Iran dan Irak Tentang Serangan ke Yaman


Jumat, 27 Maret 2015 - 19:27:15 WIB
Iran dan Irak Tentang Serangan ke Yaman

Arab Saudi mengatur sera­ngan udara karena kelompok pemberontak Houthi semakin mendekat tempat pengungsian Presiden Yaman, Abdul Rab­buh Mansour Hadi, di Aden, Yaman selatan.

Baca Juga : Tahun Kedua Pandemi Covid-19, Bagaimana Masyarakat Menyambut Lebaran Kali ini?

Namun Presiden Mansour Hadi dilaporkan sudah me­ning­galkan kota tersebut.

Serangan yang dipimpin Arab Saudi menyerang posisi-posisi Houthisepanjang m­a­lam, dengan menggunakan pesawat tempur maupun pe­luncur rudal.

Baca Juga : Stok Berkurang, Harga Sejumlah Kebutuhan Pokok di Pasar Tradisional Agam Naik

Arab Saudi dan beberapa negara Teluk menuduh Iran -yang pemerintahnya juga dido­minasi umat Syiah- berada di belakang kelompok pembe­rontak Syiah Houthi.

Alasan serangan atas ke­lom­pok itu disebutkan untuk membela pemerintahan yang sah yang dipimpin Presiden Mansour Hadi.

Amerika Serikat menga­takan memberikan ‘dukungan logistik dan intelijen’.

Serangan ini dilancarkan hanya dua hari sete­lah Men­teri Luar Negeri Yaman, Riad Yassin, memohon Dewan Ker­ja Sama Teluk (GCC) untuk melakukan intervensi militer.

Irak Juga Menentang

Menteri Luar Negeri Irak pada Kamis juga menentang serangan udara pimpinan Sau­di atas pemberontak Syiah di Yaman, dengan menyatakan ca­m­pur tangan tentara bukan jalan keluar. Ibrahim Jaafari, yang pemerintah pimpinan Syiah-nya memerangi pegaris keras Sunni di Irak dengan du­kungan Barat dan Iran, me­nya­takan mendukung pen­de­ka­tan perdamaian bagi Yaman.

“Kami tidak mendukung serangan itu dan menentang campur tangan asing,” katanya kepada AFP menjelang perte­muan menteri luar negeri Arab yang berlangsung di loka wisata Mesir Sharm el-Sheikh.

“Saya pikir penyelesaian dengan tentara tidak dapat menjadi awal dari jalan keluar. Kami mendukung penye­le­saian secara damai,” katanya.

Menteri itu bertemu untuk menyiapkan pertemuan pun­cak Arab di Sharm el-Sheikh pada akhir pekan, tempat negara anggota membahas usul pembentukan kekuatan tentara bersama.

Kepala kebijakan luar ne­geri Eropa Bersatu Federica Mogherini pada Kamis mem­peringatkan bahaya kawasan akibat pertempuran di Yaman dan menyatakan tidak mung­kin ada penyelesaian dengan tentara setelah pesawat Saudi membom pemberontak Syiah dan memicu peringatan Iran.

“Peristiwa terkini di Yaman secara tajam memperburuk keadaan rapuh di negara itu dan berdampak sangat mengancam kawasan tersebut,” kata pernyataan Mogherini, mantan menteri luar negeri Italia.

Kemajuan pemberontak Syiah Huthi dan serangan uda­ra terhadap gugus Presiden Abedrabbo Mansur Hadi di Aden tidak dapat diterima dan meningkatkan keadaan sudah terbelah, katanya, dengan me­nambahkan bahwa itu memicu serangan udara pimpinan Arab Saudi saat ini.

Dengan Arab Saudi me­mimpin campur tangan tentara Arab, dan peringatan Iran bahwa itu langkah berbahaya terhadap umatnya, Mogherini mendesak pemain Timur Te­ngah mendorong perdamaian.

Diplomat puncak Eropa Bersatu itu menyatakan ke­mampuan kelompok keras mengambil keuntungan dari keadaan tersebut akan me­ning­kat tajam tanpa penye­lesaian perdamaian di Yaman.

Kementerian Luar Negeri Iran pada Kamis mengecam serangan Arab Saudi dan seku­tu Teluk-nya terhadap pem­berontak Syiah, Huthi, di Aden, Yaman, dan me­nye­butnya sebagai langkah ber­bahaya, melanggar tang­gung jawab antarbangsa serta ke­daulatan bangsa lain. (h/ans)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]