‘Perang’ Dua Petahana di Ujung Pengabdian


Rabu, 25 Maret 2015 - 19:52:09 WIB
‘Perang’ Dua Petahana di Ujung Pengabdian

Hampir lima tahun seiring sejalan, seiya sekata dalam membangun Kota Solok dan telah menorehkan beragam prestasi yang tak dapat dipan­dang sebelah mata. Maka sangat wajar kalau ma­sya­rakat banyak berha­rap pasangan bareh solok ini akan ber­lanjut lima tahun kedepan.

Baca Juga : Iedul Fithri: Geliat Ekonomi, Momentum Keluar Resesi

Namun sangat disayangkan un­dang undang Pilka­da yang sering ber­ubah-ubah mem­buat harapan ma­syarakat Kota Solok hilang begitu saja. Perppu No 1 tahun 2014 me­nga­manatkan kota yang yang jumlah penduduknya kurang dari 250.000 jiwa, kepala dae­rahnya tidak lagi berpasangan dan Kota Solok termasuk da­lam ketegori ini.

Pasangan yang sempat diga­dang-gadang sebagai pasangan anti pecah ini, tak pernah me­ngenal lelah menyelenggarakan tata pemerintahan yang baik dan ber­sih. Usaha tak kenal lelah itu ternyata membuahkan hasil. Kota Solok meraih predikat Wajar Tan­pa Pengecualian (WTP) dari Ke­men­trian Keuangan pa­da tahun 2013.

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

Lewat tangan di­ngin pasangan ini pulalah Kota Solok meraih beragam penghargaan tingkat nasional. Kota beras ini meraih Piala Adipura tiga tahun berturut turut yaitu tahun 2011,2012 dan 2013. Begitu juga dengan Piala Wahana Tata Nugraha, Kota Solok meraih­nya secara berturut-turut pada tahun 2010, 2011, 2012, 2013 dan 2014.

Selama kepemimpinan Ir­zal Ilyas dan Zul Elfian, Kota Solok juga memperoleh penghargaan se­ba­gai kota sehat, me­raih peng­har­gaan Kesatria Bhakti Hu­­sada,ICT Pu­ra, Cipta Karya dari Kementrian PU, Adi­wiyata dan pu­luhan penghargaan lainnya.

Disamping me­raih beragam peng­hargaan, pasangan petahana ini juga berhasil menyelesaikan pem­bangunan Masjid Agung Al Muhsinin, pembangunan jalan ling­kar luar utara,pembangunan sport hall Tanjung Paku dan pasar semi modern.

Kerena pasangan bareh solok ini sama sama berkeinginan untuk melanjutkan pembangunan, maka mau tak mau, suka tak suka, mereka terpaksa berpisah di ujung pengab­dian dan harus saling berhadapan pada Pilkada serentak 2015.

Semanis apupun perpisahan, tetap saja menyakitkan. Perpisahan secara baik baik penuh dengan keiklasan itu akhirnya menim­bulkan perbedaan pandangan. Pres­tasi yang telah mereka raih bersama akhirnya dimaknai berbeda.

Irzal Ilyas masih menganggap berbagai penghargaan sebagai bukti keberhasilan. Sementara Zul Elfian memandang penghargaan bukanlah tujuan. Bahkan penghargaan itu akan membuat kita terlena dan tanpa disadari kita sudah jauh tertinggal dari yang lain.

Sekalipun memiliki pandangan berbeda tentang prestasi yang telah mereka raih, namun mereka masih memiliki kesamaan pandangan tentang tantangan masa depan. Keduanya sama-sama punya kei­nginan untuk membenahi Terminal Bareh Solok yang sudah hampir lima belas tahun tak berfungsi secara normal. Mereka juga memandang pembangunan gelanggang olah raga sebagai kebutuhan mendesak.

Dengan adanya kesamaan pan­dangan tentang tanyangan Kota Solok ke depan, ini membuktikan mereka masih punya kesempatan untuk maju bersama. Kemungkinan itu terbuka lebar karena Perppu No 2 tahun 2014 kembali memberikan kesempatan kepada seluruh calon kepala daerah untuk maju berpa­sangan. Apalagi saat ini, baik Irzal Ilyas maupun Zul Elfian sama-sama belum memiliki pasangan.

Tokoh adat Enam Suku, Hendra Dt Bandaro menilai, banyak kema­juan yang telah dicapai selama kepe­mimpinan Irzal Ilyas dan Zul Elfian. Pertumbuhan ekonomi me­ning­kat secara signifikan, pem­bangunan infrastruktur berjalan dengan baik dan keduanya dekat dengan masyarakat. “Secara umum pasangan ini cukup berhasil, akan tetapi bukan berarti tak punya kelemahan,” kata Hendra Dt Ban­daro.

Menurutnya, pasangan ini dinilai gagal membenahi terminal Bareh Solok dan menghapus terminal bayangan. Padahal salah satu janji kampanye Irzal Ilyas dan Zul Elfian lima tahun lalu adalah membasmi terminal bayangan dan membenahi terminal Bareh Solok.

Sementara itu tokoh masyarakat Kota Solok lainnya, Yoserizal Dt Rajo Mampang SH mengatakan, kegagalan membenahi terminal bareh Solok tidak dapat sepenuhnya dikatakan sebagai kegagalan Irzal Ilyas dan Zul Elfian. Menurutnya, tidak hanya Irzal Ilyas dan Zul Elfian saja yang gagal  membenahi termi­nal Bareh Solok itu, walikota sebe­lumnya seperti Yumler Lahar dan Syamsu Rahim juga gagal mem­benahinya.

“Ibarat nasi sudah jadi bubur, sekarang bagaimana caranya nasi itu supaya enak dimakan. Kalau termi­nal itu sudah tiga walikota gagal menjadikannya sebagai terminal, sekarang bagaimana caranya lokasi terminal itu mendatangkan manfaat bagi warga,” tukas Yoserizal. (*)

 

Laporan: ERI SATRI

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]