Kita dan 35 Tahun Wafatnya Bung Hatta


Selasa, 31 Maret 2015 - 19:31:44 WIB
Kita  dan 35 Tahun Wafatnya Bung Hatta

Tapi kicauan kawan saya ini masih saya anggap wajar karena beliau adalah aktivis dan peneliti ekonomi ke­rak­yatan di Mubyarto Institute Yogyakarta. Jadi sangat bisa saya pahami mengapa beliau sangat aware terhadap tokoh sekaliber Hatta,  toh Al­mar­hum Prof. Mubyartopun,  to­koh yang menjadi sentral in­telektual bagi kantor dimana kawan saya ini bekerja ini,  memang ada dalam jalur pe­mikiran ekonomi yang sama dengan Bung Hatta, bahkan menjadi tokoh intelektual ekonomi kerakyatan yang ba­nyak membawa-bawa  Hatta kedalam tulisan-tulisannya semasa hidup.

Baca Juga : Menkes Ungkap Penyebab India Diterjang Tsunami Covid-19

Terkadang tanpa sadar, baik secara intelektual maupun secara emosional, kita cendrung bersikap sama de­ngan rezim-rezim yang telah meminggirkan Bung Hatta semenjak beliau mundur  dari posisi wakil presiden tahun 1956. Kita cendrung me­nung­gu moment, menunggu event, atau menunggu situasi yang mengharuskan kita mengenang beliau, barulah kita me­mo­sisikan beliau sebagai figure yang penting. Jika situasi itu tidak datang, event dan mo­mentnya tidak diseleng­gara­kan, kita kembali menyelip­kannya jauh disudut terdalam memori.

Tapi entahlah, boleh jadi memang situasi negeri ini sudah begitu pelik sampai-sampai kita sudah tidak punya waktu untuk mengheningkan cipta dan  napak tilas tentang seluk-beluk tokoh-tokoh yang telah melahirkan negeri ini dengan sangat susah payah.

Baca Juga : Ini Sosok Jozeph Paul Zhang, Penista Islam

Kondisi kenegaraan atau situasi kepolitikan (polity) negeri ini, secara substansial, sejatinya masih sama saja de­ngan situasi dimana Bung Hatta merasa kecewa dan me­ngundurkan diri dari panggung istana. Partai politik yang meraja lela, departemen-de­par­temen yang berjalan sen­diri-sendiri sesuai dengan kepentingan partai yang me­nguasainya, atau ancaman des­potisme  yang terselip dibalik jubah demokrasi terpimpin waktu itu, ini adalah beberapa point-point pokok yang mem­buat Hatta begitu kecewa dan me­mutuskan menjadi rak­yat biasa. Dan sampai hari ini, ma­­­salah-ma­salah itu masih men­­jadi urusan pelik negeri ini.

Masalah-masalah yang sa­ngat mengecewakan Bung Hatta ini baru empat tahun setelah beliau mengundurkan diri  jadi wapres diketahui publik.  Me­la­lui tulisan Hatta di ma­jalah Panji Masyarakat (besutan Buya Hamka) yang berjudul “Demokrasi Kita”, akhirnya publik mendapat sedikit pe­tunjuk mengapa Hatta secara sepihak me­mutuskan berhenti menjadi Wakil Presiden.

Baca Juga : Ketua DPD RI Minta Pemerintah Tegur TikTok, Ada Apa?

Setelah beliau mundur dan memutuskan menjadi rakyat biasa, hidupnya masih saja dikelilingi oleh aksi-aksi pa­ranoid Soekarno waktu itu. Rumahnya dimata-matai, se­tiap duta besar yang ber­sila­turahmi ke rumah  Hatta langsung dipanggil ke Istana dan diprovokasi agar tidak lagi mendatangi Hatta di kemu­dian hari, atau Hatta yang di­cekal untuk menjadi pem­bicara di acara-acara Inter­na­sional, adalah aksi-aksi rezim yang terus mencoba mengu­rangi makna pentingnya Hatta bagi Indonesia.

Namun demikian, Hatta tak pernah berubah, beliau tetap konsisten memberikan kritikan kepada pemerintah sama seperti beliau membom­bardir rezim kolo­nial dengan tulisan-tulisannya yang sangat tajam, jika langkah-langkah pemerintah men­cede­rai rasa keadilan publik. Disisi lain, Hatta pun tak pernah merasa bermusuhan dengan Soekarno, bahkan beberapa waktu sebe­lum Soekarno wa­fat, Hatta masih meluangkan waktu u­n­tuk menjenguk.

