Jargon Cagub Jangan Nipu


Kamis, 26 Maret 2015 - 19:51:47 WIB
Jargon Cagub Jangan Nipu

Sejumlah pengamat politik menilai tagline yang dimun­culkan oleh bakal calon kepala daerah melalui baliho belum­lah menggambarkan siapa diri mereka dan misi apa yang akan dibawa ketika menjadi gu­bernur dan wakil gubernur nanti. Perang baliho yang bermunculan saat ini meru­pakan sebagai bentuk aksi menarik simpati masyarakat. Tergambar dari jargon-jargon singkat dan membuat publik termenung ketika membaca apa yang mereka sampaikan.

Baca Juga : Danau Cimpago Padang Dipenuhi Sampah Kiriman

“Jika menyebut misi, ini masih jauh. Kalau misalnya dengan tagline Lanjutkan Sum­bar Lebih Baik milik Irwan Paryitno (IP), ten­tu pertanyaannya apa yang ingin dilanjutkan. Dengan tagline lanjutkan ini, IP hanya menggambarkan bahwa ia seo­rang incumbent yang ingin melanjutkan kepemimpinan lima tahun mendatang. Jika bicara tentang tagline sang inspirator ini masih untuk menarik masyarakat, dan itu wajar saja,” terang Pengamat Universitas Negeri Padang Eka Vidia Putra kepada Haluan, Kamis (26/3).

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Andalas Asrinaldi juga melihat hal yang sama pada baliho bakal calon gubernur saat ini. Bakal calon menginginkan masya­rakat mengingat mereka dengan tagline yang dimunculkan, atau dengan ciri khas yang ditampilkan.

Baca Juga : Angka Pengangguran di Padang Naik jadi 60 Ribu Orang

Baik Eka maupun Asrinaldi menilai, perang baliho saat ini masih menjadi ajang perebutan hati masya­rakat. Jika ditanya apakah baliho yang ditampilkan saat ini sudah menggambarkan siapa diri bakal calon, Eka juga menyebut masih terlalu samar. Belum bisa diketahui dan dijelaskan lebih lanjut. Begitu juga dengan apakah para calon ini apakah sudah memiliki semangat yang sama dengan tagline yang mereka usung atau tidak.

Seperti, apakah Irwan Prayitno sudah berhak untuk melanjutkan kepemimpinan, apakah Fauzi Bahar selama ini memang dikenal sebagai pemberi inspirasi, Shadiq Pasadigoe apakah memang tidak pernah mem­buat kecewa masyarakat Tanah Datar, Epyardi Asda apakah sudah berbuat selama ini untuk Sumbar, yang katanya  jauh tertinggal dan  apakah Muslim Kasim memang sudah mela­yani sepenuh hati masya­rakatnya. Kedua pengamat ini sepa­kat semua­nya itu belum bisa dijawab.

“Yang bisa menjawab dan meni­lai adalah masyarakat. Jika mera­sakan dampak positif, tagline yang muncul sekarang akan diamini. Jika tidak, tentu ada perlawanan terha­dap tagline yang muncul. Jadi, ter­gan­tung masyarakat,” ucap Eka.

Asrinaldi menilai sah-sah saja jika para calon mengklaim bagai­mana dirinya dalam sebuah bentuk tagline. Asal jangan merupakan sebuah peni­puan. Jika memang seorang inspirator, maka kese­harian­nya juga sebagai pemberi inspirasi. Begitu juga dengan dengan calon lain yang menginginkan Sumbar lebih baik. Tentu dalam keadaan nyata, memang berpikir untuk Sumbar lebih baik, tidak membuatnya malah semakin buruk.

“Klaim sah-sah saja, asal jangan penipuan,” tegas Asrinaldi.

Sementara itu, sejumlah kan­didat yang dihubungi Haluan terde­ngar pede (percaya diri) dengan jargon mereka. Bupati Tanah Datar Shadiq Pasadigoe contohnya. De­ngan jargon Insyaallah tidak akan mengecewakan cagub yang satu ini sebagai orang yang tidak sudah ber­bica­ra banyak dan janji-janji luar biasa.

“Saya bukan tipe orang yang suka bicara yang wah-wah, pesan yang ada di baliho tersebut menurut saya cukup singkat dan padat yang bisa dimengerti oleh semua masya­rakat Sumbar. yang pasti saya akan mebawa perubahan kea rah yang lebih baik, dan saya akan emberikan yang terbaik untuk Sumbar seperti yang saya lakukan di Tanah Datar,” ungkap Sekjen APKASI ini.

