Membentuk Karakter Siswa Usia Prapubertas


Kamis, 19 Maret 2015 - 20:02:28 WIB
Membentuk Karakter Siswa Usia Prapubertas

Balitbang Kemendiknas telah menetapkan 18 nilai-nilai dasar pendidikan karak­ter. Nilai nilai tersebut adalah: Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Ke­bangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Ber­sahabat/komunikatif, Cinta Damai, Gemar membaca, Pe­duli lingkungan, Peduli sosial, Tanggung jawab (Ke­men­dik­nas, 2013).

Baca Juga : Puluhan WN China Masuk Indonesia, Publik: Warga Sendiri Dilarang Mudik!

Kesemua itu merupakan nilai-nilai moral yang diha­rapkan menjadi perilaku siswa yang berkarakter. Selain itu, kurikulum 2013 dengan kon­sep berbasis kompetensi de­ngan motode pembelajaran SCL (student centre learning) yang akan diberlakukan.

Di Jepang sudah sejak lama di­te­rapkan pendidikan ka­rak­ter dan metode pembelajaran SCL ini terhadap anak. Ap­likasikasinya sudah dilakukan sejak dari usia prasekolah, yaitu berdasarkan kebijakan-kebijakan pendidikan sejak sebelum dan setelah perang dunia II. Beberapa kebijakan yang akan membentuk karak­ter bangsa Jepang tersebut di antaranya dapat dilihat dari perlakuan terhadap siswa dan metode pembelajaran di tingkat dasar (Shougakko) yang tercermin dari beberapa aktivitas siswa di sekolah yang berlansung selama 6 tahun.

Baca Juga : Fraksi PKS DPR RI: Setop Eksperimen Kelembagaan Ristek

Usia masuk Sekolah Dasar (Shougakko) di Jepang me­rupakan peristiwa yang sangat sak­ral dalam ke­hi­dupan orang Jepang. Memasuki bangku Sekolah Dasar berarti mulai menapaki dunia, dan dunia dapat dikuasai adalah melalui ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, apabila seorang anak di Jepang telah cukup umur (6 tahun terhitung 1 April), maka sebelum itu orang tua sudah sibuk menyiapkan segala hal berkaitan dengan keperluan anak masuk sekolah. Mulai dari memilih sekolah (bia­sanya sesuai rayon tempat tinggal dan rayon di mana anak belajar di Hoikuen/Yochien (Penitipan Anak/Taman Ka­nak-kanak sebelumnya), men­daftarkan sekolah anak (mulai bulan Oktober setiap tahun), mengenalkan anak dengan sekolah barunya, sampai ke­pada segala keperluan anak, peralatan sekolah, pakaian sekolah, dan pakaian terbaru dan terbaik yang akan dipakai pada hari pertama datang ke sekolah (Nyugakushiki).

Yang unik dari upacara nyugakushiki adalah pakaian yang dikenakan para orangtua. Mereka menemani anaknya ke sekolah pada hari pertama dengan berpenampilan bagus. Ayah memakai jas resmi dan ibu memakai kimono yang paling bagus.

Baca Juga : Segera Daftar, Kompetisi Inovasi PLN Berhadiah Satu Miliar Ditutup 24 Mei

Nyugakushiki, jika ditelaah dari kanjinya, maka berarti upacara masuk sekolah. Upa­cara ini diperuntukkan khusus bagi siswa baru. Walaupun diperuntukkan secara khusus bagi tahun pertama, tapi para senior, staf pengajar sampai orangtua siswa baru juga terli­bat dalam upacara ini. Upa­cara diselenggarakan pada hari pertama sekolah atau setiap tanggal 1 April dan diadakan di gedung serbaguna masing-masing sekolah. Tujuan dari diselenggarakannya upacara ini adalah untuk beramah-tamah dan memberikan rasa nyaman kepada murid baru agar lebih bersemangat dalam menimba ilmu.

Upacara dimulai dengan masuknya siswa baru ke dalam aula. Siswa baru duduk diba­risan depan berdasarkan kelas atau kumi mereka,  kemudian deretan dibelakangnya meru­pakan tempat duduk para senior, sedangkan orangtua siswa baru duduk dibarisan akhir.

