Pacu Ulama Menulis


Selasa, 24 Februari 2015 - 19:40:56 WIB
Pacu Ulama Menulis

Dari “tradisi” penulisan wahyu ini, muncul beberapa nama sahabat yang sampai saat ini dikenal oleh masyarakat se­bagai penulis wahyu. Dian taranya adalah Sahabat Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Ma­s’ud dan Muawiyah bin Abu Shofyan.

Baca Juga : Lebih dari 132 Ribu Tenaga Kesehatan Sudah Divaksinasi Covid-19

Estafet tulis-menulis ini selanjutnya diteruskan oleh para ulama dari kalangan ta­bi’in hingga ulama kon­tem­porer. Sebagaimana yang dila­kukan Rasulullah, ulama yang telah memanggul gelar sebagai pewaris nabi juga memainkan pena untuk “menangkarkan” ilmu dan gagasan yang di­miliki. Jelasnya, Mereka tidak hanya memfokuskan diri un­tuk dakwah bi al-Qoul (ber­dakwah dengan ucapan) melai­kan juga dakwah bi al-Kitabah (berdakwah dengan tulisan).

Namun sangat miris, esta­fet tulis-menulis yang telah men­tradisi itu perlahan te­renyah­kan dari kehidupan ulama masa kini. Mereka lebih cenderung ber­dakwah dengan lisan kemudian mengabaikan dakwah melalui tulisan. Aki­bat­nya, hanya se­kelumit orang yang dapat me­ngon­sumsi ilmu dan gagasan yang di­sampai­kan. Pasalnya, dakwah dengan lisan hanya dapat menjangkau me­reka yang ada di medan dak­wah. se­dang­kan mereka yang berada pada titik jauh dari medan dakwah akan terabaikan.

Baca Juga : BNPB Minta Pendataan Rumah Rusak Pascagempa Sulbar Segera Diselesaikan

Lain halnya dengan ulama yang menggunakan tulisan se­bagai sarana berdakwah. Dak­wah mereka akan lebih tersebar luas, karena tulisan tidak terikat dengan tempat dan waktu. Di­mana­pun ulama tersebut be­rada, dakwahnya tetap dapat diakses oleh masya­ra­kat dima­napun dan kapanpun.

Oleh karena itu, ke­cen­derungan ulama yang hanya menggunakan lisan sebagai sarana dakwah kemudian me­nga­bai­kan tulisan perlu di­lurus­kan. Pasalnya, me­man­dang sebelah mata diantara cara-cara berdakwah dengan memprioritaskan satu cara saja, dapat menghambat pen­ye­baran dakwah. Dakwah me­ru­p­akan perintah Allah untuk me­negak­kan al-Amru bi al-Ma’ruf wa al-Naha an al-Munkar kepada setiap ma­nusia, bukan se­ke­lumit ma­nusia. Pelaksanaannya pun harus diupayakan secara to­talitas. Maka dari itu, re­vi­ta­lisasi menulis sebagai salah satu metode dakwah perlu di­tegak­kan kembali agar sa­saran dak­wah dapat lebih gblobal.

Baca Juga : Mensesneg Terima Surat Persetujuan DPR terhadap Nama Calon Kapolri dan Anggota Dewas LPI

Ulama Harus Menulis

Sebagai seorang pewaris nabi, sudah menjadi sebuah konsekuensi bahwa ulama bertugas meneruskan misi profetik. Yakni, men­yampai­kan perihal yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar. Dalam mengeemban misi ini, tentu sang pewaris nabi dituntut untuk memiliki tingkat keilmuan yang tinggi. Sebab, selama ini ulama telah dikenal sebagai sosok yang identik dengan ketinggian ilmunya. Dan setidaknya pan­dangan inilah yang men­yebab­kan masyarakat mempercayai ulama sebagai pemegang esta­fet profetik dari genggaman Rasulullah Saw.