Ia juga mengatakan, semua kei­nginan dan suara masyarakat Sum­bar sudah ada di dalam kepalanya jadi ia juga sudah tahu apa yang harus ia perbuat untuk masyarakat Sum­bar. menurutnya fungsi pemerintah adalah menyelesaikan semua perma­salahan dan persoalan yang ada pada masyarakat, dan dapat menjadi pelayan masyarakat.

“Jika masyarakat memberikan kepercayaan pada saya memimpin nantinya,  insyaallah Sumbar akan lebih baik ke depannya. Apa yang diinginkan masyarakat sudah ada dalam pikiran saya. Dengan kalimat sederhana tersebut  menurut saya sudah cukup dalam untuk sampai ke masyarakat,” ulasnya.

Sementara itu, Dr. H. Fauzi Bahar M.Si yang juga Mantan Wali­kota Padang ini menyatakan makna dari tagline yang ada di balihonya sangat banyak, salah satunya dengan kata “Inspirator” dalam artian sang penggagas, seperti berbusana mus­lim, magrib mengaji, beras genggam, dragonboat, subuh mubaraqah, dan yang lainnya.

Ia mengaku ingin menciptakan sebuah konsep untuk Sumbar yang dianggap memiliki banyak potensi, diantaranya potensi agama, pari­wisata, kebudayaan, sumber daya alam yang sangat luar biasa. Untuk itu perlu dilakukan penggalian lebih maksimal lagi dan dukungan yang penuh untuk membuat perubahan itu ke arah yang lebih baik.

“Dalam artian akan dikelola lebih maksimal, supaya potensi kita yang banyak tersebut dapat keluar lebih maksimal juga. Misalnya saja seperti memaksimalkan transportasi antar daerah seperti Padang ke Bukittinggi perlu dibangun jalan tol supaya arus transportasi lebih lancar, termasuk juga Padang ke Painan, serta pembangunan terowongan untuk Padang ke Solok,” jelasnya.

Hal berbeda justru dikatakan oleh seorang pengusaha dan politisi Indonesia Epyardi Asda, menu­rutnya dengan tagline “Siap memim­pin Sumbar. dibutuhkan pemimpin yang tegas dan merakyat” alasannya memakai kata-kata tersebut karena menurutnya pemimpin yang seka­rang tidak memiliki ketegasan dan tidak mempunyai kinerja, serta tidak bisa berkoalisi.

“Menurut saya sebagai seorang pemimpin harus tegas dalam memu­tuskan dan menyikapi segala hal apalagi itu yang berkaitan dengan kepentingan dan hajat masyarakat luas. Namun yang saya lihat pemim­pin sekarang pemimpin yang loyo, lembek dan tidak bisa bekerjasama dengan pihak luar,” ujar anggota DPR-RI ini

Ia juga mengatakan pemimpin yang sekarang ini sangat kaku ketika berhubungan dengan pihak luar, cara komunikasinya sangat jauh. Selain tidak bisa berkomunikasi juga sudah untuk diajak berkomunikasi karena harus melalui  beberapa anggota atau anak buahnya.

“Seorang pemimpin tidak boleh mengatakan menyesal menjadi ke­pala daerah karena gaji kecil, tidak bisa jalan-jalan ke luar negeri dan sebagainya. Yang namanya tang­gungjawab tentunya harus dipikul, kalau tidak mau kenapa ngotot jadi kepala daerah dengan memasang baliho dimana-mana, “ jelasnya.

Dengan tagline yang ia buat di baliho, mengatakan masyarakat Sumbar sudah mengetahui mak­sudnya dan masyarakat juga pintar menganalisis apa yang terjadi seka­rang. Dengan itu ia mengatakan dengan kesiapannya untuk mem­bangun Sumbar kea rah yang lebih baik ke depannya, tentunya dengan dan sebagai pemimpin yang tegas dan merakyat.

“Tidak hanya pemimpin yang merakyat ketika kampanye saja, dan pemimpin yang tegas untuk me­ngam­bil kebijakan dan keputusan untuk masyarakat Sumbar lebih sejahtera dan lebih baik,” pung­kasnya. (/mg-ri/eni)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]