Baca Juga : Menpan-KPK Beda Pendapat soal Pegawai KPK, Febri: Ibarat Lomba Lempar Batu Sembunyi Tangan

Kepala sekolah dan staf  pengajar duduk di podium aula. Ketika siswa baru masuk, mereka disambut dengan te­puk tangan yang meriah dari para senior, wali murid, dan staf pengajar. Terkadang, ada juga sekolah yang menggunakan kelompok musiknya untuk memeriahkan upacara ter­sebut.

Isi dari upacara tersebut antara lain, mereka akan di­perkenalkan kepada kepala sekolah (koucho sensei), wali kelas masing-masing, serta staf pengajar lain. Kemudian, me­reka mendengarkan pidato dari kepala sekolah dan dari salah seorang guru. Pidatonya ku­rang lebih berisikan tentang pemberian selamat datang pada siswa baru, gambaran secara umum akan sekolah mereka, petuah kepada para senior agar diwajibkan me­nyambut adik kelasnya dan menjadi senior yang layak di­contoh oleh mereka, kemu­dian memberikan semangat untuk giat belajar pada ajaran tersebut baik pada siswa baru maupun senior.

Sebagai penutup upacara, senior menyanyikan lagu wajib sekolah tersebut. Lalu, siswa baru dipersilahkan masuk ke dalam kelas masing-masing yang dipandu oleh wali kelas mereka dan rombongan ini diikuti oleh orangtua dari masing-masing siswa baru.

Renrakuchou

Di dalam kelas, guru mem­bagikan semua perlengkapan sekolah termasuk buku-buku pelajaran. Guru juga mem­berikan sedikit penjelasan mengenai kegiatan belajar di kelas, tata tertib serta peri­ngatan yang tertera di tiap-tiap kelas. Setiap murid akan me­miliki buku penghubung anta­ra guru dan orangtua yang disebut renrakuchou, yang harus dibawa setiap hari.

Setelah wali kelas selesai memberikan penjelasan, me­reka berfoto bersama di dalam kelas kemudian mereka keluar dari kelas menuju halaman sekolah. Sekali lagi mereka berfoto dengan latar belakang sakura yang sedang mekar.

Anak-anak baru akan me­makai tas ransel khas yang berbentuk kotak dan agak kaku. Namanya randoseru. Anak perempuan biasanya memakai randoseru berwarna merah dan anak laki-laki me­makai warna hitam. Tas ini harganya mahal, mulai dari 10.000 Yen sampai 80.000 Yen karena kualitasnya yang sangat bagus dan dapat dipakai oleh anak selama 6 tahun. Tas ini juga berasuransi, sehingga akan mendapat penggantian jika rusak selama masa asuransi. Anak-anak Jepang biasanya mendapat randoseru dari ka­kek atau nenek sebagai ucapan selamat memasuki sekolah baru.

Mata pelajaran yang ada di Sekolah Dasar Jepang ber­dasarkan kurikulum dari ke­menterian pendidikan, anta­ra lain adalah; bahasa Jepang (kokugo), aritmatika (sansuu), IPA atau science (rika), kebia­saan hidup (seikatsu), musik (ongaku), menggambar dan kerajinan (zuga kousaku), perekonomian keluarga (ka­tei), pendidikan fisik (taiiku), pendidikan moral (doutoku), studi lingkungan hidup, akti­vitas khusus, dan studi terapan. Mata pelajaran dalam setiap hari kurang lebih hanya 4 dan diberikan secara bergantian mulai dari jam 08.30 pagi sampai jam 16.00 sore, diku­rangi jam istirahat siang sambil makan bersama.

Mata pelajaran tersebut diajarkan tidak keseluruhan mulai dari kelas 1, tetapi kualitas dan kuantitasnya ber­angsur-angsur mulai dari kelas 1 sampai ke kelas tinggi beri­kutnya. Misalnya di kelas 1 jumlah jam pelajaran bahasa Jepang lebih banyak, yang di dalamnya adalah menyangkut ketrampilan bahasa Jepang seperti membaca, menulis, menyimak, dan berbicara, atau dalam pelajaran aritmatika, anak di kelas 1 hanya diper­kenalkan angka dan bagai­mana menggunakan angka bukan bagaimana menghitung angka. Pelajaran IPA dapat disatukan dengan studi ling­kungan hidup misalnya sehing­ga anak mengenal langsung sesuai kurikulum yang ada.

