Bisa Merakit Pesawat Terbang Mini


Jumat, 27 Februari 2015 - 19:59:37 WIB
Bisa Merakit Pesawat Terbang Mini

Ia tidak pernah menge­nyam pendidikan sedikitpun. Tidak pernah belajar ilmu elektronik dan tidak pernah pula mendapatkan pelatihan tentang merangkai mesin. Orang­tuanya yang miskin ti­dak pula sanggup menye­kolah­kannya ke sekolah luar biasa. Namun di balik semua itu, Doni memiliki bakat yang luar biasa besar. Sebuah karya yang seharusnya dilahirkan seorang insinyur telah diper­tonton­kannya ke masyarakat. Ia ha­nya belajar otodidak dan di­pan­du bakat alam.

Pesawat terbang mini bua­tan Doni terbuat dari peralatan yang ada di sekitarnya. Panjang pesawat sekitar 50 cm dengan menggunakan rangka dan bodi berupa papan. Sayapnya di­buat­nya mirip pesawat zaman pe­rang dunia II menggunakan triplek dua lembar. Sementara ba­ling - baling terbut dari seng bekas dan menggunakan se­jum­kah motor tape recorder se­b­a­gai mesin penggerak. Me­sin di­nya­lakan menggunakan baterai.

Pesawat buatannya juga dilengkapi dengan lampu sen­ter bekas, posisinya persis di bawah pesawat. Pesawat bua­tannya dinyalakan dan terbang dilangit Amping Parak. Pesa­wat tersebut dapat diken­dal­ikan Doni menggunakan remot kontrol mobilan bekas yang terbuang. He­bat­nya lagi pesawat itu dapat di­pantau dengan sebuah monitor hasil modifikasi hand phone bekas.

Pesawat itu terus melayang-layang dengan cahaya senter yang mencolok. Bagi orang yang belum tahu, mungkin akan mengira pesa­wat itu adalah pesawat pengintai atau pesawat luar angkasa. Sesekali pesawat itu terbang di atas per­bukitan, lalu kembali lagi di atas tempatnya berdiri. Pesawat itu berputar dan melakukan atraksi aerobatic layaknya pesawat tempur dan diiringi tepuk tangan yang menonton dan akirnya landing sebelum energinya habis.

Doni berkeyakinan, pesawatnya itu masih bisa ditambahi beban beberapa gram materi lainnya. Menurutnya, pesawat itu pernah pula digunakannya untuk mengusir celeng (babi) di ladangnya. “Ketika itu pesawat ini sempat hilang, namun ditemukan lagi sesudah itu,” katanya menceritakan.

Doni anak pasangan Lianis dan Durus itu bercita -cita ingin mem­buat pesawat yang bisa ditumpangi manusia. Cita citanya itu sudah lama dipendamnya, soalnya jika cita cita itu disampaikannya ke orang lain akan dianggap bulan belaka.

“Jika ada alat dan bahan saya berkeyakinan mampu membuat pesawat seperti yang saya impikan. Paling tidak apat ditumpangi oleh satu atau dua orang saja,” kata anak ke tiga dari delapan bersaudara ini.

Untuk uji coba, menurutnya, pesawat impiannya itu dibuat dari papan dan motor dan baling-baling yang mampu mengangkat beban lebih besar dari badan pesawat. “Jadi sangat mungkin sekali mimpi saya terkabul jika motor yang saya ingin­kan itu tersedia,” katanya di Kedai milik Icong dan diiringi decak kagum warga yang mendengar.

Doni juga terampil merakit tape recorder dan sejumlah alat elek­tronik lainnya. Bentuk alat elektro­nik yang dihasilkannya juga sangat sederhana, misalnya tape recorder hanya berupa kotak kecil dari papan.

Cara merakitnyapun unik. Ia tidak satupun menggunakan pera­latan misalnya obeng, tank, solder. Untuk mengetes arus listrik hanya dila­kukannya dengan ujung jari. Ke­mudian merakit komponen - kom­ponen tape hanya menggunakan lem atau dengan cara dipaku. Dan hasil­nyapun sangat bagus. Ia menga­ku, untuk merangkai alat-alat elek­tro­nik diperolehnya dari insting belaka.

Karya Doni berupa tape itu selalu dibawanya kemanapun ia pergi dengan menggunakan sebuah tas lusuh. Tape itu selalu dimainkannya sepanjang jalan, beberapa kali sing­gah di kedai. “Kadang saya mainkan musik rabab, kadang musik dangdut. Tergantung siapa yang ada dikedai,” katanya.

Bakat Doni yang demikian besar ternyata belum ada yang mem­bimbingnya. Doni hidup dalam alam pikirannya sendiri. Jauh dari hiruk - pikuk dunia pendidikan dan pelatihan. Doni hidup bak para penemu besar dunia. Membuat teori dan hipotesa sendiri, kemudian hasilnya dinikmati orang banyak. **

 

Laporan:
HARIDMAN KAMBANG

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]