Dua Bangkai Kapal Belanda Jadi Objek Wisata


Ahad, 22 Maret 2015 - 19:08:48 WIB
Dua Bangkai Kapal Belanda Jadi Objek Wisata

Muara Ampiang Parak Ke­camatan Sutera adalah salah satu saksi bisu kejayaan masa lalu. Disana hingga saat ini masih diceritakan secara turun temurun kisah sebuah kapal legendaris yang karam di mua­ra tersebut. Kapal yang kemu­dian hanya dikenal dengan sebutan kapal dari Belanda.

Baca Juga : Gempa Berkekuatan 3,3 Magnitudo Dirasakan di Bukittinggi

Asridal (64), tokoh masya­rakat setempat menyebutkan, disini pernah sebuah kapal milik Belanda karam. Hingga kini bangkai kapal itu di­perkirakan berada disekitar pintu muara. Soal nama, hin­g­ga kini masih menjadi misteri, karena tidak ada catatan resmi terkait kapal tersebut.

Dikatakannya, proses dan bagai mana kapal itu bisa karam hanya diceritakan seca­ra turun temurun di mas­ya­rakat. Lalu sebagai bentuk penghargaan kepada kapal legendaris itu, kawasan pantai di Muara Am­piang Parak itu diberi nama Pasia Kapa (Pasir Kapal).

Baca Juga : Sambut Idul Fitri 1442 H, DPC IWAPI Pasaman Gelar Pasar Murah

Salah satu pantun yang paling terkenal dimasyarakat hingga kini tentang kapal Be­lan­da tersebut adalah barabah tabang ka juda, tibo dijuda makan padi, jembatan basi alun sudah, kapa lah karam di muaro. “Kapal itu diper­kira­kan karam di penghujung abad 18. Kapal itu mengangkut material bahan pembuat jem­batan Amping Parak yang diangkut Belanda dari Tanah Jawa,” katanya.

Namun setelah itu, bang­kai kapal itu tertimbun pasir aki­bat berubahnyanya pintu mua­ra. Kapal itu kini tidak lagi dapat disaksikan karena tidak ada bagian kapal yang keluar. Kini warga hanya bisa menyak­sikan empat buah tiang besi yang diduga ber­fungsi sebagai tam­batan kapal. Kawasan ini me­miliki ke­indahan me­nakjubkan.

Baca Juga : Prakiraan Cuaca Sumbar Hari Ini, BMKG: Waspada Gelombang Laut Hingga 3 Meter

Kapal legendaris selan­jutnya dan paling menyedot perhatian publik dalam dan luar negeri adalah NV Boeloe­ngan. Kapal ini karam pada  28 Januari 1942, di Nagari Man­deh, Koto XI arusan.

Walinagari Mandeh Jarsil RB menyebutkan, Kapal NV Boeloengan tenggelam setelah dibombardir Jepang. Sebelum di bom ia berada diluar Teluk Mandeh, lalu berupaya menye­lamatkan diri ke dalam teluk.

Baca Juga : Jasman Rizal: Tak Ada Larangan Pergerakan Lokal, Tetap Patuhi Prokes

“Kapal itu masuk dari pintu muara di Nagari Sungai Nyalo Mudik Aie yang berte­tangga dengan Teluk Mandeh. Lalu, Boelongan berlindung di Teluk Dalam di antara Pulau Cu­badak dan Pulau Taraju yang masih di kawasan perairan Mandeh. Hingga kini ke­be­radaan bangkai kapal itu masih misterius meskipun beberapa kali telah diteliti orang,”katanya.

Senada dengan itu, Bupati Pessel Nasrul Abit Minggu (22/3) menyebutkan, kapal NV Boeloengan kini dijadikan spot diving atau pusat menyelam di Taman Laut Mandeh. Bangkai NV Boeloengan merupakan keindahan bawah laut yang banyak digemari para pe­nyelam. (h/har)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]