Mendukung Hukuman Mati Bagi Pelaku Narkoba


Ahad, 22 Februari 2015 - 18:54:20 WIB
Mendukung Hukuman Mati Bagi Pelaku Narkoba

Sebelumnya ennam gembong narkoba dihukum mati oleh Pemerintah RI, Minggu (18/1), terdiri dari 1 Warga Negara Indonesia (WNI) dan 5 Warga Negara Asing (WNA). Jantung enam orang tersebut ditembus timah panas regu tembak, sehingga mereka menghembuskan nafas yang terakhir. Lima dieksekusi di Nusa Kambangan dan satu di Boyolali.

Baca Juga : Polisi Ungkap Prostitusi Online, Mucikari Patok Tarif Minimal Rp5 Juta untuk ABG

Para narapidana kasus narkoba kelas kakap yang dieksekusi mati itu terdiri dari Ang Kiem Soei alias Kim Ho alias Ance Tahir alias Tommi Wijaya warga negara Belanda, Marco Archer Cardoso Moreira (Brasil), Namaona Denis (Malawi), Daniel Enemuo alias Diarrassouba Mamadou (Nigeria), dan Rani Andriani alias Melisa Aprilia (WNI). Sedangkan satu terpidana yang dieksekusi di Boyolali yaitu Tran Thi Bich Hanh (WN Vietnam).

Eksekusi mati itu merupakan bukti tegas Indonesia serius perang terhadap penyalahgunaan narkoba di tanah air. Masih terdapat 64 gembong narkoba lainnya yang menunggu dieksekusi mati. Hukuman eksekusi mati tersebut sesuai dengan aturan hukum dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Selain sebagai bukti nyata perang terhadap narkoba, eksekusi mati itu juga merupakan bagian dari penegakkan wibawa hukum dan harga diri negara Indonesia di dunia internasional.

Baca Juga : Sasar Keluarga Muda, Presiden Minta BKKBN Gunakan Metode Komunikasi Kekinian

Meskipun dua negara sangat reaktif atas eksekusi mati yang dikenakan terhadap dua warga negaranya dengan langsung menarik dua besarnya masing-masing, namun pemerintah Indonesia tidak bergeming, karena Indonesia dalam hal ini hanya melaksanakan aturan hukum yang berlaku di negara merdeka Indonesia.

Generasi muda Ranah Minangkabau, Sumatera Barat juga mesti meningkatkan kewaspadaannya terhadap kejahatan jaringan narkoba internasional dan nasional. Tidak tertutup kemungkinan daaerah yang dikenal dengan filosofi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (ABSBK), ternyata tidak terlepas dari sasaran sindikat perdagangan narkoba internasional. Setidaknya hal itu ditandai dengan dua kali penangkapan kurir sabu-sabu dalam jumlah besar di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Dalam dua kejadian, pelaku datang dari Kualalumpur, Malaysia menumpang pesawat Air Asia.

Baca Juga : Kementerian LHK Dukung EBT Panas Bumi, Termasuk di Sumbar

Kasus penyelundupan sabu-sabu melalui BIM yang terbaru, terjadi pada Sabtu (22/11/2014) dengan jumlah sabu-sabu 2,712 kg. Diperkirakan sabu-sabu dengan kualitas satu tersebut nilainya mencapai Rp5,4 miliar. Pelakunya Kawada Masaru (73), berkewarganegaraan Jepang. Penangkapan dan pengungkapan kasus ini dilakukan oleh petugas Bea dan Cukai (BC) BIM.

Begitu dilakukan penggeledahan, akhirnya terbongkar  bahwa benda yang dibungkus dengan alumunium foil di tas ransel pelaku isinya sabu-sabu. Petugas pun langsung mengamankan pelaku dan barang bukti sabu-sabu. Setelah melalui serangkaian proses, pelaku pun diserahkan BC BIM ke jajaran Direskrim Polda Sumbar.  Barang bakti sabu-sabu seberat 2,712 kg tersebut menurut Direktur Ditresnarkoba Polda Sumbar Kombes Pol Alam Syah Marzoeki dapat merusak 19.000 orang masyarakat Sumbar.

Baca Juga : Berkunjung ke PBNU, Jenderal Listyo Sigit akan Libatkan Ulama dan Umara untuk Jaga Kamtibmas

Pada 26 Mei 2013 lalu juga terjadi penangkapan kurir sabu-sabu jaringan internasional di BIM. Pelakunya, Jeni Restiawati (30) tahun, pekerjaan swasta dan beralamat Bojong Poncol, Tanggerang, Provinsi Banten. Sama dengan kasus penangkapan Sabtu lalu, Jeni Restiawati juga membawa barang haram berharga super mahal tersebut dari Kuala­lumpur, Malaysia dengan penerbangan pesawat Air Asia.

Penyelundupan sabu-sabu melalui BIM yang terungkap  baru dua kali, yakni 26 Mei 2013 dengan barang bukti 2,8 kg dan pada Sabtu 22 November 2014 dengan barang bukti sebanyak 2,712 kg sabu-sabu. Namun bisa jadi praktik penyelundupan itu sudah berlangsung berkali-kali dengan bermacam-macam modus. Dari kasus ini, juga perlu evaluasi, ternyata penerbangan internasional berisiko tinggi, berupa maraknya penyelundupan barang-barang terlarang dari luar negeri.  **

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]