Petani Sawit Dipermainkan Tengkulak


Selasa, 03 Maret 2015 - 19:01:19 WIB
Petani Sawit Dipermainkan Tengkulak

Dia berandai-andau bila harga sawit Rp1.900 per­kilo­gram dia bisa membayar upah buruh untuk memanen dan perawatan.

Baca Juga : Daftar 20 Negara Penyumbang Kasus Terbanyak Covid-19, Termasuk RI

“Sekarang, karena harga sawit tidak menguntungkan, terpaksa dikerjakan sendiri. Dikerjakan sendiripun masih belum menggembirakan. Bi­aya pupuk saja setiap batang memerlukan dana Rp800, belum lagi pembersihan lahan dan biaya angkut,” katanya.

Hi­ng­ga kini petani di Pesisir Selatan tidak me­nge­tahui harga sawit yang berlaku secara umum. Bisa dikatakan, petani sawit didaerah tersebut buta harga. Petani disini me­nyerahkan begitu saja harga sawit pada toke atau pedagang pengumpul.

Baca Juga : Gara-gara Pandemi, Pilot Ini Jadi Kuli Bangunan dan Pengantar Barang

Berdalih biaya angkut ting­gi, harga tandan buah sawit segar (TBS) saban waktu selalu tergantung pada keinginan tauke. Pada waktu waktu ter­tentu bahkan harga ditekan tauke pada harga tidak wajar.

Dia mengatakan, pihak tauke sawit memiliki alasan sendiri bila harga ditu­run­kannya. Mi­salnya salah satu penyebabnya adalah tingginya biaya angkut ke pabrik. Atau beralasan TBS menumpuk di gudang penyim­panan selama berhari-hari menjelang dapat BBM di SPBU terdekat. Begi­tupula kondisinya dipabrik, kendaraan pengangkut antre berjan-jam.

Baca Juga : Presiden Meksiko Positif Terpapar Covid-19

“Alasan selanjutnya adalah produksi sawit milik peru­sahaan dan masyarakat bulan ini melimpah. Di pabrik truk pengangkut sawit antri untuk dapat membongkar buah. Na­mun akibat terpaksa sawitnya tersebut dijual dengan harga rendah, jika tidak maka buah akan jatuh dan membusuk,” kata Sepriadi petani sawit Sutera.

Terjerat

Baca Juga : Nama Buah Naga Diganti Jadi Teratai di Gujarat, Ini Alasannya

Petani sawit di Pesisir Selatan umumnya sudah ter­jerat oleh fasilitas yang dibe­rikan touke kepada petani. Disaat harga sawit rendah touke biasanya memberikan pinjaman untuk biaya harian dan bahkan untuk perawatan kebun dan beli pupuk.

Nawir (61) petani sawit di daerah tersebut mengatakan. Ia telah menjalin hubungan de­ngan touke semnjak sepuluh tahun lalu. Touke memberikan bantuan kepadanya disaat pe­tani alami kesulitan.

“Saya dibantu pupuk bila tidak ada dana pembeli pupuk. Kemudian bila beras tidak ada touke juga siap memberikan pinjaman kepada kami. Jadi kami sangat tertolong,” katanya.

Akibat hubungan seperti itu menurut Nawir ia tidak punya pilihan lain untuk men­jual TBS bila masa panen tiba. Berapapun harga yang dite­tapkan touke ia tidak bisa mengelak. “Meski dengan men­jual sawit seharga Rp900 kami tidak mungkin melu­pakan jasa touke disaat kami dalam keadaan sulit,” katanya.

Selanjutnya terkait dengan harga sawit Bupati Pesisir Selatan Nasrul Abit menye­butkan, petani sawit harus bergabung dengan koperasi. Di sejumlah kecamatan sudah ada koperasi petani sawit, dengan bergabung di koperasi petani sawit akan memiliki kekuatan dihadapan perusahaan.