Baca Juga : Akhiri Polemik Vaksin Nusantara, Kemenristek Perlu Segera Ambil Sikap

Sebagai generasi yang me­nempa bangunan intelektual  jauh hari setelah Kiprah dan wafatnya Bung Hatta ( tahun 2000an), saya masih terpesona dan terkagum-kagum dengan proklamator berdarah Mi­nang­kabau ini.  Sampai detik ini, buah pemikirannya masih sangat konstektual untuk ne­geri ini, meskipun cendrung diabaikan.

Sebelum tahun 2001, saat saya masih SMA, saya cuma memahami Bung Hatta sela­yaknya anak sekolah mengenal beliau, yakni sebagai salah satu proklamator yang mem­prok­lamirkan kemerdekaan In­donesia, cuma sebatas itu.

Pada tahun 2001, masa-masa semester pertama saya di fakultas sosial politik Uni­versitas Padjadjaran, tanpa sengaja saya melihat sebuah buku karya John Ingleson di salah satu rak buku per­pus­takaan Fisip Unpad. Buku yang memotret perjalanan ide nasionalisme Indonesia ini pada awalnya adalah thesis John Ingleson, namun dari buku inilah pertama kali saya sadar bahwa secara ideasional, peran Bung Hatta ternyata sangat besar dalam meletakan dasar ideasional nasionalisme Indonesia.  Bahkan bangunan intelektual Bung Karno ten­tang  nasionalisme Indonesia tak lepas dari bantuan tak langsung tulisan-tulisan Hatta yang secara berkala beliau kirim dari Belanda ke surat kabar – surat kabar pribumi waktu itu.

Melalui buku tersebut, saya memulai menjawab rasa pena­saran saya terhadap Hatta yang kemudian berlanjut pada pulu­han buku lainya setelah itu, termasuk disertasi John Ing­leson yang juga masih kental memotret peran-peran Bung Hatta. John Ingleson, yang saat ini sudah bergelar Emeritus Profesor di University Western Sidney, memaparkan perja­lanan ideasional nasionalisme Indonesia secara sangat kro­nologis sehingga peran-peran penyebaran ide nasionalisme (non kooperasi) Hatta begitu nyata terasa.  Pasalnya,  be­liau memotret dari sudut pan­dang ilmu sejarah, sehingga secara historis, terasa lebih menggigit ketimbang  mi­salnya buku fenomenal karya George McTurnan Kahin, Her­bert Feith, atau karya Be­nedict Anderson.

Tapi terkadang ada be­narnya adigium sindiran  yang mengatakan  bahwa memori kolektif dan memori historis kita sangat pendek, mudah melupakan masa lalu dan ber­koar-koar ingin membangun masa depan tanpa landasan sejarah yang jelas. Dan saya benar-benar merasa sedikit tersindir ketika Peter Carey meluncurkan karya terbarunya tentang biografi Pangeran Di­ponegoro di akhir tahun 2014. Dalam epilognya (kata pe­ngantar), beliau secara gam­blang membuka fakta bahwa hampir 90 persen lebih sejarah ketokohan maupun biografi figur-figur sentral dalam seja­rah Indonesia ditulis oleh ilmuwan luar negeri (Indo­nesianist). Kata pengantar itu saya  baca baru beberapa minggu lalu saat saya dihadiahi karya Peter Carey oleh seorang kawan dari UGM.

Kata pengantar inilah yang menjadi salah satu alasan saya untuk memantau media-me­dia, terutama di Sumbar, sela­ma seminggu sejak tanggal 14 Maret 2015 lalu. Dan ter­nyata memang benar, kita cendrung kurang tertarik dengan sejarah kita sendiri ketimbang orang asing yang rela bersusah payah menggali sumber-sumber pri­mer untuk menerbitkan ba­nyak hal tentang Indonesia. Dan boleh jadi, generasi sete­lah kita, sudah tidak muncul lagi nama orang sekaliber Hatta ini di dalam gerak in­telektualitas anak negeri. Se­moga saja tidak. (*)

 

RONNY P. SASMITA
(Pemerhati Ekonomi Politik)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]