Madrasah Tarbiyah Islamiyah: Benteng Sunni di Minangkabau


Ahad, 29 Maret 2015 - 19:27:15 WIB
Madrasah Tarbiyah Islamiyah: Benteng Sunni di Minangkabau

 

Karena penelitian maha­siswa tersebut masih sangat sederhana, dikerjakan oleh mahasiswa semester tiga, a­khir­nya saya mendapatkan data otentik yang lebih me­yakinkan atas laporan ma­hasiswa. Sangat mengejutkan, ketika mendapat tu­gas dinas luar men­sosialisakan fakultas baru (Fakultas U­shuluddin, Adab dan Dakwah) dari IAIN Bukittinggi ke sekolah-ekolah dan madrasah-madrasah, MTI betul-betul masih ber­diri ko­koh di te­ngah masyarakat Mi­nangkabau men­jadi benteng bagi a­qidah Ahlussunah Wal­ja­maah dan memelihara Fikih Syafi’i sebagai acuan dalam beribadah. Sejak dari peda­laman 50 Kota, Tanah Datar, di selingkar Danau Singkarak dan Danau Ma­ninjau, apalagi di pinggiran Kota Bukittinggi dan Kabu­paten Agam, ma­drasah ini masih menjadi perisai dari gempuran ins­titusi-institusi keislaman sem­palan yang ber­munculan bela­kangan ini.

Baca Juga : Menhub Minta Penumpang Via Pelabuhan Bakauheni Rapid Test Antigen Sebelum Berangkat

Orang-orang muda ber­si­nergi dengan kaum tua dalam mengembangkan madrasah, tidak tercium lagi aroma per­tentangan kaum muda dan kaum tua. Alumni madrasah yang sudah memperoleh gelar sarjana kembali ke almamater untuk mengembangkan ma­na­jemen madrasah sesuai dengan ilmu pendidikan modern yang mereka peroleh di perguruan tinggi. Bahkan sudah ada yang memperoleh gelar magister pendidikan bersinergi mem­bangun madrasah dalam rang­ka mempertahankan ideologi tarbiyah islamiyah dengan meto­dologi dan teori pen­didikan masa kini. Dukungan moril dari alumni yang sempat menempuh pendikan yang lebih tinggi, berhasil menjadi pengusaha, birokrat dan poli­tikus, bersama-sama duduk seba­gai penasehat dan mem­bina yayasan di madrasah.

Sementara tradisi kitab kuning dipelihara oleh guru-guru senior. Kemampuan mem­­­­­baca kitab kuning meru­pakan simbol bagi sebuah madrasah atau pesantren di Indonesia. Penguasaan ilmu alat adalah sebagai syarat da­lam mempelajari ilmu-ilmu keislaman lainnya, itu hanya dapat dibuktikan dengan ke­mampuan dalam membaca kitab kuning (buku bahasa Arab yang ditulis tanpa baris). Pembelajaran ki­­tab kuning ti­dak cukup ha­nya dilakukan di kelas secara klasikal, pen­da­laman diperlukan di surau, masjid atau datang ke rumah guru, yang biasa disebut dengan “maulang kaji”. Tradisi ini akan selalu dipelihara dalam rangka menjaga regenarasi kepemimpinan dan keilmuan di Tarbiyah Islamiyah.

Baca Juga : Arus Balik Lebaran, Polri Alihkan Truk Besar ke Jalur Non Tol

Kembali kepada laporan mahasiswa, salah satu item­nya adalah kurikulum ma­drasah. Sampai saat ini be­lum ada perubahan, semua madrasah Tarbiyah Islamiyah masih memelihara tradisi Aqidah Ah­lussunnha Wal­­ja­maah dan me­nga­malkan fikih Syafi’i dalam be­ribadah. Dari se­gi kuan­titas Madrasah Tar­biyah Is­lamiyah di Sumatera Barat yang cukup banyak, maka dapat dipastikan bahwa su­dut-sudut Sumatara Barat akan terjaga dari serangan akidah di luar akidah Ah­lussunnah. An­caman paham Syi’ah yang belakangan di­khawatirkan mewabah di In­donesia, tentu akan surut dengan sendirinya dengan keberadaan Madrasah Tar­biyah Islamiyah. Perkem­ba­ngan ISIS yang mengancam anak-anak muda muslim a­kan terbentengi dengan pe­nga­malan keagamaan yang mo­de­rat. Pondasi ke­bera­gamaan yang ditanam di Ma­drasah Tarbiyah Islamiyah cukup kuat dalam menangkal ge­lombang Islam liberal yang ma­sih bolak balik di tengah samudra pemi­kiran keislaman Indonesia.

Akan tetapi pengalaman belajar di madrasah belum cukup untuk menjadikan anak muda Minangkabau betul-betul tangguh dan dapat ber­tahan dari serangan di luar aqidah sunni yang dilancarkan melalui sarana dan media yang lebih canggih dengan meng­gunakan tekhnologi informasi. Meningkatkan kemampuan intelektual di bidang ke­aga­maan dalam rangka menjaga a­ki­dah umat sebuah ke­nis­cayaan. Perang pemikiran harus dihadapi dengan pe­nguasaan ilmu keislaman da­sar, seperti al-Qur’an, Hadis, filsafat Islam, pemahaman yang baik tentang peradaban Islam, dan seni meng­komu­nikasikan Islam secara baik dan benar.

Kehadiran Fakultas Us­huluddin, Adab dan Dak­wah di IAIN Bukittinggi mem­berikan kesempatan kepada lulusan Madrasah Tarbiyah Islamiyah dan sekolah tingkat aliyah lainnya untuk men­dalami keilmua tersebut di atas. Dengan enam jurusan, al-Qur’an dan ilmu tafsir, hadis dan ilmu hadis, filsafat agama, sosisologi agama, sejarah ke­budayaan Islam, dan komu­nikasi penyaran Islam, suma­tera barat akan memiliki sar­jana-sarjana yang punya ke­mam­puan intelektual meng­hadapi gempuran aliran, pa­ham dan ajaran sesat. IAIN Bukittinggi yang berada di lokasi strategis, dengan suhu udara yang sejuk, mudah dica­pai dari kabupaten kota ma­napun di Sumatara Barat, bahkan Sumatera, menjadi pilihan yang sangat tepat dalam melanjutkan pendidikan.

Terakhir, Madrasah Tar­biyah Islamiyah, bukan hanya sebatas madrasah yang me­lakukan transformasi ilmu dari guru ke murid. Setiap Ma­drasah Tarbiyah Islamiyah di Sumatera Barat pasti berasal dari sebuah surau tarekat yang didirikan oleh seorang murid yang sudah mendapat ijazah dari gurunya untuk men­dirikan surau baru di daerahnya. Di surau tarekat, syekh m­e­la­kukan pemeliharaan akidah terhadap umat Islam yang lanjut usia, yang biasanya dila­kukan di setiap bulan Rama­dan dalam bentuk kegiatan suluk. Amalan Madrasah Tar­biyah Islamiyah sejak dari manusia lahir sampai mereka akan menghadapi ajal. Ke­mam­puan untuk bertahan sam­­pai saat ini merupakan prestasi yang pantas diberikan oleh Negara dalam bentuk perhatian, pembinaan dan mengerahkan segala bentuk-bentuk kemampuan sehingga Madrasah Tarbiyah Islamiyah dapat senantiasa menjalankan tugasnya. **

 

DR. GAZALI, M,AG
(Dekan FUAD IAIN Bukittinggi)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]