DBD Berjangkit di Singkarak


Ahad, 08 Maret 2015 - 20:00:08 WIB
DBD Berjangkit di Singkarak

Peristiwa tersebut membuat Amrilzal dan keluarganya terpukul. Dengan sedikit terbata-bata dia menceritakan kondisi Lani yang awalnya menderita demam dan panas. Untuk memberikan per­to­longan Amrilzal dan istrinya Lin sempat membawa anaknya ke salah satu klinik dokter yang ada di Kota Solok. Namun karena demam dan panas yang cukup tinggi, dokter menya­rankan agar Lani dirujuk untuk menjalani perawatan yang lebih intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Solok. ‘Saya merasa takut ketika anak saya divonis menderita demam berdarah,” ujar Amrilzal singkat dengan mata berkaca-kaca men­jawab Haluan di kediamannya Minggu (8/3)

Baca Juga : Kematian Karena Covid-19 di Sumbar Bertambah, Total 586 Kasus

Lani yang masih bersekolah di Taman Kanak-Kanak (TK) di dekat rumahnya itu, merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Sebe­lum meninggal Lani sempat men­jalani perawatan selama 4 hari di RSUD Solok. Namun selama men­jalani perawatan tersebut, ter­nya­ta penyakit Lani semakin parah se­hingga gadis kecil yang terkenal lincah dan periang inipun terpaksa harus dirujuk ke Rumah Sakit M. Djamil Padang untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

Mendengar kondisi kesehatan Lani yang semakin memburuk dari dokter yang merawatnya di RSUD Solok, Amrilzal tidak bisa tenang. Apalagi dia harus menerima kenya­taan dari dokter di RSUD Solok untuk kembali merujuk Lani ke rumah sakit M. Djamil Padang karena kondisi kesehatannya yang kian parah.

Baca Juga : Turun Drastis, Kasus Positif Covid-19 di Sumbar Bertambah 44 Orang

Tak ada pilihan lain bagi Am­rilzal yang sehari-hari bekerja seba­gai Kepala Jorong Kubang Gajah Nagari singkarak itu, selain mem­bawa anak perempuan satu-satnya ini, ke rumah sakit M. Djamil Pa­dang demi kesembuhan Lani. Na­mun, gadis yang dikenal lucu ini, tak mampu bertahan dari deraan pe­nyakit DBD yang terus meng­gerogoti trambosit darahnya.

K­ondisi fisiknya Lani terus me­nu­run dan melemah, akhirnya me­ninggal dunia. “Baru beberapa jam dirawat, anak saya meninggal,” kenang Amrilzal yang sempat me­ngen­dong putrinya ke pandan pa­kuburan itu.

Baca Juga : Pasien Sembuh Covid-19 di Sumbar Mencapai 24.233 Kasus

Malam itu juga jasad Lani lang­sung dibawa ke rumah duka di Jorong Kubang Gajah, Nagari Sing­karak untuk disemayamkan.

Wali Nagari Singkarak Arman menyebutkan selain Lani, memang ada beberapa masyarakatnya yang terserang penyakit DBD. Dan pihak nagaripun telah melayangkan surat kepada pemerintahan Kabupaten Solok melalui Dinas Kesehatan untuk segera menyikapi dan me­ngam­bil tindakan atas kasus DBD yang me­nyerang masya­rakatnya dengan segera melakukan fogging di lokasi-lokasi yang dikhawatirkan menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti.

Baca Juga : Alhamdulillah! Bayi Penderita Ekstrofi Bulli Bladder di Solok Dibantu Anggota DPR

Pihak nagari sendiri baru men­dapatkan balasan surat pada hari Minggu (8/3) untuk menghadiri kegiatan sosialisasi penanggulangan penyakit DBD.  Dari informasi yang didapat, ada sejumlah warga nagari Singkarak yang menderita penyakit demam dengan panas tinggi. Di antaranya Presko, (6), Yuki, (4), Eli,  (55),ý Danesa, (2), Usnah (4),Ara, (3), Sakira, (2), dan Anggi (13) mereka sempat dirawat karena menderita demam dan panas tinggi. ” Kita cemas bila penularan DBD makin meluas,” ujarnya.

Penyakit demam berdarah mulai berjangkit sejak bulan Oktober 2014. Sampai awal Maret 2015, belum ada upaya pihak dinas terkait memberi solusi atas  kejadian ini. Padahal sudah puluhan masarakat yang menderita DBD dan dirawat di RSU Solok mau pun di puskesmas Tanah Garam,hingga dilarikan ke RS.M, Jamil Padang.

Kepala Dinas Kesehatan Ka­bupaten Solok Dr. Mirsal ketika dikonfirmasi soal wabah demam berdarah ini, membenarkan telah terjadi korban meninggal akibat DBD. “ Kita memang menerima laporan, meninggal 1 orang. Karena itu, kita imbau masyarakat agar selalu melakukan bersih-bersih di lingkungannya,” papar Mirsal, Ming­gu (8/3) melalui telepon selulernya.

Soal berapa jumlah warga yang terkena wabah DBD, Kadis Kese­hatan Kabupaten Solok belum men­dapat laporan pasti. Kecuali laporan meninggal satu orang, tidak ada laporan warga lain yang terjangkit.

Terhadap sebaran bakteri DBD, pihaknya mengimbau supaya masya­rakat menggiatkan gotongroyong.

Kepada camat Singkarak, Mirsal mengaku sudah lama mengharapkan dilakukan gotoroyong yang dikait­kan dengan PSN (Pemberantasan Sarang Nya­muk). “ Tetapi masya­rakat kita sudah malas sekarang. Mereka lebih suka mencari batu akiak daripada gotong­royong,” jawabnya.

Terkait permintaan fogging oleh pemerintah nagari, Mirsal menye­butkan hal itu kurang baik dilakukan karena akan menimbulkan dampak lain terhadap pencemaran ling­kungan.

Selain DBD, Misral juga me­ngingatkan masyarakat Ka­bupaten Solok agar hati-hati terhadap se­rangan wabah difteri. Wabah difteri sangat mudah berkembang, terutama menye­rang kesehatan anak-anak. (h/ndi)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]