Pemda Mesti Kaji Kasus Bunuh Diri


Rabu, 01 April 2015 - 19:53:07 WIB
Pemda Mesti Kaji Kasus Bunuh Diri

“Nanti, begitu ada kesim­pulan(penyebab bunuh diri) pemerintah menyiapkan lang­kah antisipasi melalui tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat dengan mem­beri­kan penyuluhan dan penya­daran kepada  masyarakat  bahwa bunuh diri bukanlah cara yang tepat menyelesaikan masalah hidup akibat stres,” kata politisi PKS itu.

Baca Juga : Di Depan Doni Monardo, Gubernur Rekomendasikan Pinago sebagai Penahan Abrasi

Sosok penting di balik program bedah lapau itu  men­duga faktor dominan bunuh diri di Sumbar adalah faktor ekonomi. Pada saat ini, eko­nomi Indonesia memang se­dang tidak menentu. Barang-barang kebutuhan naik, mi­nyak naik, lapangan kerja sempit, biaya hidup besar dan lain sebagainya.

Selain itu, kata Refrizal faktor akidah seorang bunuh diri juga perlu dipertanyakan. Karena tidak mungkin orang yang beriman bunuh diri. Karena bunuh diri adalah dosa besar. Untuk itu, pihaknya meminta kepada masyarakat Sumbar agar membentengi diri dengan iman.

Baca Juga : Ini Besaran Zakat Fitrah dan Fidyah Tahun 2021 di Padang

“Saya melihat lebih pada ekonomi dan akidah, untuk itu, Pemda harus berupaya untuk mencegahnya, supaya jangan lagi  terulang lagi” harapnya

Tak jauh beda dengan Ref­rizal, senator Emma Yohanna juga berpendapat pemerintah

Baca Juga : Alhamdulillah, Perumda AM Padang Gratiskan Air Masjid dan Musala Selama Ramadan

perlu melakukan evaluasi di daerah. Sebagai kawasan ber­dasarkan adat basandi syara’ syara basandi kita­bullah, tidak mungkin bunuh diri menjadi marak dan dijadikan jalan terakhir untuk menyelesaikan masa­lah hidup.

“Kita harus cari akar per­masa­lahannya, apakah karena ekonomi, keamanan, pen­didi­kan, atau me­mang mental masyarakat yang meng­kha­watirkan, karena bersifat per­sonal” kata Emma di Gedung DPD, Jakarta (1/3).

Baca Juga : Hendri Septa Dengarkan Pandangan Fraksi DPRD Tentang LKPJ Wali Kota Padang Tahun 2020

Emma menambahkan, jumlah bunuh diri di Sumbar yang sudah mencapai sembilan orang selama tiga bulan terakhir, periode tahun 2015 ini, merupakan tanggung jawab bersama. Oleh karena itu,  tokoh-tokoh Sumbar perlu mencarikan solusinya dan pencegahan.

“Kita harus carikan solusi dan pencegahannya, supaya kejadian tidak terulang lagi”sebutnya.

Harapan Hidup Rendah

Sementara itu, Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar M Sayuti Da­tuak Rajo Panghulu melihat feno­mena bunuh diri yang saat ini terjadi di Sumbar sebagai rendahnya hara­pan hidup. Harapan hidup ini ada ketika kesejahteraan hidup, kea­dilan, dan hukum itu benar-benar berjalan.

Ketua LKAAM Sumbar, M Sa­yu­ti Datuak Rajo Panghulu kepada Haluan Rabu (1/4) kemarin menga­takan, kondisi ini yang tidak lagi didapat di masyarakat sehingga harapan untuk hidup itu semakin menipis. Jika hal ini tidak diatasi kata M Sayuti maka akan berbon­dong-bondong orang untuk bunuh diri.

“Untuk itu perlu peran niniak mamak yang berfungsi untuk men­jamin harapan hidup bagi sanak keluarganya, bagi kemenakannya ke depan,” ujarnya.

Ia melanjutkan, untuk kembali menebalkan harapan hidup itu perlu adanya penegakan hukum, keadilan, dan meningkatkan kesejaheraan hidup. “Jadi kita tidak akan men­dengar lagi yang namanya bunuh diri,” tegasnya.

Selain itu kata M Sayuti, keluarga sebagai pranata pertama yang ber­sentuhan langsung kepada anak juga diminta untuk meningkatkan kem­bali komunikasi dan menanamkan kembali nilai-nilai yang membuat anggota keluarganya merasakan harapan hidup yang tinggi.

“Ini bisa dilakukan dengan mem­berikan nasehat-nasehat seperti ketika mereka pergi sekolah dina­sehati supaya hati-hati ke sekolah, rajin belajar dan lainnya. Hal ini kecil namun dampaknya akan sangat terasa,” ujarnya.

M Sayuti menambahkan, diha­rapakan dengan lahirnya Daerah Istimewa Minangkabau (DIM) yang saat ini terus digemakan LKAAM akan dapat meminimalisir angka bunuh diri ini di Sumbar.

“Dengan konsep DIM yang akan mengembalikan Adat Basandi Sya­ra, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK) akan mengoptimalkan kem­bali peran niniak mamak di masya­rakat Minangkabau,” tegas M Sayuti.

M Sayuti berharap, peran niniak mamak yang ada di kabupaten/kota untuk kembali mengoptimalkan fungsinya dengan menjaga anak kemenakannya agar tidak mela­kukan tindakan yang diluar norma dan bertentangan dengan agama dan adat seperti bunuh diri ini. “Kita ingatkan lagi kepada niniak mamak agar selalu memberikan nasehat kepada anak kemenakannya,” tutup­nya. (h/mg-isr/lex)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]