Damai Indah dari Hakim Sarpin dan Dua Juniornya


Selasa, 17 Maret 2015 - 18:50:57 WIB
Damai Indah dari Hakim Sarpin dan Dua Juniornya

Dalam kasus ini IKA FH Unand mengambil peran sebagai penengah dan fasilitator dalam mediasi. Tentunya karena IKA FH Unand merasa bertanggung jawab atas perseteruan yang terjadi antar alumni ini. Hasil dari mediasi, dipilih jalan damai atas dasar ikatan abang dan adik (senior-junior). Ketua DPP IKA FH Unand Aditia Warman mengatakan tidak ada lagi proses hukum lebih lanjut terkait perseteruan antara Hakim Sarpin Rizaldi dengan Feri Amsari dan Charles Simabura.

Baca Juga : Besok, 19 Perusahaan Mengawali Vaksinasi Gotong Royong

Feri Amsari dan Charles Simabura adalah yunior Sarpin Rizaldi di Fakultas Hukum Unand. Sarpin alumni Fakultas Unand angkatan 1982. Sedangkan Feri juga alumni Fakultas Hukum Unand angkatan 1999 dan wisuda 2004. Sama dengan Feri, Charles Simabura juga alumni Fakultas Hukum Unand angkatan 1999 dan wisuda tahun 2004. Feri dan Charles sejak tahun 2005 sama-sama mengajar di Jurusan Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Unand.

Hakim Sarpin Rizaldi SH bersama beberapa rekannya melaporkan dua Dosen Fakultas Hukum Universitas Andalas (Unand) yakni Dr Feri Amsari SH MH (35) dan Charles Simabura SH MH (36) di Mapolda Sumbar, Jumat (27/2). Pelaporan tersebut, karena Sarpin tidak terima atas peryataan dua terlapor  “dibuang secara Adat” terkait dengan keputusannya menerima gugatan pra peradilan yang diajukan calon Kapolri Komjen Budi Gunawan. Pada sidang tersebut Sarpin Rizaldi, pria asal Pariaman tersebut bertindak sebagai hakim tunggal.  Laporan itu diterima Kanit Siaga II SPKT Polda Sumbar Kompol Alhamdi dengan nomor LP/58/II/2015-SPKT Polda Sumbar atas kasus dugaan penghinaan.

Baca Juga : Lisda Hendrajoni Usulkan Penguatan BNPB

Penyelesaian sengketa antara kedua belah pihak secara non litigasi telah membuahkan hasil menyejukan bagi kedua belah pihak. Tentu saja ada tarik ulur yang didasari kebesaran jiwa pada proses perdamaian tersebut. Jika proses hukum terus berlanjut tentu akan melelahkan kedua belah pihak. Proses hukum di kepolisian, kejaksaan dan pengadilan juga akan memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, membutuhkan konsentrasi pemikiran dan tidak terkecuali dana tentunya. Penunaian kewajiban pihak yang bersengketa  di lembaga tempat mereka bekerja juga akan terganggu. Karena itulah menyelesaian secara non litigasi menjadi solusi dari persoalan ini.

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari sengketa antara hakim Sarpin Rizaldi dengan dua juniornya, Feri Amsari dan Charles Simabura. Di antaranya adalah sikap dan jiwa besar yang dimiliki mereka bertiga (Sarpin, Feri dan Charles) dan para mediator. Bagi hakim Sarpin tentu mengakhiri laporannya di jalur hukum atas dua orang yang diduga menghinanya tentu bukan persoalan gampang. Tentu saja keputusan Sarpin memberi maaf sudah melalui pergulatan hati, jiwa, pemikiran dan pertimbangan mendalam.

Begitu pula dengan Feri Amsari dan Charles Simabura, selaku orang muda yang juga baru saja selesai mengasah dan mempertebal ilmu mereka di bidang hukum, meminta maaf atas sebuah pernyataan mereka yang juga bisa jadi dilandasi semangat penegakkan hukum di Tanah Air bukan pula perkara sepele.

Namun pada akhirnya kata-kata permintaan maaf tersebut mesti mereka sampaikan kepada hakim Sarpin Rizaldi sebagai win-win solution bagi kepentingan yang lebih besar dalam perjuangan penegakkan hukum di Indonesia. Di sisi lain peran serta jasa IKA FH Unand selaku inisiator dan mediator perdamaian sangatlah besar. Ini juga akan menjadi contoh dalam penyelesaian sengketa baik di peradilan maupun di luar peradilan. Sebab prosesnya cepat, biaya lebih murah dan tidak menyisakan kesimpulan  pihak pemenang dan pihak yang kalah. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]