Kambing Bantuan DPRD Dipertanyakan


Jumat, 27 Maret 2015 - 19:36:10 WIB
Kambing Bantuan DPRD Dipertanyakan

M. Irsyad, salah satu pen­damping keltan di Pesisir Selatan mengungkapkan, dari total 50 kambing untuk lima keltan yang dibimbingnya, masing-masing 10 kambing untuk satu keltan, sekarang tinggal 28 kambing yang hidup. Terdapat 4 hingga 6 ekor kam­bing yang mati di masing-masing keltan.

Baca Juga : Pelantikan 2 Bupati Terpilih di Sumbar Digelar 26 April 2021

Ia menjelaskan, lima keltan tersebut, dua berada di wilayah Tarusan dan tiga di Bayang Utara. Sejak diterima pada akhir 2014 yang lalu hingga kini, dalam satu minggu terda­pat satu kambing yang mati.

Ia juga mendapatkan infor­masi dari rekan-rekannya sesa­ma kelompok tani yang men­dapatkan bantuan kambing dari dana hibah bansos DPRD Sumbar terkait matinya kam­bing di Kabupaten Solok Sela­tan dan Dharmasraya.

Baca Juga : Malam Ini, TSR Pemkab Dharmasraya Kunjungi Masjid Baitul Amanah

Anggota kelompok tani, kata Irsyad, tidak mengetahui penyebab matinya kambing itu. “Yang diketahui petani, sebelum kambing mati, keluar air dari hidung kambing seperti ingus manusia. Kemudian, kambing tak bernafsu makan. Beberapa hari sejak keluar­nya air dari hidung, kambing tampak tak semangat hidup hingga mati,” beber Irsyad yang bertugas meme­diasi kelompok tani yang ingin ber­konsultasi dengan peme­rintah se­pu­tar dunia peternakan dan pertanian.

Terkait pertanggungjawaban matinya kambing tersebut, berhu­bung kambing itu bantuan peme­rintah yang dananya harus diper­tanggungjawabkan, Irsyad menje­laskan, keltan membuat berita acara kambing yang mati dan menye­rahkan laporan itu ke penyuluh peternakan setempat.

Baca Juga : Warga Lubuk Gadang Utara Terima BLT Dana Desa untuk 127 KPM

Sebelum kambing mati, pihak­nya melaporkan gangguan keseha­tan kepada penyuluh dengan hara­pan kambing mendapatkan pena­nga­nan medis. Namun, tidak ada petugas kesehatan yang datang untuk memeriksa kondisi kambing atau memberikan pengobatan sampai kambing itu mati.

Hal yang sama juga terjadi di Kota Padang. Armansyah, ketua salah satu keltan di Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Pauh me­nga­takan, dari 10 ekor kambing yang diterima kelompoknya, 8 ekor telah mati sejak pertama kali diterima hingga saat ini.

Baca Juga : Pantauan Perkembangan Virus Corona di Sumbar: Positif 204, Sembuh 99, dan Meninggal Dunia 3 Orang

Ia heran, kambingnya tetap mati walau sudah disuntik oleh tim medis Dinas Peternakan Sumbar dengan membayar Rp 50 ribu.

“Disuntik tiga kali. Sore disun­tik, malam mati,” akunya saat dihubungi Haluan, Jumat (27/3).

Setiap kali mati, pihaknya selalu melaporkan kematian kambingnya ke Dinas Peternakan Sumbar. Na­mun, petugas Dinas Peternakan tidak mau mengecek ke lapangan. Melainkan meminta kambing yang mati difoto oleh anggota keltan pada empat posisi. Kemudian foto itu dikirim ke Dinas Peternakan bersa­ma berita acaranya.

Zondra Volta, anggota keltan tersebut mengutarakan, ia ditelepon oleh rekan-rekannya sesama anggota keltan yang menerima bantuan kambing dari berbagai daerah di Sumbar, bahwa kambing mereka juga mati. Tidak jauh berbeda, Ali Nursal, ketua kelompok peternak di Kelu­rahan Pisang, Kecamatan Pauh mengatakan, dari 10 ekor kambing yang diterima kelompoknya, 4 ekor di antaranya mati.

Ia menuturkan, saat pertama kali 10 ekor kambing itu ia terima, salah satu di antara kambing itu menge­luarkan air liur berlebih di mulut­nya. Ia pun melaporkan hal itu ke tim medis Dinas Peternakan, yang kemudian membersihkan air liur itu dan memberikan obat kepada kam­bing. Bukannya sembuh, dua hari kemudian, kambing itu mati. Bebe­rapa hari kemudian, berturut-turun mati 3 ekor kambing.

Hal yang sama juga dilaporkan temannya di Pauh Sembilan, Keca­matan Pauh, bahwa kambing yang diterimanya mati 8 ekor.

Sementara itu, Kabid Produksi Dinas Peternakan Sumbar, Afrizal menjelaskan, jika kematian kambing sebelum 7 hari, akan diganti oleh rekanan yang mendistribusikan kambing itu, dengan syarat keltan memiliki berita acara matinya kam­bing itu. Jika matinya lewat 7 hari, tidak tanggungjawab rekanan lagi, alias tidak diganti.

Menurutnya, banyaknya kam­bing bantuan itu yang mati, karena peternak tidak mengerti bagaimana memelihara kambing Etawa.

“Untuk tahun ini, calon pene­rima bantuan kambing akan dibe­rikan bimbingan di Diklat Pelatihan Peternakan dan Kesehatan di Paya­kumbuh,” ujarnya.

Ia menuturkan, bantuan kam­bing itu diberikan oleh rekanan yang difasilitasi oleh Dinas Peternakan Sumbar pada November 2014. “Sebenarnya diberikan bulan Sep­tem­ber. Namun, keltan penerima bantuan itu baru lengkap pada November,” sebutnya.

Ia menambahkan, tidak semua kabupaten/kota di Sumbar mene­rima bantuan itu. Saat ditanya berapa total kambing yang diserahkan ke keltan di kabupaten/kota di Sumbar yang menerima bantuan, ia menga­takan bahwa ia lupa jumlahnya.

Irdinansyah Tarmizi, Wakil Bu­pati Tanah Datar, inisiator pemberian bantuan bibit kambing Etawa terse­but saat menjabat anggota DPRD Sumbar pada tahun 2014 menga­takan, ia berinisiatif memberikan bantuan kambing Etawa kepada peternak karena melihat keber­hasilan pengembangan kambing itu di banyak tempat.(h/dib)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]