Harga Cabai Anjlok, Petani Terpekik


Senin, 02 Maret 2015 - 19:37:21 WIB
Harga Cabai Anjlok, Petani Terpekik

Seorang pedagang sem­bako, As saat ditemui Haluan, membenarkan bahwa harga cabai saat ini sangat merosot. Baik itu untuk harga cabai merah maupun cabai hijau disebabkan petani sedang panen cabai. Ditambah lagi dengan pasokan yang terus lancar tanpa kendala sampai kepada pedagang.

Baca Juga : Ada Apa? Italia Akan Seret Produsen Vaksin Covid Pfizer dan AstraZeneca ke Ranah Hukum

Namun, untuk harga cabai rawit mulai menanjak naik dengan harga Rp40.000 per kg.

Petani Mulai Was-Was

Baca Juga : Presiden Klub Bola dan Empat Pemain Tewas Dalam Kecelakaan Pesawat di Brasil

Anjloknya harga cabai dalam beberapa pekan ter­akhir, membuat para petani cabai di daerah Solok mulai merasa was-was. Pasalnya, jangankan  bakal mendapat untung dari budidaya tana­man pangan yang menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat ini, ancaman m­e­rugi pun mulai menghantui mereka.

Dari data yang dihimpun Haluan di Pasar Pagi Muara Panas, Senin (2/3), harga cabai merah keriting lokal berkisar antara harga Rp 23 ribu hingga Rp 25 Ribu sekilo. Turunnya harga cabai ini diperkirakan dipicu oleh ba­nyak­nya pasokan cabai dari luar daerah Solok seperti Medan, Kerinci dan Curup Bengkulu yang saat ini tengah panen. Harga cabai merah dari luar Sumbar ini berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 18.000 per kg.

Baca Juga : Setahun Usai Covid-19, Begini Kondisi Terkini Wuhan

“ Dalam beberapa pekan tera­khir cabai luar Sumbar membanjiri pasar Solok. Ini yang membuat harga cabai lokal menjadi anjlok,” kata Afrimon (39) pedagang cabai di sejumlah pasar pagi di kawasan Solok.

Afrimon tidak menampik, jika dalam beberapa pekan ke depan, harga cabai akan terus mengalami penurunan. Hal ini lantaran cabai luar Sumbar belum malakukan panen raya (puncak panen). “ Ini belum sampai puncaknya, kalau puncaknya bisa lebih turun lagi,” katanya.

Baca Juga : Ini Alasannya Mengapa WHO Akui Madinah Kota Tersehat Dunia

Terkait itu, Alfian (47) petani cabai asal Nagari Kotobaru Ke­camatan Kubung Kabupaten Solok mengaku sudah menggeluti usaha budidaya tanaman cabai ini sejak tahun 2002 silam. Ia menyebutkan, kalau melihat harga cabai sekarang masih dalam ambang batas standar. Tapi kalau masih turun,  besar kemungkinan  para petani akan merugi. “ Kalau kita hitung sesuai biaya produksi dari tanam hingga panen masih dalam ambang batas standar, Insya Allah tidak rugi. Tapi kita tidak bisa memastikan harga ini akan bertahan,” jelas Alfian men­jawab Haluan di Kotobaru.

Pihaknya menjelaskan, untuk biaya produksi perbatang cabai dari mulai pembibitan hingga panen diperkirakan memakan biaya Rp 3.500 hingga Rp 4.000. Biaya itu termasuk biaya pengolahan tanah, upah, pupuk dan pestisida. Biaya itu tergantung kepada kondisi dan keadaan tanaman, karena kalau keadaan tanaman cabai terserang hama dan virus, biaya produksi bakal mengalami peningkatan.

“ Kalau terserang virus, kita harus rutin melakukan penyem­protan, agar tidak menyebar kepada tanamam lain. Itu biayanya besar, karena disamping mengalami pe­nam­bahan jumlah, harga pestisida juga cenderung naik,” katanya.

Untuk hasil panen, kata Alfian dalam 1.000 batang saat ini hanya berkisar antara 50 hingga 60 kg per minggu, dengan panen dua kali seminggu. Padahal kalau cabai dalam kondisi normal, dalam 1.000 batang, panen per minggunya bisa mencapai 100 kg. “ Itu dulu (100 kg). Sekarang sudah sulit mencapai angka itu, karena virus yang menye­rang tanaman cabai banyak. Seme­n­tara pestisida tidak bisa membasmi virus, karena hanya berfu­ngsi untuk mengurangi penyebarannya saja, “ katanya.

