Jasigo Perlu Sentuhan Industri


Senin, 09 Maret 2015 - 19:00:13 WIB
Jasigo Perlu Sentuhan Industri

Menurut dia, harus diu­payakan terus menerus untuk mengembangkan Jesigo ter­sebut. Sehingga bisa ber­nilai lebih dari sekedar Agrobisnis. “Seharusnya produk Jesigo ini bisa menjadi sebuah Agro­industri, seperti dibangunnya pabrik sirup di Kecamatan Gunuang Omeh. Karena itu SKPD terkait perlu men­jadi­kannya sebagai rencana, akhir­nya bias diprogramkan kede­pannya,”tegas wabup.

Baca Juga : Kematian Karena Covid-19 di Sumbar Bertambah 5 Orang

Lebih jauh diingatkannya, berkebun jesigo selain mampu meningkatkan taraf hidup pe­tani, juga dinilai membuka peluang pekerjaan baru, seka­ligus akan mampu memi­ni­mal­kan angka kemiskinan, aki­bat pengangguran ber­kurang. “Ka­lau sebuah industri didi­rikan di Kabupaten Lima­puluh Kota, maka harga di­ting­kat petani bisa dista­bil­kan,”ujarnya.

Setiap tahun Pem­kab Li­ma­puluh Kota, melalui Dinas Ta­naman Pangan, Hor­ti­kul­tura dan Perkebunan Lima­puluh Kota, selalu berupaya me­­ngem­bangkan dengan mem­­­­­per­luas lahan tanaman je­si­go dikawasan itu, melibatkan kelompok tani pada tiga ke­camatan. Selain Kecamatan Gunuang Omeh, juga dilak­sanakan pembukaan ke­bun jesi­go di Kecamatan Bu­kik Barisan dan Ke­ca­matan Suliki. “Ta­hun 2015 ini luas tanaman kebun jesigo ertambah 106 hektare lagi yang akan dikelola puluhan ke­lompok tani. Se­hingga kebun jesigo yang men­dapat bantuan pemerintah su­dah lebih dari 350 hektare. Belum termasuk puluhan lagi kebun jeruk yang dikelola pe­tani secara perorangan,” tam­bah Kadis Tanaman Pa­ngan, Holtikultura dan Perke­bunan, Afrizul Nazar, secara terpisah.

Baca Juga : Kota Padang dan Tanah Datar Sumbang Pasien Positif Covid-19 Terbanyak di Sumbar

Untuk mendukung pe­ma­saran jesigo supa­ya terjamin, kelom­pok tani akan mem­ben­tuk STA (Sub Terminal Agri­bisnis). STA. meru­pakan tem­pat transaksi komoditi jeruk, untuk menampung dan mema­sarkan jeruk ke tempat tujuan. Wilayah kerja STA diren­ca­nakan meliputi 3 keca­matan di sentra produksi Je­sigo dengan kapasitas produksi rata-rata 20 ton/tahun per hektare. “Kita optimis, kalau jesigo dikelola secara profes­sional, tenaga kerja bisa dise­rap, utamanya pekerja di ke­bun, pengangkutan, peme­tik buah dan pedagang pe­ngum­pul. Banyak pihak yang akan terli­bat dalam usaha tersebut. Lagi­pula kawasan Koto Tinggi dimasa mendatang diharapkan sebagai objek wisata sejarah dan wisata alam serta argoin­dustri, ditandai dengan diba­ngunnya mosium nasional di Air A­ngek,”ujarnya.

Kepala BP3K, Deswan Pu­tra, menyebut Rakor dilak­sanakan sekali dalam tiga bulan, untuk meningkatkan koordinasi antara BP4K de­ngan seluruh jajaran yakni, penyuluh di BP3K yang ber­kaitan dengan SKPD Dinas Kehutanan, Dinas Peri­kanan, Dinas Peternakan dan Dinas Ketahanan Pangan, Hol­ticul­tura dan Perkebunan, agar penyuluh BP3K di lapangan mengetahui program yang dila­kukan SKPD lain. (h/zkf)

Baca Juga : Pasien Sembuh Covid-19 di Sumbar Mencapai 23.803 Kasus

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]