RI Butuh Pemimpin Seperti Lee Kuan Yew?


Senin, 23 Maret 2015 - 19:45:26 WIB
RI Butuh Pemimpin Seperti Lee Kuan Yew?

Kemajuan luar biasa yang diraih Singapura, sehingga mengantarkannya sebagai salah negara maju dengan Negara dengan ekonomi terkuat  di dunia tidak terlepas dari sosok kepemimpinan Lee Kuan Yew, Perdana Menteri Pertama dan terlama Singapura. Dia menjabat sebagai PM Singapura dari dari tahun 1959 sampai tahun 1990 atau 31 tahun, sama lamanya dengan masa kepemimpinan Presiden Soeharto memimpin Indonesia 1967-1998 (31 tahun). Pada Senin (23/3) pukul 03.18 waktu Singapura, mantan PM Singapura Lee Kuan Yew meninggal dunia di Singapore General Hospital dalam usia 91 tahun.

Baca Juga : Elektabilitas Capres Oposisi, Gatot & Rocky Gerung Tertinggi

Meskipun tidak lagi menjabat PM Singapura, namun sebelum meninggal sahabat dekat mantan Presiden RI Soeharto itu mempertahankan pengaruhnya  atas Singapura  dari balik layar dengan menjabat sebagai menteri senior dan menteri mentor, hingga dia mundur dari kabinet seusai pemilu 2011. Hingga saat ini, Lee tercatat sebagai salah satu anggota parlemen terlama di dunia. Ia mewakili konstituen dari Tanjong Pagar selama hampir 60 tahun sejak 2 April 1955.

Salah satu ucapan sosok berumur 91 tahun itu yang terkenal adalah pada tahun 1988 menjelang pengujung jabatannya, ia mengatakan, “Bahkan ketika saya sakit terbaring di tempat tidur, atau bahkan jika saya diturunkan ke liang kubur, jika saya merasakan ada yang salah dengan Singapura, saya akan ‘bangun kembali’.” Lee Kuan Yew berhasil mengubah pulau kecil Singapura menjadi negara dengan pencapaian ekonomi yang dikagumi dunia. Dengan pandangannya yang amat pragmatis, Lee Kuan Yew berhasil mengubah Singapura dari sebuah pulau kecil yang tidak memiliki sumber daya alam menjadi sebuah keberhasilan ekonomi.

Baca Juga : THR Pekerja Wajib Dibayar H-7 Lebaran

Lahir pada 16 September 1923 di Singapura, Lee Kuan Yew merupakan generasi ketiga dari pendatang asal Tiongkok. Dia dibesarkan dengan pengaruh Inggris yang kuat dan kakeknya memanggilnya dengan Harry Lee, yang menjadi nama panggilan pada masa kecilnya. Lee muda menjalani pendidikan di sebuah sekolah Inggris di Singapura, tetapi pendidikan lanjutannya terganggu oleh pendudukan Jepang pada tahun 1942.

Untuk menjamin keberhasilan transformasi Singapura, Lee menerapkan pengendalian politik yang ketat atas aspek-aspek kehidupan, yang membuat negara itu menjadi masyarakat yang paling diatur di dunia. Dia menangkap para pengkritiknya tanpa lewat pengadilan, membatasi kebebasan media dan penerbitan asing, termasuk menangkap sejumlah wartawan. Menurut Lee kebebasan pers, harus di bawah kebutuhan integritas Singapura.

Baca Juga : Tertarik Beasiswa LPDP, Ini Syarat dan Cara Pendaftarannya

Kebijakan yang juga dilaksanakan dengan ketat oleh Lee adalah keluarga berencana dengan memberi hukuman kepada orang tua yang memiliki lebih dari dua anak lewat sistem pajak. Namun, belakangan, Singapura mendorong agar para perempuan tamatan universitas memiliki lebih banyak anak dengan mengecualikan mereka dari kebijakan keluarga berencana, yang masih diperlakukan bagi perempuan yang tidak tamat universitas.

Atas pandangan politik, tekad, ketegasan dan komitmennya di dalam memimpin, Lee Kuan Yew pun berhasil membawa Singapura menjadi Negara maju. Langkah-langkah Lee memang  didominasi  oleh hal-hal yang tidak populis, tapi kelak, ternyata mampu menjadi sikap hidup atau mind set rakyat Singapura.

Baca Juga : Aa Umbara Tersangka, Hengky Kurniawan Ditunjuk Jadi Plt Bupati

Menjelang 70 tahun peringatan Kemerdekaan  Republik Indonesia, kita juga ingin Negara ini kelak juga maju seperti halnya  Singapura. Tapi tentunya, Indonesia butuh sosok pemimpin seperti Lee Kuan Yew. Pemimpin yang memiliki visi jauh ke depan, mampu dan mau menjalankan program-program yang tidak populis, tetapi penting untuk membangun spirit kebangsaan serta mindset seperti halnya  masyarakat Singapura. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]