MK Paling Berpotensi Kalahkan IP


Selasa, 31 Maret 2015 - 19:42:57 WIB
MK Paling Berpotensi Kalahkan IP

Tanpa mengenyampingkan kans dan potensi para ‘kuda hitam’, namun pertemuan dua petahana, yakni Gu­ber­nur Ir­wan Prayitno (IP) dan Wakil Gubernur Muslim Kasim (MK) pada arena Pilgub Sum­bar 2015 mendatang, memang dipas­tikan akan menjadi duel maut bagi duet pasangan yang telah menah­kodai Sumbar se­jak 15 Agustus 2010 silam itu.

Baca Juga : Hari Pertama Kerja Usai Lebaran, Pemko Padang Sidak Kehadiran ASN

Dari hasil simulasi elekta­bilitas calon Gubernur Sum­bar yang dirilis lembaga survei SpektrumPolitika, kandidat paling berpotensi untuk me­ngalahkan IP adalah MK sen­diri. IP yang berada di posisi teratas pada persentase si­mu­lasi elektabilitas lima paket calon gubernur Sumbar yakni 43,3 persen, tampak diikuti MK de­ngan elektabilitas 13,9 persen.

Kemudian disusul Shadiq Pa­sadigoe (SP) dengan elek­tabilitas 13,4 persen, Nasrul Abit (NA) 7,3 persen dan terakhir Syamsu Rahim (SR) 6,3 persen. Sementara dalam simulasi elektabilitas tiga paket calon, posisi IP yang kembali berada di urutan ter­atas dengan persentase sebesar 47,6 persen, disusul MK 15,4 persen dan SP 14,9 persen.

Baca Juga : Libur Lebaran Usai, Dinkes Kota Padang: Masyarakat Harus Lakukan Tes Swab

Sedang untuk top lima besar popularitas dan accep­tabilitas ter­hadap bakal calon gubernur (ba­cagub), Spek­trumPolitika tetap menem­patkan IP di posisi atas yakni 83,17 disusul Fauzi Bahar (FB) 56,5 lalu Muslim  Kasim (46,17), Shadiq Pasadigoe (25,8) dan NA (17,33).

Peneliti SpektrumPolitika, Asri­naldi mengatakan, meto­dologi sur­vei yang dilakukan dengan cara multistage random sampling, dilaku­kan dengan melibatkan 1200 res­ponden, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sebesar 2,8 persen. “Adapun yang menjadi unit sampling primer survei (PSU), adalah masyarakat di 80 kelurahan atau nagari, yang tersebar di 12 kabupaten/ kota se-Sumbar,” ujar Asrinaldi.

Asrinaldi yang dihubungi Ha­luan, Selasa (31/3) mengatakan, pada prinsipnya survei merupakan proses identifikasi dan pemetaan dari persepsi masyarakat terhadap para bakal calon kepala daerah (gubernur Sumbar), sekaligus meng­akomodasi berbagai harapan dan aspirasi mereka terhadap pemimpin Sumbar ke depan.

“Hasil berupa angka-angka yang dirilis setiap lembaga survey itu bersifat dinamis. Apapun hasilnya, ini setidaknya bisa menjadi pedo­man bagi masing-masing calon. Namun di sisi lain, para kandidat juga harus tetap mewaspadainya. Karena bisa saja lembaga berikut hasil survei yang dirilisnya itu, adalah setingan dari calon tertentu,” terang Asrinaldi.

Asrinaldi mengatakan, para calon hendaknya dapat menyikapi hasil survei yang dirilis beberapa lembaga itu secara objektif. Bahkan imbuh Asrinaldi, ada baiknya jika hasil survei tersebut dijadikan seba­gai pedoman untuk terus melakukan perbaikan dan pembenahan dalam upaya meraih simpati dan tingkat kepercayaan masyarakat.

“Para calon harus melihat hal itu (hasil survei) secara objektif. Ambil positifnya. Namun demikian, tetap juga harus dipahami, bahwa bukan tidak mungkin hasil polling tersebut merupakan sebuah agenda setting dari calon-calon tertentu,” tandasnya.

Irwan Prayitno (IP) yang dihu­bungi Haluan tadi malam menga­takan, dirinya tetap mengambil sisi positif dari hasil-hasil survei yang dirilis sejumlah lembaga sejak bebe­rapa waktu terakhir. Walau nyaris seluruh lembaga survei menem­patkan na­manya di posisi teratas dengan tingkat elektabilitas paling ting­gi dan jauh meninggalkan kandi­dat lainnya, namun IP tetap me­ngang­gap hal tersebut sebagai sebuah ‘ujian’.

