Sarpin–Feri dan Charles Berdamai


Senin, 16 Maret 2015 - 20:11:59 WIB
Sarpin–Feri dan Charles Berdamai

Kesepakatan tersebut di­buat setelah dilakukannya mediasi antara dua kubu yang diwadahi oleh Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Fakultas Hu­kum (FH) Universitas Andalas (Unand).

Baca Juga : Hari Pertama Kerja Usai Lebaran, Pemko Padang Sidak Kehadiran ASN

Proses mediasi yang ber­langsung pada Kamis (12/3) di salah satu hotel di Kota Tang­gerang tersebut mem­perte­mukan secara langsung Sarpin Rizaldi, Feri Amsari dan Char­les Simabura. Turut hadir da­lam proses mediasi tersebut Dekan FH Unand Zainul Dau­lay serta dua guru besar FH Unand Saldi Isra dan Elfindri.

“Dalam kasus ini IKA FH Unand mengambil peran se­bagai penengah dan fasilitator dalam mediasi. Tentunya ka­rena IKA FH Unand me­rasa ber­tanggung jawab atas per­seteruan yang terjadi antar alum­ni ini. Hasil dari mediasi, dipilih jalan damai atas dasar ikatan abang dan adik (senior-junior). Tidak ada lagi proses hukum yang akan dilanjutkan,” ucap Aditia Warman selaku ketua DPP IKA FH Unand.

Baca Juga : Libur Lebaran Usai, Dinkes Kota Padang: Masyarakat Harus Lakukan Tes Swab

Dalam proses mediasi lan­jut Aditia, Feri Amsari dan Charles Simabura menjelas­kan kepada Sarpin Rizaldi bahwa pernyataan ‘dibuang sepanjang adat’ yang menyulut pertikaian bukanlah pernya­taan dalam ruang lingkup hukum adat di Minangkabau, melainkan dalam lingkup keil­muan. Se­dang­kan per­debatan ilmiah yang ter­jadi soal pu­tu­san pra­per­adi­lan Komjen Bu­di Gunawan yang dika­bulkan Hakim Sarpin tetap harus di­hormati sebagai kebebasan dan kemerdekaan aka­demik.

“Atas nama IKA FH Unand, kita menyampaikan permohonan maaf kepada Sarpin Rizaldi. Bahwa yang telah terjadi ini menjadi pe­lajaran di masa depan bagi semua alum­ni FH Unand. Per­ma­salahan yang terjadi me­rupakan mu­rni ben­tuk kesalah­pahaman. Ke depan semoga menjadi pe­lajaran bagi semuanya agar lebih berhati-hati dalam ber­bicara,” jelas Aditia lagi.

Sementara itu, Charles Simabura ketika dihubungi tadi malam via telepon me­ngatakan, ia dan Feri Am­sari menghormati hasil me­diasi yang telah dilakukan an­ta­ra mereka dan Sarpin Ri­zaldi.

“Tentunya saya dan sau­dara Feri Amsari sangat meng­hormati proses mediasi yang telah dilakukan dan di­pra­karsai oleh IKA FH Unand. Begitu juga dengan hasil me­diasi (jalan da­mai, red) yang didapatkan. Kami hormati itu,” ucap Charles singkat.

Sebagaimana diberitakan se­belumnya, Sarpin merupakan pe­lapor dalam kasus pencemaran nama baik, fitnah dan penghinaan ter­hadap dirinya yang dilakukan oleh Feri Amsari dan Charles Samabura yang merupakan dosen FH Unand Padang. Laporan tersebut diantarkan ke Polisi Daerah (Polda) Sumatera Barat pada Jumat (27/2).

Kepada sejumlah wartawan saat melapor, Sarpin mengaku ter­sing­gung dengan pernyataan dua junior­nya tersebut. “ Tidak saja menghina saya, tapi juga kaum saya. Malah telah menyebar kemana-mana, saya tak terima,” ungkap Sarpin saat itu.

Ucapan yang membuat Sarpin tersinggung terjadi ketika ber­lang­sung aksi demo ratusan mahasiswa, aktivis sosial, dari beberapa Uni­ver­sitas di Kota Padang, di depan kantor Gubernur, Sumbar Senin (16/2/2015).  Mereka tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sumatera Barat dalam Gerakan Satu Padu Lawan Korupsi (Sapu Koruptor).

Aksi demo tersebut bertepatan dengan putusan gugatan pra­pera­dilan Komjen Budi Gunawan (BG) ter­hadap Komisi Pemberantasan Ko­rupsi (KPK).   Dalam putusan itu, Hakim Sarpin menerima gugatan praperadilan Komjen Budi Gunawan.

Ada empat tuntutan pendemo ditujukan kepada Presiden Joko Widodo, yakni menghentikan proses kriminalisasi komisioner KPK, Staf KPK, dan penggiat antikorupsi. Membatalkan pelantikan Komjen BG sebagai Kapolri. Menolak pen­calonan Komjen Budi Waseso se­bagai calon Kapolri. Melakukan pemilihan Ka­polri melalui uji pub­lik, serta uji  di KPK dan PPATK.  (h/mg-isq)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]