Azwar: Tantangan Gubernur Baru Makin Berat


Jumat, 20 Februari 2015 - 20:42:58 WIB

Gubernur Sumbar tahun 1977-1987  ini menyatakan, sistem demokrasi langsung melalui pemilihan umum, telah menimbulkan politik transaksional. Sehingga akan sulit terjadinya harmonisasi antara gubernur dengan rakyatnya serta pemimpin-pemimpin lainnya.

Selain itu, katanya saat ini oto­nomi daerah juga kebablasan. Hal itu dapat dilihat dalam koordinasi antara gubernur dengan bupati/walikotanya yang kian lemah. Sejak adanya otonomi daerah bupati dan walikota merasa berkuasa penuh dengan daerah kekuasaanya.

“Kalau dulu gubernur bisa me­me­cat bupati/walikota.  Kalau se­karang bupati/walikota banyak yang tidak menghadiri rapat dengan gubernur” terang mantan men­kokesra tahun 1993-1998 ini.

Kendati demikian, mantan Men­teri Perhubungan tahun 1988-1993 ini tetap optimis dengan pemilihan gubernur yang akan dihelat serentak pada Desember 2015. Sumbar ha­rus memiliki kriteria mumpuni terhadap situasi kondisi perpolitikan di era pasca reformasi. Dimana gubenur ke depan harus mempunyai sifat kenegarawaannya dalam me­nyikapi tantangan tersebut.

“Gubernur ke depan tidak hanya sebagai pemimpin saja, karena setiap orang bisa menjadi pemimpin. Apalagi saat sekarang ini semua bisa jadi pemimpin politik, tapi tidak bersikap negarawan dalam setiap langkah, kebijakan dan kepu­tu­sannya,”tambahnya.

Adapun kriteria calon gubernur yang memimpin lima tahun ke depan papar Azwar adalah,

Pertama, Shiddiq, dia adalah orang yang jujur, jangan sampai terjerat kasus korupsi seperti guber­nur provinsi lainnya. Track record mereka harus dijadikan patokan. Kepemimpinannya harus teruji mampu memberikan prestasi de­ngan nilai-nilai adat basandi syara’ syara’ basandi kitabbullah.

Kedua, Tabligh, adalah orang yang jago komunikasi politik baik untuk daerah Sumbar maupun ke pusat. Artinya, gubernur itu me­miliki jaringan yang kuat antara daerah dan di pusat, sehingga ren­cana strategis pembangunan Sumbar menjadi lancar.

“Jangan sampai mengandalkan hanya jaringan partai saja. Karena banyak orang yang memberikan perhatian lebih kepada Sumbar. Seperti orang di rantau, sering kurang terjalin komunikasi dengan mereka.  Padahal mereka dapat diberdayakan untuk pembangunan,” ulasnya.

Ketiga Fathanah. Dia adalah orang yang cerdas melihat persoalan-persoalan di Sumbar. Saat ini kon­disi pembangunan Sumbar terlihat lamban. Dia harus kreatif dan inova­tif melihat peluang-peluang untuk kemajuan Sumbar ke depannya.

“Jangan bersikap hari ini sama saja atau lebih buruk dari yang sebelumnya. Jika itu terjadi, arti itu merugi. Mereka yang jadi pemimpin harus membuat terobosan,” ung­kapnya.

Keempat, Amanah. Menurut Azwar sosoknya adalah tidak me­mentingkan kepentingan pribadi dan golongan namun lebih memen­tingkan kepentingan rakyat. Jangan sampai amanah yang diberikan disalahgunakan tidak untuk kepen­tingan rakyat Sumbar. (h/lex)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]