Efek Kemenangan Golkar Ancol


Rabu, 11 Maret 2015 - 19:48:44 WIB
Efek Kemenangan Golkar Ancol

Bermain Cantik

Baca Juga : RS Penuh, Wali Kota Madiun Pinjam Gerbong Kereta untuk Isolasi Pasien Covid

Politik Golkar dalam pe­merintahan selama ini, tak bisa kita pungkiri sebagai partai yang licin dalam berpolitik praktis. Semua itu terbukti, meskipun Golkar telah tum­bang setelah Soeharto dileng­serkan, oleh gelombang refor­masi. Dalam hal ini, Golkar kembali bernyali dengan mun­­­culnya ia pada era refor­masi dan memenangkan pemi­­lu legislatif pada tahun 2004.

Permainan cantik Golkar, dengan tetap berada pada pemerintahan adalah saat ia memegang posisi ‘sentral” dalam kabinet Indonesia Ber­satu SBY Jilid satu dan dua. Pada periode pertama SBY, Golkar tak memberikan su­ara­nya kepada Jusuf Kalla yang saat itu, digandeng oleh Demokrat. Tetapi, Golkar mendukung Wiranto. Dalam hal ini, permainan cantik Golkar terlihat, saat masa pemerintahan SBY-JK—po­sisi tawar sangat kuat karena mempertimbangkan kekuatan parlemen. Pada periode kedua SBY, yang berpasangan de­ngan Boediono, Golkar de­ngan calon Jusuf Kalla sebagai calon presiden  tidak berhasil memenangkan kursi ke­pre­sidenan. Tetapi, dalam mate­matika politik Golkar, mereka tetap mendapatkan bagian dalam “jatah kursi men­teri” pada pemerintahan SBY-Boe­diono.

Baca Juga : Sinyal SOS di Pulau Laki Ditelusuri, Camat Kepulauan Seribu Selatan Beri Penjelasan

Sejarah kembali berulang, maka dalam memandang Gol­kar kita tak bisa lepaskan dari rekam jejak partai ini dalam berpolitik. Saat pemerintahan Jokowi-JK, meskipun ada dua bentuk kongres Golkar. Versi Aburizal Bakrie, itu melak­sanakan kongres di Bali, dan versi Agung Laksono melak­sanakan kongres di Ancol. Perdebatan panjang kekuasan di “internal” Golkar kembali menjadi sorotan tajam, bahwa Golkar tak akan bisa lari dari kekuasaan, bahwa mereka ada­lah “Play maker” dalam setiap kekuasaan pemerinatah.

Karena alasan kader Gol­kar yang tak  memiliki posisi tawar yang  kuat, makanya Golkar menjadi bagian dari Prabowo sebagai tim pe­menangan dalam pemilu presi­den 9 Juli 2014. Makanya, da­lam hal ini terlibat jelas bahwa masalah Golkar tiap musim pemilu adalah figur ketokohan yang akan mereka calonkan menjadi presiden. Untuk me­sin partai daerah, Golkar sampai saat ini, masih bisa dikatakan sebagai partai yang kuat dalam pengelolaan partai.

Baca Juga : Simak Penjelasan Kemenkes yang Sebut Vaksin Pfizer Tak Harus Diuji Klinis

Pilkada

Sebentar lagi daerah ba­nyak melaksanakan Pilkada secara serentak ataupun tidak. Sebagai partai yang masih bisa dikatakan mengakar dalam kesatuan akar rumput, Golkar sebagai partai yang kadernya banyak menjadi Kepala Dae­rah. Dalam hal ini bisa akan kehilangan “posisi” di daerah. Peringatan itu, juga pernah disampaikan oleh Akbar Tand­jung mengenai penyelesaian konflik internal dan mem­persiapkan diri untuk per­tarungan kepala daerah.

Baca Juga : Korban Teknologi Digital, Koran Suara Pembaruan Berhenti Terbit 1 Februari 2021

Golkar selama peme­rinta­han Orde Baru, sudah menjadi partai yang mengakar dari pusat sampai dengan daerah. Meskipun, habisnya masa Or­de Baru dalam perpolitikan nasional, saat ritme singkat Soeharto telah habis. Maka, Golkar tetap menjadi bagian penting dalam demokrasi pas­ca reformasi.

Generasi Tua

Golkar bisa dikatakan se­ba­gai partai veteran, masa ideologis partai ini masih bekas “pengagum” Orde Baru. Kehawatiran yang akan dite­rima oleh Golkar untuk kede­pan adalah dengan memu­darnya generasi tua dalam perpolitikan  Golkar masa depan. Munculnya, kebijakan yang memenagkan Agung Lak­sono dalam “sengketa internal” soal pemegang kepengurusan yang sah. Ini adalah solusi bagi Golkar, sebagai partai yang banyak menarik kader baru dalam kepengrusan Golkar akan memberikan arah baru, komposisi kepengrusan Gol­kar dalam mempersiapakan estafet yang cepat kepe­mimpinan generasi muda.

Golkar Ancol yang ber­gabung dengan Agung Lak­sono, lebih dominan pada persatuan organisasi sayap yang ingin berperan dalam “kepengurusan “partai. Seba­gai partai yang panjang kade­risasinya, Golkar membuka peluang tersebut dengan mun­culnya “kepengurusan” gene­rasi muda, dalam kepe­mim­pinan Agung Laksono.

Memang tak terlalu tua juga kepengurusan Ical, tetapi ke­kuatan di kepengurusan Ical tak memberikan peluang kepa­da kader-kader pontensial dari organisasi sayap Golkar untuk ber­karir di kepengrusan Gol­kar. Hal inilah, yang kita sambut positif dari keme­nangan dari kepengurusan Golkar, yang disahkan oleh pemerintah. Pengaruh kekua­tan modal Ical dalam mem­bangun partai dengan pundi-pundi uang. Menyebabkan, pergerakan dan mesin partai tidak militan sampai ke akar dalam garis ideologi yang terjaga.

Harapan kader baru, untuk berperan dalam “politik na­sional” adalah terobosan Gol­kar sebagai partai yang banyak melahirkan pentolan-pentolan politisi papan atas. Dalam berpolitik yang ma­tang, Gol­kar selalu menjadi kiblat partai lainnya dalam mengelola sum­ber daya anggaran dan manu­siannya. Kita berharap, Golkar tak menjadi partai dinasti, yang menghambat pergerakan ka­der-kader terbaik Indonesia untuk berproses di Golkar.

Kepemimpinan Agung Lak­­sono, dengan merangkul anak-anak muda yang ada di barisan organisasi sayap partai, bukti bahwa Golkar menjadi alternatif partai yang tak bisa dianggap sepele dalam per­politikan Indonesia dari masa ke masa.***

 

ARIFKI
(Analis Politik Dan Pemerintahan UKM Pengenalan Hukum Dan Politik Universitas Andalas)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]