Satu Terduga ISIS Urang Awak


Senin, 23 Maret 2015 - 19:56:16 WIB
Satu Terduga ISIS Urang Awak

Ia adalah Aprimul Hendri alias Mul (41) asal Kinali Pasaman Barat. Sebelum me­ngon­trak rumah di kawasan Jakarta awal tahun 2015, Mul sempat tinggal di Kota Bukit­tinggi, persisnya di kawasan Tangah Jua Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh (ABTB).

Baca Juga : Antisipasi Karhutla, Sumbar akan Tambah Alat Gurdian

Di Bukittinggi, Mul adalah seorang pedagang yang men­jual pakaian di kawasan Pasar Atas Bukittinggi. Bahkan Mul juga dikenal sebagai salah seorang pemasok pakaian di kawasan Pasar Atas. Tak hanya itu, Mul juga memiliki toko yang menjual perlengkapan anak dan bayi di kawasan Tarok Bukittinggi.

Saat awak media men­datangi rumah kediaman mertua Mul di Bukit Apit Puhun Kecamatan Gu­guak Panjang Kota Bukittinggi pada Senin (23/3), Mertua Mul bernama B (68) mengaku mendengar kabar penangkapan Mul melalui televisi.

Baca Juga : Kualitas Udara di Sumbar Masih Kategori Sangat Baik

Dia mengaku pasrah dan menye­rahkan proses hukum Mul kepada aparat penegak hukum. B hanya berharap, kasus yang menimpa menantunya itu tidak berimbas kepada istri dan anak Mul.

Bahrul menceritakan, semenjak Mul menikah dengan anaknya no­mor dua pada tahun 2006 silam, Mul tidak mau tinggal di rumahnya. Setelah menikah, Mul lebih me­milih mengontrak rumah di ka­wasan Tangah Jua Bukittinggi.

Baca Juga : Komunitas Bonsai Terbentuk, Solsel Miliki Tanaman Endemik Khas

“Menantu saya ada tiga, dan Mul adalah menantu yang paling tua. Terus terang, di antara semua me­nan­tu saya, hanya Mul yang sulit diajak berkomunikasi. Saya sering ngasih nasehat, tapi rasanya jarang didengarkannya,” tutur B.

Atas kepribadian Mul itu, B mengakui jadi kurang peduli terha­dap segala permasalahan yang me­nim­pa Mul dan keluarganya.

Baca Juga : Cuaca Besok di Sumbar Cerah hingga Berawan, Namun Ada Potensi Hujan Ringan

Terkait sosok Mul ini, Ketua RT 03 RW 01 Kelurahan Bukit Apit Puhun Kota Bukittinggi, Febrina mengakui tidak mengenal Mul, meski mertuanya tinggal di wilayah­nya. Bahkan Febrina juga mengaku tidak begitu mengenal wajah Mul.

“Dia jarang pulang ke rumah mertuanya, jadi saya tidak mengenal Mul. Saya akan cek data dulu, apakah Mul ini sudah pindah KK (Kartu Keluarga) atau tidak. Yang saya tahu, di rumah mertuanya itu hanya ada mertua laki-laki dan mertua perem­puan, serta beberapa anak kos. Me­mang, rumah mertua Mul juga me­nampung anak kos,” jelas Febrina.

Ketika awak media menyam­bangi rumah kontrakan Mul di kawasan Tangah Jua Bukittinggi, rumah tersebut tertutup rapat dan tidak berpenghuni. Menurut ketera­ngan sejumlah tetangga sebelah, Mul sudah pindah ke Jakarta dan jarang pulang ke rumah.

Terkait kepribadian Mul di mata tetangganya di Tangah Jua, menurut Ned salah seorang tetangganya, Mul merupakan sosok yang baik dan taat beribadah. Bahkan Ned mengaku dekat dengan istri Mul.

“Saya sangat dekat dengan istri­nya Mul. Saking dekatnya, malahan kami sudah menganggap sebagai bagian dari keluarga. Tak jarang kami masak-masak bareng. Begi­tulah kedekatan saya dengan istri Mul,” ujar Ned.

