Pensiunan PDAM Tewas Gantung Diri


Senin, 30 Maret 2015 - 19:44:11 WIB
Pensiunan PDAM Tewas Gantung Diri

Kakak ipar korban, Marsli (62) mengatakan, keluarga sangat terke­jut dengan kejadian ini. Pasalnya, Edi tidak pernah mengeluhkan apapun kepada keluarga. Ia melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa, sekitar setahun lalu ia sudah ber­domosili di kampung.

“ Adik ipar saya ini cukup lama merantau di Pekanbaru. Ia hidup dengan seorang istri di sana. Karena istrinya sudah cukup lama me­ninggal, dan mereka tidak memiliki anak, keluarga memintanya, untuk pulang kampung. Ajakan itu disang­gupinya sejak sekitar satu tahun lalu,” ungkap Marsli.

Baca Juga : Temui Menteri PUPR, Bupati Pesisir Selatan Ajukan Usulan Pembangunan Infrastruktur

Dikatakannya, setelah dite­mu­kan dalam keadaan tergantung ke­luar­ga langsung menghubungi pihak kepolisian. Selang beberapa saat kemudian tim medis juga turut datang untuk memeriksa kondisi jenazah. “ Kami tidak habis pikir dengan kejadian ini. Sebab adik ipar kami ini tidak pernah mengeluhkan apapun terkait persoalan yang membelitnya,” ungkap Marsli.

Kapolres Agam, AKBP Eko Budhi Purwono, mengatakan, keja­dian yang menimpa Edi Tiawarman murni bunuh diri. Tidak ada ditemukan tanda-tanda lain, pada lokasi maupun tubuh korban.

Dikatakannya, pihak keluarga sudah bisa menerima kejadian yang menimpa Edi. Saat ini jenazahnya sudah diterima oleh pihak keluarga untuk diselenggarakan. Peristiwa gantung diri ini merupakan kali kedua pada tahun 2015, sebelumnya seorang warga Lubuk Panjang, Jo­rong Duo Garagahan, Nagari Garagahan, Kecamatan Lubukbasung, juga dite­mukan tewas gantung diri.

Menanggapi maraknya aksi bu­nuh diri di Sumbar, Gubernur Sum­bar Irwan Prayitno memandang, pelarian seseorang yang ingin meng­akiri hidupnya sendiri apakah itu dengan gantung diri atau cara lainnya karena lemahnya akidah dalam diri si pelaku.

Dikatakatan Irwan, ketika aki­dah di dalam diri kuat, seseorang tidak akan memilih jalan menye­lesaikan suatu masalah dengan cara yang sangat dilarang agama seperti bunuh diri.

Agar hal ini tidak lagi terulang di kemudian hari, Irwan berharap peran aktif dan peran serta tokoh-tokoh masyarakat, pemuka agama, pemuka adat, ninik mamak, dan masyarakat sekitar untuk saling mengingatkan mengenai akidah ini.

Bekali dengan ESQ

Terkait bunuh diri yang dilaku­kan Khai­rul Gusti (21) maka pihak Unand menyatakan turut berduka cita.

Rektor Unand Werry Darta Taifur ketika dihubungi Haluan kemarin  mengatakan, segenap civitas akademika Unand berduka dan menyayangkan kepergian maha­siswa penerima bidikmisi tersebut. Padahal, diharapkan mahasiswa bisa berfikir lebih jernih saat menghadapi persoalan apapun juga.

“Kita sudah membekali maha­siswa dengan Emotional Spiritual Quotient (ESQ), pembentukan men­­­tal dan kebiasaan untuk terbuka satu sama lain dalam menghadapi perma­salahan. Kita sudah memberi pembe­kalan maksimal, tentu keja­dian ini me­ngagetkan kita semua,” ucap Werry.

Werry berharap agar mahasiswa yang lain bisa mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Karena setiap permasalahan selalu ada solusi pemecahannya.

Rektor mengatakan, setiap ma­ha­sis­wa memiliki pembimbing aka­demik (PA) masing-masing. PA, selain menjadi tempat mengadu untuk urusan kuliah, juga harus dimaksimalkan sebagai orang yang bisa menerima keluh kesah maha­siswa bimbingan akademiknya.

“Kampus selalu terbuka untuk men­dengar berbagai persoalan dan keluhan, baik dari mahasiswa mau­pun dari orangtua mahasiswa. Jika ada persoalan jangan didiamkan sehingga berdampak buruk terhadap maha­siswa, ” kata­nya. (h/yat/mg-isr/mg-isq)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]