Kotoran Diolah Menjadi Lembaran Rupiah


Rabu, 04 Maret 2015 - 19:09:39 WIB
Kotoran Diolah Menjadi Lembaran Rupiah

 

Untuk memproduksi 1,5 ton pupuk organik, KUBE Maskapai hanya membutuhkan dana kurang lebih Rp 1 juta yang merupakan swadaya anggota. Dana itu untuk membeli bahan seperti dedak padi halus dan bioteknologi NT45. Se­men­­tara bahan lain seperti sekam bakar, serbuk bekas gergaji mesin dan abu tempurung, merupakan sumbangan masyarakat yang memi­liki bahan tersebut.

Baca Juga : Kawasan 1000 Rumah Gadang Dilema antara Mimpi dan Kenyataan

Pupuk hasil produksi sendiri itu digunakan oleh anggota KUBE Maskapai untuk tanaman di sawah dan ladang. Selain dipakai oleh anggota, KUBE Maskapai juga menjual pupuk itu. “Sudah terjual tiga karung dengan harga Rp 50 ribu per karung. Itu harga promosi. Produksi selanjutnya, satu karung pupuk akan kami jual seharga Rp 70 ribu,” ujar Edo saat ditemui Haluan di Kampung Sungkai, Kelurahan Lambung Bukit Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (3/3).

Uang hasil penjualan pupuk, dimasukkan oleh KUBE Maskapai ke dalam kas kelompok, yang akan digunakan untuk modal produksi pupuk organik selanjutnya.

Baca Juga : Registrasi Perkara Konstitusi

KUBE Maskapai merupakan kelompok tani didirikan secara swadaya oleh masyarakat Kampung Sungkai. Kelompok ini adalah metamorfosis dari Kelompok Bela­jar (KOBAR) Maskapai yang ter­ben­tuk pada Agustus 2014.

“Kotoran sapi yang digunakan untuk memproduksi pupuk seba­nyak 1,5 ton itu sebagiannya adalah kotorsan sapi anggota KOBAR Maskapai yang ditambah dengna kotorsan sapi bantuan individu pejabat Pemerintah Kota Padang,” ungkap Edo.

Baca Juga : Pembiasaan Karakter Pembelajaran Online Masa Pandemi Covid-19

Saat ini, KUBE Maskapai ber­ang­gotakan 30 petani yang semuanya aktif mengukuti kegiatan dalam kelompok tersebut. Kegiatan sehari-hari kelompok itu adalah belajar cara pola tanam yang benar, belajar membuat pupuk organik, belajar beternak sapi dan mengelola koto­rannya, dan sebagainya.

Menurut Penanggungjawab KUBE Maskapai, Tasarudin, tujuan kelompok itu dibentuk untuk me­ngajarkan petani pola pertanian yang benar dan mengembalikan pertanian ke sistim organik, sesuai dengan program Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Selama ini, petani bergantung ke pupuk kimia. Dampak penggunaan pupuk kimia selain merusak tanah, petani jadi tergantung kepada pupuk kimia untuk bercocok tanam. Kemudian, hasil produksi dengan menggunakan pupuk kimia tidak maksimal. Pada­hal, fungsi pupuk kimia bisa digan­tikan oleh pupuk organik.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq Bagai Santan Berbalas Tuba

“Jika menggunakan pupuk orga­nik, biaya produksi tanam bisa lebih murah karena petani memproduksi pupuk sendiri. Kelebihan lainnya menggunakan pupuk organik, hasil produksi pertanian meningkat dan kesuburan tanah terjaga,” tuturnya.

Masyarakat Kampung Sungkai, terutama petani anggota KUBE Maskapai, sudah menggunakan pupuk organik sejak November yang lalu. Mereka merasakan dampak penggunaan pupuk tersebut.

“Enam bulan pertama menggu­nakan pupuk organik, mengem­balikan kondisi tanah atau menghi­langkan unsur kimia tanah karena penggunaan pupuk kimia sebelum­nya. Selanjutnya, mengembalikan kesuburan tanah,” tutur Tasarudin.

KUBE Maskapai tahu cara mem­p­roduksi pupuk organik sete­lah diajarkan oleh penyuluh, bagai­mana membuat pupuk organik dengan teknologi NT45. Kelompok itu membayar dengan uang swadaya anggota, penyuluh yang merupakan konsultan pertanian dari PT Nan Tembo.  “Setiap anggota membayar sum­bangan Rp 10.000 dua kali sebu­lan,” sebutnya.

Saat pertama kali memproduksi pupuk organik dalam skala yang besar menurut kelompok itu, KUBE Maskapai memulainya pada sore hari. Setelah semua bahan yang dibutuhkan untuk campuran koto­ran sapi dan NT45 terkumpul, anggota KUBE Maskapai membuat jadwal untuk berjaga di rumah produksi milik seorang anggota dengna luas 3 x 4 meter.

