Rektor IAIN IB Dicopot


Rabu, 18 Maret 2015 - 20:26:30 WIB
Rektor IAIN IB Dicopot

Empat petinggi IAIN IB terse­but dicopot karena tiga pelang­ga­ran. Pertama, karena  membuka lokal jauh Pasca Sarjana (S2) di Pasaman dan Jambi. Kedua, sangat terlambat dalam pengurusan akre­ditasi pasca sarjana. Ketiga, karena menggunakan langsung uang kuliah atau SPP mahasiswa pasca sarjana, tanpa disetor dulu ke Negara.

Baca Juga : PT Medialab Indonesia Buka Lowongan Kerja, Minimal D3 Analis Kimia

Sumber Haluan di IAIN IB membenarkan tentang pelanggaran dan pencopotan tersebut. “Benar, kami (IAIN IB-red) dapat musi­bah,” kata sumber tersebut. In­formasi lain menyebutkan bahwa pencopotan tersebut sudah sejak sepekan yang lalu. Bahkan sejak sepekan itu baik rektor, WR I, WR II dan Direktur Pasca Sarjana IAIN tidak masuk kantor lagi.

Hari ini, Kamis (19/3) akan dilakukan pelantikan pejabat se­men­tara rektor dan jajarannya  untuk menjalankan operasional kampus yang rencananya akan di­kon­versi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol  ter­sebut. Pjs Rektor yang akan dilantik, yakni Prof Dr H Asas­riwarni MH yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama. Pelantikan akan dilangsungkan di Kampus Pas­casarjana IAIN IB Padang, Jl. Sudirman Padang.

Baca Juga : Pemko Padang Apresiasi Ketersediaan Pangan Strategis Jelang Lebaran 2021

Sumber berwenang yang dihu­bungi Haluan di luar IAIN IB menyebutkan, pelanggaran mem­buka kelas jauh sebenarnya tidak begitu berat, bahkan sampai kepada pencopotan dari jabatan secara berjamaah. “Saya pikir ada beberapa kesalahan lain yang sangat fatal termasuk soal pengelolaan keuangan dan itu mungkin saja sudah dibe­rikan peringatan berkali-kali oleh Kemenag, karena IAIN tidak berada di bawah Dikti tapi di bawah Ke­menterian Agama RI. Jika itu terkait dengan pengelolaan keua­ngan bisa saja berimplikasi huku­m pidana,” kata sumber yang meminta iden­titasnya tidak dimuat tersebut.

Humas IAIN Imam Bonjol Afri­nal Aliman saat dihubungi Haluan berkali-kali melalui sambungan telepon selular tidak menyambung, karena ponselnya tidak aktif. Begitu juga dengan Rektor Makmur Syarif dan WR II Salmadanis ketika di­kon­firmasi, ternyata ponsel mereka sama-sama tidak aktif. Salah satu alumni IAIN IB, Jontra, saat dihu­bungi Haluan mengaku belum mengetahui informasi tentang pen­copotan rektor dan dua wakil rektor IAIN IB. Dia sangat kaget menerima informasi dari Haluan perihal pelanggaran dan pencopotan sejum­lah pimpinan tinggi eks kampusnya secara serempak. “Saya sama sekali belum tahu. Tapi kondisi ini me­mang sangat luar biasa,” katanya di ujung sambungan telepon selular.

Alumni IAIN IB, Mafri Amir, yang kini dosen Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyesalkan kondisi IAIN IB terkait perilaku dosen yang ada di kampus tersebut. Seperti beberapa waktu lalu  mun­dur dirinya tiga doktor yang kasus­nya di luar logika. Diperparah lagi dengan dicopotnya Rektor IAIN Imam Bonjol oleh Dirjen Kemenag RI, terkait kebijakannya membuka lokal jauh.

“Saya merasa prihatin dengan kondisi perilaku pejabat di kampus di IAIN. Sebagai alumni kita merasa malu terhadap perilaku yang tak bisa dicontoh tersebut,” kata Mafri saat pemilihan Ketua Iluni IAIN IB Jabodetabek beberapa waktu lalu di Jakarta.

Hal senada juga dikatakan Murni Jamal, alumni Angkatan 61 IAIN Imam Bonjol yang turut prihatin dengan pola kepemimpinan dosen di kampus IAIN IB. Dia menya­rankan agar pemimpin IAIN IB adalah orang yang dapat bersinergi dengan pemerintah daerah, alumni, pengusaha dan stakeholder lainnya. Sehingga dapat terkontrol dan  diingatkan pola kepemimpinannya.

“Saya tidak menyangka kondisi IAIN IB yang nampaknya melang­kah mundur. Padahal IAIN yang lain melangkah maju,” sebut mantan Dekan Fakultas Sastra Universitas Al Azhar ini.

Dia menceritakan soal tawaran IAIN IB menjadi UIN bersama IAIN Jakarta dan Yogya, Bandung dan Makassar oleh Menteri Agama Tarmizi Taher  tahun 1996 silam. Kampus-kampus IAIN yang lain sudah berubah jadi UIN, sedangkan IAIN tidak dan kondisinya jauh tertinggal. Sekarang IAIN IB terting­gal oleh IAIN Riau, Palembang dan Jambi yang semuanya sudah berubah menjadi UIN.

Info pencopotan Rektor dan dua Wakil Rektor serta Direktur Pasca­sarjana IAIN IB sudah tersebar luas di lingkungan civitas akademika dan beberapa kalangan lainnya. Hanya saja penyebab pencopotan, infonya  masih sumir dan beragam.  Ada mengatakan, Menteri Agama Luk­man Hakim memanggil dan mem­berhentikan Makmur Syarif karena melakukan beberapa kesala­han fatal.

Kesalahan tersebut diantaranya, pengadaan lokal jauh di Kabupaten Pasaman Barat dan Kerinci, proyek dan tender pembangunan kampus, masalah akademik, jumlah maha­sisawa, dan pengadaan lahan serta pembangunan kampus III IAIN di Sungai Bangek, Kota Padang.

Namun, salah seorang aktifis mahasiswa di internal kampus IAIN yang enggan menyebutkan namanya mengaku tidak mengikuti perkem­bangan isu yang tengah melanda sang rektor dan pembantu-pembantunya lengkap. “Pernah dengar, tapi tidak tahu bagaimana kasus yang sebe­narnya. Yang jelas, katanya rektor akan dinonaktifkan,” ujarnya. (h/tim)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]