Baca Juga : Kementerian PUPR Rampungkan Peningkatan Kapasitas Gedung Tiga RS Rujukan COVID-19

Realitas mencerminkan bahwa dakwah ulama akan mudah diterima oleh masya­rakat apabila ia memiliki ilmu yang tinggi. Dan keilmuan yang tinggi tersebut harus ter­kuanti­fikasi secara jelas. Pada zaman dahulu, seorang ulama akan terkuantifikasi keilmuannya apabila memiliki tulisan yang hebat, bukan dari “gedob­osnya” yang menggema-gema.

Menurut Ketua Umum BAZNAZ Prof KH Didin Hafidhuddin, menulis meru­pakan cara efektif untuk me­ning­katkan ilmu dan mengasah kemampuan seorang ulama. Tegasnya menulis dapat me­ngasah daya pikir dan ke­cerdasan otak, bagi Kiai didin, menulis merupakan sebuah kebutuhan sekaligus ke­nis­caya­an. Sehingga, sangat di­sayangkan apabila ulama masa kini kehilangan gairah untuk menulis.

Selain itu, menulis meru­pakan cara untuk mewariskan ilmu yang merupakan harta warisan paling berharga bagi para generasi. Sebab, dengan memiliki ilmu seseorang akan mendapatkan kebahagian di aspek kehidupan yang lain.  Keadaan ini sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah dalam Q.S al-Mujadalah ayat 11. Selain orang-orang yang be­riman, Allah akan mengangkat derajat mereka yang memiliki ilmu, sehingga mereka akan mendapatkan kebahagian dan kemuliaan di dunia maupun di akhirat.

Dahsyatnya, melalui tu­lisan yang diproduksi seorang ulama dapat abadi bersama dengan keabadian tulisan-tulisan yang telah dihasilkan. Seorang penulis sekaligus alu­m­nus Pondok Pesantren Mo­deren Gontor Ali Fuadi me­negaskan, bahwa selain men­ciptakan keabadian me­nulis juga dapat menjadi amal ja­riyah. Sebab, karya yang ditulis secara benar dan men­cerahkan jika dibaca kha­layak maka akan menjadi rentetan pahala. Meskipun penulis sudah me­ninggal, selagi karya tersebut tetap dikonsumsi masyarakat maka akan terkirim pahalanya.

Ibnu Rusyd adalah salah satu sosok yang keberadaannya diabadikan oleh masyarakat dunia. Bahkan, sosok yang juga dikenal dengan nama Averroes tersebut telah diabadikan oleh masyarakat Cordoba—salah satu kota di Sepanyol—dengan sebuah patung. Padahal, Ave­r­roes telah meninggal sejak 800 tahun yang lalu. Keistimewaan ini merupakan sebuah “dong­krakan” dari karya feno­menal­nya, yakni kitab Bidayatul Mujtahid dan buku-buku lain karangannya yang men­cerah­kan dunia.

S­ebenarnya, Di Indonesia juga sempat terlahir beberapa ulama besar yang ke­be­radaan­nya diakui masyarakat dunia. Diantara ulama tersebut ada­lah Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Ia merupakan pe­ngarang kitab Tafsir al-Munir yang sangat terkenal di seluruh penjuru dunia. Bahkan, karya-karyanya yang lain sering dijadikan rujukan utama pel­bagai pesantren di Tanah Air maupun di luar negeri.

Setidaknya, alasan-alasan tersebut seharusnya cukup untuk mendongkrak gairah menulis para ulama maupun da’i di Tanah Air. Dakwah itu bukan hanya sekedar orientasi yang short life (jangka pendek) melainkan lebih ke long life (jangka panjang), sehingga generasi kedepan dapat me­nik­mati buahnya.

Dan perlu diketahui bahwa dakwah de­ngan tulisan lebih sistematis dan akuntable. Jadi, dakwah ulama tidak terkesan “gedo­bos” belaka. Semoga ke depan banyak terlahir karya-karya besar ulama di Tanah Air! Wallahu a’lamu bi murodihi. (**)

 

MUHAMMAD HAIZUN NIAM
(Peneliti Muda di Lembaga Studi Agama dan Nasionalisme (LeSAN), Semarang)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]