneka milik kakaknya, “Saya sangat yakin kalau dia berbohong karena tidak suka kakak perempuannya marah padanya –dan dia memang marah!” kata ibunya, Rachel.

Berkata Jujur

Untungnya, ada beberapa cara untuk mendapatkan jawaban jujur di luar imajinasi batita Anda. Cara ini dapat mendorongnya untuk lebih berterus terang di masa mendatang.

Jangan bertindak berlebihan.

Menghukum anak seumur ini karena berbohong tidak akan meno­long apapun, kerena mereka tidak menyadari kalau telah melakukan hal yang salah, kata Betsy Brown Braun, penulis buku Just Tell Me What You Say: Sensible Tips and Scripts for Perlexed Parents. Kalau Anda bersikap terlalu keras, anak Anda mungkin akan takut mengakui kesalahannya di masa mendatang. Lebih baik biarkan dia mengakui dirinya tidak memecahkan mainan kakaknya, padahal dialah yang secara jelas melakukannya. Kemudian berbicaralah kepadanya betapa pen­ting­nya menghormati barang milik orang lain.

Jangan bertanya kalau Anda sudah tahu jawabannya.

Bertanya, “Siapa yang menumpah­kan jus ini?” ketika anak Anda adalah pelakunya hanya akan menempat­kannya pada posisi untuk berbohong. Tapi susunlah pertanyaan dengan tenang, cara ingin tahu (seperti:  “O, ada jus tumpah di atas meja, siapa yang akan membantuku membersih­kan­nya?”) akan membuat anak lebih mu­dah berterus terang dan mengakui perbuatannya.

Jelaskan mengapa kejujuran itu penting

Meskipun anak Anda tidak bisa menerangkan perbedaan antara kebe­naran dan kebohongan, tidak berarti Anda mengabaikan kebohongan yang diucapkannya suatu ketika.

Jika batita Anda tidak mengakui telah menyentuh tempat kue, padahal ada sisa kue dibibirnya, misalnya, jelaskan padanya bahwa Anda lebih peduli dengan jawaban jujur daripada mem­persoalkan kue yang hilang.

Bicarakan perbedaan fantasi dengan kenyataan

Anda tentu tidak ingin mema­damkan imajinasi anak, khususnya sejak anak Anda sering menggunakan cerita-cerita aneh untuk mengatasi kekhawatiran dan ketakutan. Tapi kalau batita tetap bersikeras me­ngatakan seekor singa yang bertang­gung jawab membuat robek celanan barunya, tunjukkan padanya nada skeptis Anda, “Cerita yang luar biasa! Pasti sangat menakutkan. Saya belum pernah melihat seekor singa pun dalam lingkungan kita. Apa kamu yakin itu yang terjadi?”

Pujilah anak karena telah jujur.

Ketika anak datang kepada Anda dengan pengakuan – misalnya, telah menonton televisi yang seharusnya tidak boleh di lakukan -  puji keju­juran­nya sebelum mengingatkan bata­san waktu menonton. Ketika batita Anda menyadari pentingnya kejujuran (dan merasa aman mengakui kesa­lahannya), dia akan terbiasa mengata­kan kebenaran. (h/prt)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]