“Sejak lama kami me­nya­rankan agar para petani sawit bergabung dengan koperasi. Lalu pengurus koperasipun harus kreatif membangun ko­munikasi dan kerjasama de­ngan perusahaan pengolah CPO. Lalu kemudian akan ada posisi tawar petani sawit de­ngan perusahaan,” katanya.

Sementara itu dari sisi teknis harga sawit yang cen­derung rendah ditengarai juga pengaruh mutu bibit yang rendah. Kualitas TBS yang hasil kebun petani Pessel u­mum­nya tergolong pada kelas batu dan banci.

Terkait dengan bibit sawit yang ditanam warga di Pessel Kepala Dinas Pertanian Ta­naman Pangan,Hortikultura Peternakan dan Perkebunan Pessel Afrizon Nazar me­nyebutkan, sulit memang me­mantau asal-usul bibit sawit yang ditanam petani daerah itu.

“Bibit yang ditanam bah­kan juga ada yang berasal dari buah yang jatuh lalu tumbuh. Tanaman sepertiini banyak yang dirawat petani.Jika ini yang terjadi maka dipastikan mutu TBS-nya kurang bagus,” kata Afrizon Nazar.

Disebutkannya, untuk meng­­hasilkan TBS super atau kualitas dura, maka asalusul bibit yang ditanam harus dari pengelola bibit yang te­rakre­ditasi. Dan tentu untuk men­dapatkannya perlu pro­sedur yang harus diikuti petani. “Jadi agar petani tidak me­rugi,kami menyarankan tanamlah saewit daribibit yang jelas dan telah melalui proses pembibitan sesuai dengan aturan,”katanya lagi.(h/har)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 26 Januari 2021 - 10:54:46 WIB

    Daftar 20 Negara Penyumbang Kasus Terbanyak Covid-19, Termasuk RI

    Daftar 20 Negara Penyumbang Kasus Terbanyak Covid-19, Termasuk RI Corona dunia per hari ini menembus angka 100 juta. Berdasarkan catatan Worldometers Corona, ada 100.254.847 kasus akumulatif COVID-19 di seluruh dunia, Selasa (26/1/2021)..
  • Selasa, 26 Januari 2021 - 08:55:20 WIB

    Gara-gara Pandemi, Pilot Ini Jadi Kuli Bangunan dan Pengantar Barang

    Gara-gara Pandemi, Pilot Ini Jadi Kuli Bangunan dan Pengantar Barang Hampir semua orang mengalami kesulitan selama pandemi. Terlebih mereka yang pekerjaannya terdampak besar karena aturan untuk tidak bepergian dan berkerumun. Pilot adalah salah satunya. Sejumlah pilot harus mengurangi jam terb.
  • Senin, 25 Januari 2021 - 23:26:50 WIB

    Presiden Meksiko Positif Terpapar Covid-19

    Presiden Meksiko  Positif Terpapar  Covid-19 Mexico menghadapi gelombang kedua pandemi Covid-19. Semua kalangan tidak luput terpapar,  termasuk Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador..
  • Senin, 25 Januari 2021 - 12:18:19 WIB

    Nama Buah Naga Diganti Jadi Teratai di Gujarat, Ini Alasannya

    Nama Buah Naga Diganti Jadi Teratai di Gujarat, Ini Alasannya Lantaran nama buah naga "memiliki asosiasi dengan China",  otoritas Gujarat, salah satu negara bagian di India, memutuskan mengubah nama buah tersebut. Hasilnya ternyata malah memicu banjir meme dan lelucon di lini masa medi.
  • Senin, 25 Januari 2021 - 11:28:19 WIB

    Mantan Menteri Yunani Ditemukan Tewas di Laut

    Mantan Menteri Yunani Ditemukan Tewas di Laut Seorang mantan menteri Yunani, Sifis Valirakis ditemukan tewas di laut pada hari Minggu (24/1) waktu setempat. Menurut Kantor Berita Athena, pria berusia 77 tahun itu sebelumnya hilang pada Minggu sore di lepas pantai pulau E.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]