Rendang Republik


Ahad, 01 Maret 2015 - 19:01:02 WIB
Rendang Republik

Dapur tak perlu bagus, yang penting bersih, asap tetap ‘me­ngepul, hidangan tetap tersaji dengan kebaruan, tak basi de­ngan mempertahankan maka­nan yang tidak la­yak:aki­bat pelanggan, bah­kan ‘pe­masak’ yang me­makannya sering memakan racun keba­sian se­buah ma­kanan, akibat pelit memasak di dapur sen­diri, cendrung me­me­san dari luar—kemampuan me­masak semakin me­mu­dar—­ke­­­­ter­gantungan ter­hadap se­sua­­tu yang prakis semakin tinggi.

Ruang tamu yang indah, tetapi  didapatkan dengan kredit/kontan barang-barang ekspor, tak pribumisasi eko­nomi. Dapur-dapur terus di­jauhkan dari proses ‘kerja keras; untuk menghasilkan produk-produk ‘instan’, ma­kanan hanya cantik dibung­kusnya, tetapi tak enak pada rasa. Maka keberadaan ‘nilai simbol’ pergaulan, men­g­­hi­lang­kan ni­lai guna dapur seba­gai proses filosofi ‘ke­hidupan’ yang bisa kita petik hikmahnya. Bahkan masalah ini juga pernah diangkat oleh Kang Dedi Mulyadi (Bupati Purwokerto), dalam bukunya Mengayuh Negeri Dengan Cin­ta (2012). Katanya, kita terlalu sibuk memperindah ruang tamu, akibatnya kita lupa untuk berada di dapur, di mana proses meracik bumbu masakan—menghasilkan se­buah makanan yang lezat—betapa banyak filosofi yang bisa kita ambil dari hal ini.

Rendang, adalah contoh makanan yang dimasak di dapur. Dalam memasak ren­dang secara ‘tradisonal’ dengan modern cendrung berbeda proses dan hasilnya. Rendang yang diolah dengan ‘tra­d­isio­nal’, dimasak dengan kayu bakar, bumbu masakan/daging berkualitas sebagai lang­kah awal ‘rendang’ akan lezat.  Begitu juga dengan ‘tukang aduk’, ia akan tetap mengaduk ‘daging’, dengan semua bumbu dan daging tetap teraduk, jika semua dibiarkan tak teraduk ia akan menjadi kalio (baca: juga makanan Minangkabau). Dan juga, penyajian ‘rendang’ yang menarik juga akan berbeda dan harganya, misalnya rendang yang ada di rumah makan padang biasa, dibandingkan ‘rumah makan’ yang me­nye­diakan masakan rendang de­ngan ‘toples’ menarik, bisa menjadi ranah ekonomi ber­beda harga. Sebaliknya dengan memasak rendang dengan cara modern, ia praktis menggu­nakan kompor minyak/gas.

Dalam memahami ka­de­risasi kepemimpinan, kita banyak belajar dari filosofi rendang. Dalam kalangan kaum pergerakan, istilah ‘ren­dang republik’ adalah gam­baran tentang orang-orang yang membangun negara ini, sebagai tonggak awal ber­dirinya dasar negara/bapak moyang ‘tradisi kene­ga­raan’ kita sampai saat ini. Hal itu ditunjukan kepada: Sjahrir, Hatta,  Tan Malaka dan Soekarno. Sjahrir dalam cerita ini adalah orang yang men­cari daging dan bumbu-bumbu ber­kualitas, sebagai diplomat ‘ulung’ Sjahrir luar biasa dalam memetakan ‘pemikiran’ bang­sa lain dan kultur indonesia sendiri .  Hatta , sebagai kaum pergerakan yang bertugas me­ngaduk rendang karena sesuai dengan ke­ah­liannya ‘ad­mi­nistror ulung’ Indonesia. Tan Malaka, kaum pergerakan yang ditugaskan un­tuk ‘men­cari kayu bakar’: po­sisinya sebagai ‘idiolog, ia me­miliki massa anak-anak mu­da yang ‘radikal, punya nyali besar dan visioner. Sedangkan Soe­karno adalah ahli pidato yang baik, ia pandai mem­per­kenal­kan ‘rendang’ dengan ca­ra yang mengesankan. Pole­san Soe­karno rendang menjadi se­s­uatu yang menarik. Cerita ini m­e­­ru­pakan ‘motivasi’ bagi kaum pergerakan dan anak-anak mu­da. Dengan berpadunya orang-orang hebat Indonesia. Hatta, Sja­hrir, Tan Malaka dan Soe­kar­no. Maka rendang re­pub­lik, yang mengambil fi­lo­sofi ne­gara ini dibangun. Tak  bisa ki­ta mengelak dari filosofi orang Minangkabau belajar dari alam.

Makanan politisi yang di­hasilkan oleh dapur politik kita,  cendrung berada dalam keadaan macet. Dibandingkan dengan masa kaum pergerakan sebelum kemerdekaan, dapur politik terus mengepulkan asapnya. Tak heran, zaman itu: orang-orang yang belum be­rebut kekuasaan politik, tetapi ia berhasil menja­di tokoh bahkan menciptakan tokoh pendiri republik. Misal­nya Hos Cokro Amionto: Tan Malaka, Sjahrir, Hatta, Soe­kar­no. Pemilik dapur politik, ia tak ingin terlalu melaju pada arena politik, sehingga peran-peran itu diambil oleh murid-muridnya.

Berbeda dengan politisi Indonesia saat ini, pemimpin itu dalam pikirannya adalah pre­siden. Bahkan mem­pere­butkan/merecoki presiden yang terpilih dengan ‘konstitusi adalah wujud gagalnya ‘dapur politik era ini. Betapa i­n­dah­nya, mengalahnya Hatta, Sjah­rir, Tan Malaka untuk mem­berikan tokoh sen­tral ke­­pada Pre­siden Soe­karno. Mes­kipun ka­pasitasnya ’pa­­­tut diper­hitung­kan di­re­publik’ ini. Da­lam be­nak me­reka, me­mim­pin tak ha­nya jadi pres­iden, ber­buat untuk negara de­ngan jalur pe­ngabdian yang se­suai dengan ke­ah­lian kita, mem­buat orang ber­gerak dan terlibat: kita tetap pemimpin. Terlalu jauh­nya panggang dari api, mem­buat ‘politisi’ tak ber­karakter, ja­ngan­kan mene­muk­an api dengan pang­gang­nya.  Hadir­nyapun lebih mo­dern, punya uang banyak, po­pu­laritas dan tam­pang. Akibat tak dimasak dalam ‘dapur’ politik pembelajaran, ia cen­drung ‘pragmatis’, sebab mend­apatkan jabatan dengan praktis. ***

 

ARIFKI
(Analis Politik Dan Kepemimpinan UKM Pengenalan Hukum Dan Politik Universitas Andalas)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]