Biasanya kalau cabai luar Sum­bar tidak banyak masuk ke pasar Solok, harga cabai lokal normalnya bisa mencapai Rp 46.000 per kilo. “Tapi kalau cabai luar banyak ma­suk, itu yang bikin harga anjlok,” beber bapak tiga anak yang men­jadikan bertani cabai sebagai mata pencaharian utamanya.

Fluktuasi harga dalam bertanam cabai menurutnya adalah hal yang biasa. Lantaran itu, pola tanam berjenjang yang diterapkannya sela­ma ini mebuatnya tak terlalu me­ngalami kerugian besar, jika harga cabai anjlok. “ Kalau kita rutin, kerugian di musim tanam ini, bisa ditutupi dengan musim tanam beri­kut­nya. Karena harga juga tidak selamanya turun, dan juga tak sela­manya tinggi,” katanya menyudahi.

Sementara itu, harga cabai keri­ting di tingkat petani dalam Kota Payakumbuh, turun drastis dari Rp22 ribu per kg di tingkat petani empat hari yang lalu, menjadi Rp18 ribu per kg. Walau sebelumnya harga cabai sempat naik di pasar tradi­sional mencapai Rp70 ribu per kg.

“Sekarang ini hasil panen cabai di tingkat petani Payakumbuh, dijual dengan harga Rp18 ribu per kg,” kata Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ke­hu­tanan Kota Payakumbuh, Iqbal Bermawi didampingi Sekre­tarisnya, Ir.Syahril ketika dihubungi di kan­tornya jalan Ade Irma Suryani, Senin kemarin.

Dikatakan, modal tanam seba­tang cabai hingga panen hanya Rp 6 ribu, sudah termasuk beli bibit, pupuk, obat obatan, upah tenaga kerja serta pemeliharaan. Sean­dainya harga cabai anjlok sampai Rp15 ribu per kg misalnya di tingkat petani, mereka masih beruntung.

Pada bagian lain diinformasikan Iqbal Bermawi, luas lahan cabai keriting di Kota Payakumbuh, ham­pir mencapai 60 hektare mayoritas cabai copay. Produksi rata-rata 10 ton per hektare, dipasarkan ke provinsi tetangga Riau, sisanya dijual pedagang pengumpul ke pasar tradi­sional Ibuh.

Menurut dia, memasuki perte­ngahan Januari 2015, harga cabai mulai mengalami penurunan dika­renakan mulai banyaknya pasokan dari berbagai daerah penghasil cabai. Daerah-daerah sentra produksi yang telah panen seperti Bengkulu, Me­dan dan Lampung, mendi­s­tribu­sikan pasokan cabai ke berbagai daerah termasuk Sumbar.

Pantauan Haluan ke pasar Ibuh kemarin menunjukkan, cabai dijual pedagang pengecer Rp20 ribu hingga Rp22 ribu per kg. Dibeberapa pasar tradisional di Limapuluh Kota harga cabai keriting merah dijual dengan harga Rp 21 ribu per kg.

Beberapa Pedagang cabai pasar Ibuh Payakumbuh, berpendapat, turunnya harga cabai tak ada kaitan­nya dengan harga BBM. Penurunan harga cabai tersebut, lebih banyak dipicu oleh pasokan cabai dengan teratur dan merata dari daerah sentra produksi yang sekarang sedang panen.

Kondisi yang sama juga terjadi di Tanah Datar. sejak seminggu terakhir harga jual cabai merah di tingkat petani hanya berkisar Rp 18.000.

Seorang petani cabai di Nagari Tuo Pariangan Aulia menyebutkan, bila harga cabai di bawah kisaran Rp 40.000 di tingkat petani, jelas petani menanggung rugi, tak seimbang dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk bertanam cabai.

“ Kondisi sekarang memang jauh melorot, petani tak bisa berbuat apa-apa, hanya pasrah dengan sejumlah kerugian yang harus ditanggung dalam bercocok tanam cabai.

Untuk satu batang cabai secara maksimal menurut Aulia dan sejum­lah petani lainnya di Tanah Datar, hanya tak lebih dari menghasilkan 1,5 kg , tentunya untuk kondisi harga jual saat ini hanya Rp 26.000.

Bertanam cabai bagi para petani di wilayah yang memiliki iklim sejuk di sekitaran lereng gunung api Marapi, seperti di wilayah keca­matan X Koto, Pariangan, Sungai­tarab dan Salimpaung, memang merupakan usaha tani yang mereka rasakan untung-untungan.

Kepala Dinas Pertanian Tana­man  Pangan kabupaten Tanah Datar Edi Arman kepada Haluan di Ba­tusangkar Senin 2/3 kemarin me­nyebutkan, anjloknya harga cabai ini karena pasokan melimpah. (h/mg-win/ndi/zkf/emz)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]