Kampung di Zona Khusus TNKS


Ahad, 22 Februari 2015 - 19:04:42 WIB
Kampung di Zona Khusus TNKS

Warga di zona khusus telah terbiasa hidup dengan aturan TNKS, senantiasa mereka men­jaga hutan dan isinya agar tidak ru­sak. Zona khusus Tatanggo Sa­ribulan berada di dalam tapal ba­tas hingga sekitar sepuluh kilo­meter menuju zona rimba. Ada permukiman, sawah dan ladang sebagai sumber ekonomi warga.

Baca Juga : Registrasi Perkara Konstitusi

Walinagari Kambang Timur Sondri Minggu (22/2) menye­butkan, di Tatanggo Saribulan terdapat sekitar 120 jiwa dengan mata penca­harian bersawah dan ladang. Namun mereka yang tinggal di zona khusus TNKS ini tidak ditunjang dengan fasilitas prasarana dasar memadai misalnya jalan, jembatan dan lain-lain.

Pantauan Haluan, posisi Tatang­go Saribulan tepat di sisi timur Nagari Kambang dan sebagiannya hampir di pinggang Bukit Barisan. Perempuan perempuan “perkasa”, laki-laki penuh dedikasi menjadi penggerak perekonomian di kam­pung ini. Sebagian remaja serta anak-anak penuh harapan masih berjuang di bawah lampu “togok” untuk memperbaiki masa depan. Sudahlah akses transportasi sulit, terkungkung TNKS pula.

Baca Juga : Pembiasaan Karakter Pembelajaran Online Masa Pandemi Covid-19

Jamalus (27) warga setempat menyebutkan, jalan buruk dari arah Kapalo Koto Pulai menuju kawasan sawah dan rumah penduduk di Tatanggo Saribulan tidak pernah berkesudahan. Jalan sulit dilewati kendaraan, menanjak tidak berjem­batan pula. Panjang jalan yang mem­prihatinkan tidak kurang dari  tujuh km, tepatnya selepas gerbang TNKS.

Di dalam kampug rumah-rumah sederhana menghiasinya, umumnya terdiri dari rumah kayu dan setengah tiang. Di rumah sederhana tersebut bila musim panen tiba produk pertanian warga disimpan.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq Bagai Santan Berbalas Tuba

“Umumnya pekerjaan masya­rakat bertani dan berladang. Produk utamanya adalah beras, gambir, kopi dan rempah rempah lainnya,” ujar Jamalus. Pada prinsipnya menurut Jama­lud, Tatanggo Saribulan me­miliki potensi cukup besar, misalnya perta­nian dan perkebunan. Namun poten­si itu harus berbenturan de­ngan kondisi wilayah.

“Sudahlah terkungkung TNKS, jauh pula dari Pasar Nagari. Produk pertanian dan perkebunan tidak bisa dijual dengan harga maksimal akibat biaya transportasi sangat tinggi,” katanya.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (3): RAKYAT TAK MINTA BERLEBIHAN

Sementara Aprialmi kepala kampung setempat menyebutkan, buruknya kondisi jalan terpaksa warga harus memanggul padi atau barang apa saja sepanjang puluhan kilo. “Jika harga ingin tinggi yah terpaksa warga memikul sendiri barang, bila menggunakan ojek atau angkutan lainnya maka berat diong­kos saja,” katanya.

Telah sering warga mengusulkan peningkatan jalan ke pemerintah kabupaten. Bahkan lewat Anggota DPRD sekalipun, namun tak satu jua pun yang terkabul. “Tampaknya kami harus terima kenyataan seperti ini,” ujarnya mengeluh.

Lahan pertanian dan perkebunan warga nyaris tidak terjadi pertam­bahan. Penambahan lahan pertanian dan perkebunan terkendala dengan status hutan yang mengelilingi kampung tersebut.

“Penambahan lahan berarti me­ru­sak TNKS. Masyarakat di sini ma­sih setia menjaga hutan yang men­ge­lilingi kampungnya,” ujarnya lagi.

Karena terkungkung dan terje­bak TNKS, kegiatan masyarkat di kampung Ini saban hari monoton. Pagi ke ladang atau ke sawah, kemu­dian malamnya menjelang tidur kaum laki-laki menghabiskan waktu di kedai-kedai kopi. Bercengkrama, bebagi cerita soal hidup ini.

Sesekali kampung akan menjadi ramai bila ada kegiatan pesta perhe­latan atau acara yang di buat pemuda. Bila ada kegiatan biasanya kampung ini akan hidup hingga tengah malam dan akhirnya kembali ke rumah masing. Warga di sini untuk semen­tara me­lupakan keterkungkungan dan ke­tertinggalannya dan terlelap hingga pagi datang lagi menyinsing. Hari-hari penuh kesederhanaan terus dilalui warga Tatanggo Sari­bulan hingga kini.

Terkait kondisi Tatanggo Sari­bulan yang tertinggal itu, Bupati Nasrul Abit menyebutkan, peme­rintah secara bertahap menge­luarkan kawasan itu dari keterting­galan.

“Alhamdulillah tahun ini diba­ngun sarana penerangan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro. Petugas telah melakukan survei ke sungai setempat,” katanya.

Selanjutnya untuk pengerjaan prasarana jalan ia menyebutkan, pemerintah selalu berkoordinasi dengan pihak TNKS. Yang jelas Pemkab Pessel komitmen pada pem­bangunan jalan kawasan ter­tinggal.

Sementara Kepala Balai TNKS Pessel Surajiman menyebutkan, kawasan zona khusus memang ada pembatasan pengembangan wilayah, termasuk infrastruktur. Yang boleh dibangun adalah prasarana dasar yang sudah ada sebelumnya dan tidak mengancam keberadaan TNKS.

 

Laporan:
HARIDMAN KAMBANG

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]