Sekolah Pelopor Kejujuran


Senin, 23 Maret 2015 - 19:46:20 WIB
Sekolah Pelopor Kejujuran

Gagasan sekolah menjadi pelopor kejujuran memang cukup menarik untuk dicermati. Sebab, dampak ketidakjujuran yang terjadi di negara kita, seperti halnya dampak kecelakaan berlalu lintas di jalan raya, juga sudah semakin mengkhawatirkan. Misalnya saja, akibat ketidakjujuran, negara kita seakan-akan telah menjadi negara darurat korupsi, sebab korupsi telah merajalela di mana-mana. Demikian juga kebohongan, tipu-menipu seakan sudah menjadi pemandangan biasa. Negara kita yang kaya tapi sebagian rakyatnya masih hidup menderita juga salah satu akibat ketidakjujuran mengelola kekayaan bangsa kita. Karena itu, membudayakan kejujuran patut menjadi sebuah gerakan bersama.

Lalu, kenapa sekolah yang harus menjadi pelopor gerakan budaya jujur? Jawaban sederhananya adalah karena sekolah merupakan salah satu institusi yang bertanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran melalui pendidikan. Sekolah merupakan tempat mendidik orang-orang menjadi jujur. Setiap guru, apapun mata pelajarannya, berkewajiban menanamkan nilai-nilai kejujuran kepada peserta didik. Sebab, membentuk peserta didik yang jujur merupakan bagian dari upaya membentuk peserta didik yang berakhlak mulia sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional kita.

Baca Juga : Aktifitas Balimau di Padang Dibubarkan Polisi

Selain itu, sekolah tidak hanya sekedar mengajarkan nilai-nilai kejujuran kepada peserta didik, tapi sekaligus juga harus mempraktekkan dan  mempromosikan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu pula sekolah sebenarnya adalah labor kejujuran, tempat untuk mempelajari dan mempraktekkan nilai-nilai kejujuran.

Upaya untuk menjadikan sekolah sebagai labor kejujuran sebenarnya sudah dilakukan oleh banyak sekolah. Upaya itu antara lain dilakukan dengan membuat kantin kejujuran. Melalui kantin kejujuran ini peserta didik dilatih untuk jujur dalam berbelanja. Mereka mengambil dan membayar sendiri barang yang diinginkan sesuai harga yang tertera. Cara lain yang dilakukan guru (agama) misalnya menugaskan peserta didik mencatat perbuatan baik dan perbuatan buruk yang mereka lakukan setiap hari secara jujur. Catatan ini dalam waktu tertentu diperiksa guru. Tujuannya di samping untuk mengetahui kegiatan peserta didik juga untuk melatih kejujuran mereka.

Baca Juga : Akibat Covid-19, Jumlah Pengunjung Museum Adityawarman Padang Hanya 17 Ribu Per Tahun

Sayangnya, dari berbagai upaya yang dilakukan sekolah untuk membudayakan nilai-nilai kejujuran, terkesan baru ditujukan untuk peserta didik. Seakan-akan yang wajib jujur di sekolah hanyalah peserta didik. Padahal setiap warga sekolah mempunyai kewajiban yang sama untuk bersikap jujur. Karena itu, kesadaran bersama untuk membudayakan sikap jujur harus dibangun pula secara bersama. Dengan adanya kesadaran secara berjama’ah maka barulah ia bisa menjadi sebuah gerakan untuk mempelopori kejujuran.

Dalam membangun iklim budaya jujur di sekolah, tentu peran kepala sekolah sangatlah besar. Sebab, kepala sekolah merupakan pengambil keputusan tertinggi di sekolah. Wajah budaya sekolah sangat ditentukan oleh kepala sekolah. Apalagi perilaku guru di sekolah juga sangat dipengaruhi oleh perilaku kepala sekolah. Karena itu, kepala sekolah harus berada di garis terdepan dalam membudayakan nilai-nilai kejujuran di sekolah.

Baca Juga : Bulan Ramadan, Rutan Klas II B Padang Gelar Pesantren untuk Warga Binaan

Adalah sebuah cerita menarik tentang kejujuran seorang kepala sekolah yang menjadi buah bibir guru-guru sepulang mengawas Ujian Nasional (UN) di sebuah sekolah. Ketika itu, di hari terakhir guru-guru mengawas UN, kepala sekolah membagikan sisa uang konsumsi mereka. Sebagaimana telah dianggarkan, setiap hari guru mengawas UN seharusnya dibelikan konsumsi berupa nasi bungkus. Tapi karena sekolah hanya menyediakan makanan seperti lontong, nasi goreng dan lain sebagainya yang harganya lebih rendah dari anggaran, maka kepala sekolah kemudian memberikan sisa uang konsumsi itu kepada guru-guru. Meski jumlahnya tidak banyak, tapi kejujuran seperti itu sangat berkesan bagi guru-guru.