“Untuk membuat pupuk orga­nik, suhu adukan bahan tidak boleh melebihi 48 derajat. Oleh sebab itu, bahan harus ditunggui. Kalau termo­meter yang diletakkan di atas bahan menunjukkan suhu hampir menc­a­p­ai 48 derajat, maka anggota yang berjaga harus mengaduk bahan agar suhu stabil kembali,” terang Edo.

“Saat ini, masing-masing anggota sudah bisa memproduksi pupuk organik untuk kebutuhan sendiri. Inilah tujuan kami sebenarnya membentuk KUBE. Bahwa pro­duksi scara pabrik dipindahkan ke rumah petani,” tuturnya.

Keberhasilan KUBE Maskapai memproduksi pupuk organik, dicon­toh oleh Kelompok Tani (Keltan) Permata Ibu dari Kota Padang Panjang. Dua hari Keltan tersebut belajar di Kampung Sungkai. KUBE Maskapai berencana mengirim anggota ke Keltan Permata Ibu untuk diajarkan membuat pupuk organik, sampai semua anggota Keltan itu tahu cara memproduksi pupuk sendiri.

Agar bisa memproduksi pupuk organik lebih banyak, KUBE Mas­kapai berharap kepada Pemerintah Kota Padang dan donatur-donatur lainnya, untuk diberikan bantuan sapi. Meski begitu, KUBE Maskapai tidak ingin berada di bawah aturan pihak pemberi sumbangan, melain­kan cukup diberikan kepercayaan dengan bukti yang bisa diperiksa di Kampung Sungkai.

“Kami hanya ingin mandiri dari hasil penjualan pupuk,” ujarnya.

Keberhasilan KUBE Maskapai memproduksi pupuk organik ini, berbanding terbalik dengan Unit Produksi Pupuk Organik (UPPO) Sungkai Permai yang berada di bawah pengawasan Dinas Pertanian Peternakan Perkebunan dan Kehu­tanan (Dispernakhutbun) Kota Padang. UPPO ini memiliki 10 orang pengelola. Namun 2 pengelola sudah mengundurkan diri.

UPPO ini didukung dengan dana Rp 200 juta yang merupakan ban­tuan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia, yang masuk pada 9 Desember 2014. Hingga saat ini, UPPO Sungkai Permai belum memproduksi pupuk organik. Pada­hal kelompok itu sudah diberikan 10 ekor sapi, sudah membangun kandang sapi, rumah kompos, me­miliki mesin pengolah pupuk or­ganik dan becak motor untuk me­ngangkut bahan-bahan untuk mem­produksi pupuk.

Menurut Ketua UPPO Sungkai Permai, Rimra, kelompoknya be­lum memproduksi pupuk karena ang­gotanya sedang sibuk bertanam. “Saat ini kami sedang mulai mem­produksi pupuk organik,” katanya. (*)

 

Laporan: HOLY ADIB

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 21 Januari 2021 - 21:41:45 WIB

    Kawasan 1000 Rumah Gadang Dilema antara Mimpi dan Kenyataan

    Kawasan 1000 Rumah Gadang Dilema antara Mimpi dan Kenyataan Sebentar lagi akan selesai pekerjaan revitalisasi 33 Rumah Gadang dan penataan lingkungan beserta pembangunan Menara Pandang berikut Pentas Budaya beserta bangunan los etalase souvenir di Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Pa.
  • Selasa, 19 Januari 2021 - 16:43:09 WIB

    Registrasi Perkara Konstitusi

    Registrasi Perkara Konstitusi Ada yang bersorak riang. Begitu membaca berita di media tentang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar. Seolah-olah Pemohon/Penggugat PHPU sudah menang di Mahkamah Konstitusi (MK). Yang me.
  • Senin, 11 Januari 2021 - 21:54:30 WIB

    Pembiasaan Karakter Pembelajaran Online Masa Pandemi Covid-19

    Pembiasaan Karakter Pembelajaran Online Masa Pandemi Covid-19 Sejak ditetapkannya masa Pandemi akibat serangan ganas Covid-19 maka seluruh aspek aktivitas manusia mengalami perubahan, sebagai dampak dari pemberlakuan Lock Down atau PSBB yang terus berlanjut sampat sekarang. Mulai dari k.
  • Senin, 04 Januari 2021 - 13:07:17 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq Bagai Santan Berbalas Tuba

    Prabowo dan Habib Rizieq Bagai Santan Berbalas Tuba HARIANHALUAN.COM - Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Rabu, 30 Desember 2020 - 17:58:00 WIB

    Catatan Akhir Tahun (3): RAKYAT TAK MINTA BERLEBIHAN

    Catatan Akhir Tahun (3): RAKYAT TAK MINTA BERLEBIHAN Sebenarnya rakyat dalam kondisi sulit seperti sekarang ini tidaklah meminta yang muluk-muluk atau berlebihan kepada pemerintah. Rakyat tampaknya hanya mengiginkan, agar di tahun 2021 nanti pemerintah menciptakan situasi bangs.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]