Ned menilai, perubahan yang tampak pada sosok Mul adalah di saat Mul pulang naik haji dua tahun lalu. Menurutnya, setelah pulang haji, Mul tampak lebih kuat di bidang agama, dan rajin beribadah. Ia tidak menge­tahui jelas apakah Mul benar-benar sudah fanatik agama atau perilakunya memang telah sesuai dengan ajaran agama Islam.

“Saya juga diberitahu bahwa mereka telah mengontrak di Jakarta. Katanya untuk pengembangan usa­ha. Bahkan di sana mereka juga telah membuka biro perjalanan haji dan umrah,” tutur Ned.

Sementara itu, pegawai Mul di toko perlengkapan bayi di kawasan Tarok Bukittinggi juga mengenal Mul adalah sosok yang baik dan selalu menasehati anak buahnya.

“Kami sering dinasehati, teruta­ma bidang agama dan kesehatan. Mi­salnya, kami sering dinasehati untuk tidak meninggalkan shalat, me­na­sehati agar makan secara terat­ur dan nasehat baik lainnya,” jelas Nur Aida, salah seorang pegawai Mul.

Menurut Nur Aida, biasanya Mul yang berada di Jakarta sering sms dan bbm-an kepada mereka, hanya untuk menanyakan apakah barang jualannya ada yang laku atau tidak.

“Dua hari terakhir, saat di sms maupun bbm-an, bapak (Mul) tidak lagi membalas. Padahal setiap kali sms, biasanya dibalas. Kami juga heran, banyak orang yang bertanya kepada kami tentang keberadaan bapak. Bahkan pak polisi juga tanya. Kami memang tidak tahu apa-apa dan tidak tahu apa yang terjadi sama bapak,” jelas Nur Aida.

Nur Aida menambahkan, ter­akhir Ia melihat Mul berada di toko pada 3 Maret 2015 lalu. Waktu itu, Mul pulang membawa barang-barang untuk dijual di toko. Bahkan Nur Aida sempat diberitahu bahwa toko perlengkapan bayi itu akan dijual setelah Idul Fitri 2015 men­datang. Nur Aida tidak mengaku tidak mengetahui persis alasan Mul menjual tokonya tersebut.

Sekretaris Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Sumbar, Zul Aliman yang dihu­bungi terpisah, mengaku belum mendapatkan informasi pasti adanya urang awak yang ditangkap terkait ISIS. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan pengurus FKPT lainnya, tetapi belum ada informasi yang pasti tentang pelaku yang diduga berasal dari Sumbar.  “Kita sudah tahu soal penang­kapan 5 orang terduga pengikut kelompok radikal, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Jakarta. Namun belum ada yang bisa memastikan salah satu dari 5 orang yang ditang­kap itu berasal dari Sumbar,” terang Zul Aliman.

Terkait adanya dugaan anggota ISIS yang tertangkap di Jakarta adalah warga Kinali Pasaman Barat, MUI Sumbar mengatakan, jika hal itu benar, maka semua pihak harus mengambil langkah untuk meng­antisipasi menyebarnya paham ISIS Sumatera Barat. Ketua MUI Sumbar, Syamsul Bahri Khatib menyarankan, peme­rintah mulai dari tingkat atas sampai tingkat paling bawah, harus memulai langkah antisipasi dengan cara menjelaskan apa itu NKRI dan bahaya ISIS.

MUI sendiri, katanya, mulai dari pusat hingga ke bawah, menyatakan bahwa ISIS adalah kelompok terla­rang di Indonesia karena tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Sebelumnya diberitakan, polisi menangkap 5 terduga pengikut kelompok radikal, ISIS.

Kelimanya memiliki identitas M Fachri (MF), Aprimul Henri alias Mul (AP alias M), Jack alias Engkos Koswara (J alias EK), Amin Mude (AM), dan Furqon (F). Pengge­ledahan saat ini masih dilakukan di sejumlah lokasi.Dari informasi awal yang dihimpun, mereka diduga berperan melakukan perekrutan, pendanaan, hingga sosialisasi pro­paganda ISIS. (h/wan/dib/vie)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]