Menjual Batu Malin Kundang


Rabu, 01 April 2015 - 19:45:52 WIB
Menjual Batu Malin Kundang

Barangkali, sebagian di antara kita ada yang merasa bosan, jenuh dan gerah dengan janji-janji pemerintah kota (baca: Pemko Padang) yang dari dulu selalu berwacana membenahi objek wisata terse­but. Termasuk mendatangkan investor guna melakukan re­vitalisasi besar-besaran, de­ngan membangun akses jalan, penginapan yang repre­sen­tative dan prasarana penunjang wisata  lainnya.

Baca Juga : Athari Gauthi Ardi: Hentikan Penjajahan Israel terhadap Palestina

Sayang, hingga berganti kepemimpinan, wacana itu tetap sebatas angan yang tak kesampaian. Padahal, jika ditilik lebih dalam, Batu Malin Kundang bukan sekedar objek wisata biasa. Seti­dak­nya, ada be­be­rapa aspek wi­sata yang terkait  de­ngan kebe­ra­daan batu Malin Kun­dang tersebut.

Pertama, aspek wisata pan­tai dan laut. Bagi mereka yang berkunjung untuk melihat batu Malin Kundang, sekaligus akan disuguhi pemandangan pantai dan laut nan elok. Di Pantai Air Manis ini, pe­ngunjung bisa menikmati p­a­sang surut air laut yang muncul secara berkala.

Baca Juga : Ketua Wadah Pegawai KPK Ucapkan Terima Kasih kepada Jokowi, Ada Apa Ya?

Kedua, aspek wisata seja­rah dan budaya. Pantai Air Manis nan permai itu, tak hanya menyimpan wisata batu Malin Kundang. Tapi di sana juga terdapat situs berupa makam yang konon dipercaya sebagai makam Siti Nurbaya, tokoh rekaan dalam roman karangan Marah Rusli yang juga sama melegendanya de­ngan dongeng Malin Kundang. Bedanya, jika Malin Kundang menjadi icon kedurhakaan seorang anak, maka Siti Nur­baya menjadi perlambang ki­sah kasih sepasang anak manu­sia yang mental di tengah jalan.

Ketiga, wisata religi. Ada nilai atau muatan religiusitas terkait objek wisata Batu Malin Kundang. Pembelajaran dari kisah Malin Kundang adalah agar setiap anak menghormati orangtuanya, terutama sang ibu. Dalam ajaran Islam, ibu merupakan sosok yang sangat dihormati dan dimuliakan. Rasul mengajarkan peng­hor­matan 3X lebih banyak kepada ibu, sebelum ayah. Dari aspek inilah, situs Malin Kundang mengingatkan manusia (seo­rang anak) untuk tidak durhaka kepada ibunya. Bukan karena takut dikutuk menjadi batu, tapi memang sudah seharusnya seorang anak menghormati dan berbakti kepada ibu yang telah me­ngandung dan me­lahirkannya.

Seharusnya, dengan me­madupadankan ketiga aspek wisata tersebut, Batu Malin Kundang menjadi komoditas wisata yang sangat layak jual. Sayang, kita abai akan hal tersebut.

Dongeng Malin Kundang si anak durhaka memang mele­genda, dikenal secara luas oleh masyarakat dari Sabang hingga Papua, bahkan negeri tetangga. Apalagi sekarang, dengan du­ku­­ngan teknologi informasi yang serba online, kita bisa dengan mudah mendapatkan referensi bahkan video tentang wisata Batu Malin Kundang di jejaring sosial.  Tapi per­ ca­yalah, datang dan melihat secara langsung objek wisata tersebut, memberikan sensasi yang berbeda.

Tapi bagaimana mau me­n­jualnya, jika produk tersebut tidak bisa kita banggakan? Sebagai orang yang lahir dan besar di Kota Padang, Saya pertama kali menjejakkan kaki di Pantai Air Manis itu ketika duduk di bangku sekolah da­sar. Yang terfikirkan di otak kanak-kanak Saya kala itu adalah, “Seperti apa ya wu­judnya batu Malin Kundang si anak dur­haka itu?. Soalnya Saya pena­saran sekali setelah didongeng­kan ibu menjelang tidur.

Baru ketika re­maja dan kembali ke tempat itu, Saya mulai berfikir ten­tang hal lain. Batu Malin Kun­dang yang sejatinya menjadi fokus orang yang berkunjung ke tempat itu, justru terlihat tak terawat dan – maaf – kotor, dengan sampah berserakan di mana-mana.

Belum lagi suasana yang sepi, tidak tertata dengan baik, menjamurnya oknum pe­da­gang nakal yang menjual da­gangan dengan harga di luar kewajaran, para pemalak yang mengatasnamakan uang par­kir, anak-anak peminta-minta yang selalu mengintil kemana kita berjalan, retribusi masuk dan berbagai prilaku kurang baik lainnya. Termasuk juga akses dan sarana prasarana pendukung lainnya.

Ironisnya, itu berjalan da­lam kurun waktu yang cukup lama, terus dipelihara dan diwariskan. Belakangan, be­berapa orang – termasuk pe­rantau yang pulang kampung – juga terus mengeluhkan hal serupa, entah itu cerita dari mulut ke mulut atau di sosial media. Dan selama itu pula, pe­merintah tiarap, tidak be­reaksi. Kalaupun ada aksi, sifatnya hanya temporary, mungkin untuk sekedar meng­­habiskan anggaran di akhir tahun atau bahkan sekedar pencitraan. Alhasil, objek wisata Batu Malin Kundang itu seperti kata pepatah, hidup segan matipun enggan.

Jika batu akik jenis bacan, solar, raflesia dan seterusnya dihargai jutaan hingga ratusan juta bahkan miliyaran rupiah, maka sejatinya kita juga bisa menjual Batu Malin Kundang lebih dari itu. Dengan segala keistimewaan dan legenda yang menyertainya, Batu Ma­lin Kundang bisa berharga miliyaran rupiah dalam wujud bernama PAD.

Tapi seperti halnya batu akik, tentu saja si Batu Malin Kundang ini harus diasah, digarinda (baca:dipoles) su­paya terlihat berkilau, cantik dan menarik minat wisatawan.  Jika tidak, tentu orang tidak akan pernah mau berkunjung atau melihatnya. Cukup se­kedar mendengar cerita atau dongengnya saja. Dan sela­manya, batu Malin Kundang   akan menjadi seonggok batu yang tak bermanfaat.

Sudah saatnya, pemerintah termasuk pemerintah kota tidak lagi menekankan pe­nerimaan PAD dari sektor pajak, yang terasa sangat mem­beratkan masyarakat.  Se­mentara objek wisata Batu Malin Kundang ini bisa dija­dikan penggerak eko­nomi krea­tif dengan segala as­pek ekonomi turunannya. Kita berharap, kali ini, Pemko Pa­dang memang serius untuk mem­­benahi objek wisata ter­sebut.

Memang harus diakui, men­­jual objek wisata Batu Ma­lin Kundang tidak semudah membalik telapak tangan. Mungkin sedikit lebih sulit dari menjual batu akik. Tapi bukan berarti tidak bisa. De­ngan sedikit polesan,  kema­uan, kerja keras dan sinergisitas semua pihak, maka Batu Malin Kundang juga bisa berkilau bak batu akik dalam berbagai kon­tes. Semoga!

 

MIRAWATI UNIANG
(Pemerhati Ekonomi Politik)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]