Budaya jujur yang diperagakan kepala sekolah seperti cerita penulis di atas tentu sangat patut ditiru. Kepala sekolah seperti itu tentu telah menjadi pelopor kejujuran di sekolahnya. Sebagai pemimpin, tentu ia juga telah memberi contoh dengan mulai bersikap jujur dari diri sendiri. Ia juga seakan telah melaksanakan nasehat Aa’ Gym dalam melakukan perubahan, Mulailah dari yang kecil, mulailah dari diri sendiri. Bila kepala sekolah telah menjadi pelopor kejujuran di sebuah sekolah, maka warga sekolah yang lain tentu juga akan berusaha secara maksimal mengikuti kepala sekolah.

Baca Juga : Jelang Safari Ramadan, Hendri Septa Berikan Arahan Pada 66 Pengurus Masjid dan Musala

Di samping keteladanan kepala sekolah, guru-guru juga harus menjadi contoh dalam mempraktekkan nilai-nilai kejujuran di sekolah. Misalnya saja guru-guru harus selalu menepati janji, tidak pernah berbohong, selalu sesuai antara yang diucapkan dengan yang dilakukan, selalu objektif, transparan, sportif dan lain sebagainya.

Bagi guru, selalu bersikap jujur merupakan bagian dari kompetensi kepribadian sebagai salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru. Agar guru benar-benar memiliki kompetensi kepribadian yang bisa ditiru dan diteladani oleh peserta didik, maka kiranya perguruan tinggi pencetak guru (LPTK) juga perlu memberikan perhatian yang lebih besar dalam pembentukan kompetensi kepribadian calon guru. Sebab, guru yang jujur ataupun tidak jujur merupakan produk LPTK.

Membangun budaya jujur di sekolah merupakan upaya yang sangat mulia yang harus di dukung oleh semua pihak. Sebab, budaya jujur di sekolah akan memberikan pengaruh yang sangat banyak. Misalnya, dari sikap jujur akan lahir pula budaya sportif, mau mengakui kesalahan dan kelemahan diri sendiri serta mengakui kelebihan orang lain. Jujur juga menggerakkan orang untuk selalu bertanggung jawab, amanah, disiplin, taat pada aturan dan lain sebagainya. Karena itu pula nabi Muhammad mengatakan bahwa kejujuran membawa pada kebaikan dan kebaikan akan menghantarkan orang ke sorga.

Sebaliknya, kebohongan justru akan menggiring orang pada kejahatan dan kejahatan akan membawa orang ke neraka. Biasanya berbohong tidak cukup sekali, karena untuk menutup satu kebohongan diperlukan kebohongan berikutnya. Karena itu pula orang yang suka berbohong dalam perspektif Islam disebut orang munafik. Di akhirat kelak, orang munafik tempatnya di kerak neraka.

Dalam pandangan Islam, kejujuran sangat erat kaitannya dengan keimanan. Semakin baik iman seseorang maka semakin tinggi pula kejujurannya. Kisah seorang pengembala kambing yang tidak mau menjual kambing majikannya kepada Umar bin Khattab karena ia menyadari perbuatannya selalu dilihat Allah merupakan salah satu buktinya. Karena itu, untuk membudayakan kejujuran di sekolah juga perlu meningkatkan iman dan taqwa setiap warga sekolah. Semua warga sekolah harus menyadari benar bahwa sekolah mereka selalu diawasi oleh malaikat selama 24 jam dalam sehari. Untuk itu, sekolah harus menjadi kawasan wajib jujur atau kawasan dilarang berbohong.

Selain itu, apresiasi pemerintah terhadap sekolah yang mampu menjadi pelopor kejujuran tentu juga sangat diperlukan dalam membangun budaya jujur di sekolah. Pemilihan sekolah berbudaya jujur tentu tidak kalah menarik dan pentingnya dibanding sekolah adiwiyata, sekolah sehat dan lain sebagainya. Dengan adanya dukungan dan apresiasi dari pemerintah serta berbagai pihak lainnya, kita berharap sekolah semakin termotivasi memikul tanggung jawab yang besar ini, menyiapkan generasi emas yang jujur di tengah semakin mahalnya nilai kejujuran itu sendiri. Wallahu a’lam bish shawab.

 

JUNAIDI
(Guru SMPN 35 Padang)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]