Begitu juga dengan mata pelajaran lainnya, hampir semua terkait dengan penga­laman anak dalam kehidupan sehari-hari, tanpa harus dikejar oleh ujian-ujian dan target nilai. Setiap anak akan belajar dengan menyenangkan hampir pada setiap mata pelajaran tersebut secara berkelompok, dan yang menilai kompetensi mereka terhadap materi setiap pelajaran adalah juga anggota kelompok mereka, sedangkan guru hanya membimbing, me­nga­rahkan, dan memotivator agar anak bersemangat dalam menguasai setiap topik pela­jaran dengan mengikuti ku­rikulum yang telah ada.

Setiap anak tidak ada yang tertinggal dalam mengenal dan memahami setiap materi, dan anak tidak ada yang tinggal kelas. Apabila ditemukan oleh guru ada anak yang lemah penguasaannya dalam satu materi pelajaran, maka akan diberikan pelajaran tambahan setelah anak yang lainnya pu­lang sekolah sore harinya. Anak tidak dinilai berdasarkan perolehan angka dari hasil ujian, tapi dinilai berdasarkan kompetensi anak dalam m­e­nguasai setiap mata pelajaran. Jadi rapor atau hasil belajar anak bukanlah berdasarkan angka-angka, melainkan berisi teks kete­rangan tentang ke­mampuan anak serta pesan apa yang harus ditingkatkan lagi oleh anak.

Setiap anak punya potensi yang berbeda-beda tergantung pada minat anak, jadi tidak ada ukuran untuk menilai anak pintar dan anak bodoh, yang ada hanya kompetensi yang berbeda pada setiap anak da­lam menguasai berbagai bi­dang pelajaran, sedangkan pelajaran moral dan kete­ram­pilan diharapkan sama kom­petensi yang akan dicapai pada setiap anak.

Masa belajar pendidikan dasar di Jepang berlangsung selama 6 tahun, yaitu kelas 1 sampai kelas 6, sedangkan masa usia wajib belajar adalah 9 tahun, yaitu dari kelas 1 Sekolah Dasar sampai kelas 3 Sekolah Menengah Pertama. Pendekatan dan metode pem­belajaran di sekolah Jepang lebih banyak belajar dari pe­nga­laman dan pengamatan langsung sehingga anak-anak mengerti dan memahami yang tidak hanya mengandalkan teori dan hafalan.

Anak-anak diajak me­ma­hami setiap materi dengan pengalaman mereka di lapa­ngan. Di setiap sekolah anak-anak belajar sambil mengamati dan melakukan percobaan langsung dari berbagai teori yang dipelajari dalam setiap materi pelajaran, misalnya bagaimana menanam dan me­melihara tumbuhan, melihat dan mengamati hewan, mem­beli dan menjual, dan berbagai kegiatan lain yang terkait dengan setiap materi yang sedang dipelajarinya.

Pembelajaran life skill di sekolah dasar di Jepang sangat menonjol, yaitu melalui mata pelajaran seikatsu (kebiasaan hidup). Mata pelajaran ini bertujuan untuk membiasakan anak-anak dengan cara hidup mandiri sehari-hari. Daripada mulai mengajarkan IPA atau IPS, Jepang lebih memilih memperkenalkan tata cara kehidupan sehari-hari kepada anak-anak yang baru me­nye­lesaikan prasekolah.  Dengan bercermin pada sistem pem­belajaran Pen­di­dikan Dasar di Jepang, hal yang ingin diba­ngun adalah ber­sama-sama dalam tiga pilar pembentuk karakter siswa, yaitu peme­rintah, sekolah, dan orang tua.

Karakter bangsa Jepang dibentuk melalui proses pan­jang terutama pada usia pra­pubertas, karena usia ini ada­lah ketika pesatnya sel-sel saraf di otak bekerja dalam proses fungsi lokalisasi ber­bagai kecerdasan, terutama per­la­kuan terhadap ke­cerdasan emosional anak di area he­misfer kanan otaknya sehingga menjadi karakter setiap indi­vidu sampai usia dewasa. (*)

 

GUSDI SASTRA
(Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]