Program Pertanian Terpadu Tidak Dipahami Masyarakat


Senin, 02 Maret 2015 - 19:23:38 WIB
Program Pertanian Terpadu Tidak Dipahami Masyarakat

“Dispernakhutbun Padang sudah mencanangkan program pertanian terpadu ini di Sung­kai pada akhir tahun lalu. Na­mun, tampaknya program ini tidak serius, karena tidak ada tindak lanjutnya. Program ini katanya untuk masyarakat, se­mentara masyarakat tidak me­ngerti de­ngan program itu,” ung­kapnya.

Baca Juga : Memasuki Musim Kemarau, Perumda AM Kota Padang Minta Warga Hemat Air

Ia juga menyampaikan ke­luhan masyarakat setempat bahwa masyarakat setempat tidak terdaftar dalam ke­lom­pok tani (Keltan) yang berada di bawah binaan Dis­per­na­khutbun Padang. Ia tidak me­ngetahui penyebab kenapa masyarakat tidak tergabung dalam keltan tersebut, padahal masyarakat ingin sekali ter­gabung di dalamnya, agar bisa mendapatkan pupuk organik dari Dispernakhutbun.

“Untuk mendapatkan pup­uk organik, syaratnya harus tergabung dalam keltan. Ba­gai­mana kami mau men­da­patkan pupuk organik jika kami tidak diajak bergabung oleh Dispernakhutbun dalam keltan,” ujarnya. Ia mem­pertanyakan, ke­seriusan Dis­per­nakhutbun Padang terkait program itu. Karena hingga saat ini, masya­rakat tidak mengetahui apa potensi ung­gulan Kampung Sungkai.

Baca Juga : 61 Nakes di Puskesmas Andalas Siap Divaksinasi

“Yang kami butuhkan a­dalah bimbingan dari Dis­per­nakhutbun untuk me­ngem­bang­kan dan memajukan per­tanian di kampung kami ini untuk meningkatkan kesejah­teraan masyarakat dan me­ngem­bang­kan potensi kam­pung ini,” ha­rapnya. “Dinaspernakhutbun ha­rusnya menyosialisasikan hal itu kepada masyarakat. Bila tidak, berarti program itu hanya menjadi wacana saja dan tidak berjalan seperti yang diha­rapkan,” tambahnya.

Ketua DPRD Padang, Eris­man berkomentar, Disper­nakhutbun Padang seharusnya tidak membingungkan warga saat mencanangkan sebuah program. Ia menyarankan Dis­per­nakhutbun untuk me­nang­gapi keluhan masyarakat ter­kait program itu.

Baca Juga : Perumda AM Kota Padang Ajak Pelanggan Catat Meter Mandiri, Ini Caranya

Sementara itu, Kepala Dis­p­ernakhutbun Padang, He­ryanto Rustam mengakui bah­wa pihaknya belum me­nyo­sialisasikan hal itu kepada masyarakat Kampung Sungkai. Alasannya, karena pihaknya se­dang membuat disain program tersebut yang bekerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Setelah program itu selesai dalam kurun waktu satu atau dua bulan ke depan, pihaknya akan menyosialisasikannya kepada masyarakat.

Ia menjelaskan, pertanian terpadu atau diversifikasi per­tanian menekankan pada tata­laksana memadukan ko­mo­ditas (tunggal atau campuran spesies) tanaman dengan tana­man lainnya atau tanaman dengan hewan ternak pada sua­tu lahan, sehingga meng­hasil­kan keuntungan bagi petani, lingkungan, dan konsumen.

Baca Juga : Vaksinasi di Padang Sudah Bergulir, Nakes: Rasa Cemas Tertular Covid-19 Berkurang

“Pertanian berkelanjutan pengertiannya menekankan sistem pengelolaan komoditas pertanian dan sumberdaya alam inputan agar terjadi ke­ber­lanjutan budidaya yang tidak merusak lingkungan (planet bumi) dan kesehatan petani maupun konsumen hasil pertanian.

Ia membantah bahwa ma­sya­rakat Sungkai tidak terga­bung dalam keltan. Dengan alasan bukti bahwa pihaknya sudah mengucurkan dana Rp 200 juta terhadap Unit Penge­lolaan Pupuk Organik (UPPO).

“Masyarakat yang mana yang tidak mendapatkan pupuk organik? Jangan-jangan ada petani yang tidak masuk UP­PO itu, lalu mengatakan Kam­pung Sungkai tidak men­da­patkan bantuan pupuk orga­nik,” tegasnya. (h/dib)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]