“Menang atau kalah, tinggi atau rendah (hasil survei), bagi saya adalah ujian. Yang terpenting itu, adalah bagaimana kita menyi­kapi­nya secara objektif dan bisa me­ngam­bil hikmah dibalik feno­mena itu. Tentunya dengan selalu berusaha dan berserah diri kepada Allah, karena jika Allah menghendaki, semua bisa berubah dalam sekejap,” ujar Irwan.

Secara terpisah, Muslim Kasim yang juga dihubungi tadi malam terkait hasil survei Spektrum Poli­tika menyatakan, bahwa dirinya tidak pernah memaknai ajang Pemi­lihan Kepala Daerah (Pilkada) sebagai pertarungan kalah-menang.

“Sebagai sebuah dinamika poli­tik, lumrah saja ada lembaga survei yang memetakan kekuatan bakal calon yang akan tampil di Pemi­lukada nanti. Namun, saya tidak pernah memaknai Pilkada sebagai pertarungan kalah-menang. Bagi saya, maju di Pilkada adalah sebuah ikhtiar untuk tetap bisa mengabdi bagi kepentingan orang banyak. Soal hasilnya, kami serahkan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala,” ujar Muslim Kasim.

Duel Maut Petahana

Duel maut dua petahana (IP-MK), memang tengah menjadi tran­ding topic di kancah perpolitikan Ranah Minang jelang Pilgub Sumbar 2015 mendatang. Oleh banyak pi­hak, IP dan MK merupakan two major powers (dua simpul kekuatan utama) pada alek lima tahunan yang tinggal menghitung bulan itu. Betapa tidak, keduanya tengah sama-sama berkuasa, punya modal dan punya kekuatan besar (basis massa/suara) untuk saling berpacu. Tentu tanpa mengenyampingkan potensi dan kekuatan tokoh-tokoh lain, yang bisa saja menyalip sebagai kuda hitam.

Jika keduanya masuk box start (sebagai petahana), dipastikan duel maut akan benar-benar menye­marakkan pesta demokrasi di Sum­bar pada 2015 ini. Betapa tidak, selain sebagai dua simpul kekuatan utama, keduanya tentu sama-sama memiliki elektabilitas yang tinggi. Apalagi sebelum menjabat Guber­nur/Wakil Gubernur Sumbar, baik IP maupun MK, juga telah sama-sama memiliki rekam jejak dan pengalaman politik yang panjang.

IP misalnya, selain pernah ikut bertarung sebagai cagub Sumbar pada 2005 lalu, politisi PKS ini juga pernah mengecap posisi sebagai anggota DPR RI, sebelum akhirnya kembali mengikuti pertarungan di arena Pilgub Sumbar 2010 dan menang. Sementara MK, dengan bermodalkan kekuatan jaringan PKDP dan dukungan elit politik, plus rekam jejaknya selama dua periode memimpin Padang Paria­man, tentu akan menjadi tiket paling mahal untuk selanjutnya naik pe­ring­kat menjadi orang nomor satu.

Kuda Hitam dan Juru Kunci

Selain dua nama sang petahana, kekuatan di luar kekuasaan rumah bagonjong Sumbar saat ini, tentu tak bisa dianggap enteng dan tak bisa dipandang sebelah mata. Meski ke­cen­derungan politik kerap ‘me­me­nangkan’ incumbent di beberapa hajatan politik lokal, namun tak satu dua pula petahana yang harus ter­sing­kir, tumbang dan akhirnya dengan ikhlas menyerahkan estafet kepe­mimpinan mereka kepada pesaing­nya, yang nota bene berstatus kuda hitam.

Dari sejumlah nama-nama kan­didat yang sudah muncul mera­maikan bursa kandidat bakal calon Gubernur Sumbar, diantaranya Fauzi Bahar, mantan Walikota Pa­dang dua periode. Selanjutnya, Shadiq Pasadigoe, Syamsu Rahim, Nasrul Abit (ketiganya bupati dua periode di Tanah Datar, Kabupaten Solok dan Pesisir Selatan—red) serta Epyardi Asda, Mulyadi dan beberapa nama lainnya.

“Di atas kertas, dua petahana boleh bangga dengan kekuatan, pun kekuasaan yang kini tengah di tangan mereka. Namun selain akan sangat ditentukan oleh juru kunci (wakil), mereka juga harus jeli dan awas terhadap pergerakan kuda hitam, yang nota bene akan menjadi kekuatan liar di luar lingkar kekua­saan,” kata H. Nasrullah Nukman, salah seorang politisi senior Kota Padang Panjang. (h/yan/rk)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]