Bersama-sama Membangun Sumbar


Jumat, 03 April 2015 - 19:58:51 WIB
Bersama-sama Membangun Sumbar

Mengapa pembangunan Sumbar mengalami perlambatan ketika daerah lain justru mengalami percepatan?  Ini tentunya tidak terlepas dari potensi sumber daya alam (SDA) yang dimiliki daerah-daerah tetangga. Sumut, Sumsel, Riau, Kepri dan Jambi adalah daerah yang memiliki SDA. Di daerah-daerah tersebut terdapat tambang minyak bumi, gas, batu bara dan tambang lainnya. Potensi SDA tersebut mendongkrak APBD masing-masing daerah dari alokasi dana bagi hasil minyak dan gas (DBH Migas). Begitu juga dari potensi sektor pertambangan mineral dan perkebunan lainnya. DBH Migas sangat membantu pemda dalam menggerakkan roda pembangunan.

Baca Juga : MA Batalkan SKB Tiga Menteri Soal Seragam Sekolah, KPI Kecewa

Sedangkan Sumbar nyaris miskin dari SDA, seperti minyak, gas bumi atau pun hasil tambang mineral berharga mahal dalam deposit banyak. Sumbar hanya punya satu perusahaan yang cukup besar yang beroperasi di daerah ini, yakni PT Semen Padang. Meski miskin SDA sektor pertambangan, tapi Ranah Minang memiliki kekayaan yang belum terkelola secara optimal, yaitu potensi keindahan alamnya. Sumbar yang wilayahnya bergunung-gunung dan berbukit-bukit memiliki banyak panorama yang indah, begitu pula dengan adat dan budayanya yang memiliki ciri khas tersendiri juga menjadi daya tarik bagi wisatawan. Sumbar juga disebut sebagai daerah kaya dengan aneka kuliner.

Sumbar juga sudah lama dikenal sebagai daerah penghasil sumber daya manusia (SDM) unggul. Hal itu sudah dimulai sejak pendirian dan masa proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Lebih dari 15 persen pendiri bangsa ini adalah orang Minangkabau. Sebut saja, Bung Hatta, Sutan Syahril, M Yamin, Agus Salim, Tan Malaka dan lainnya. Tapi ternyata kini potensi SDM dan juga potensi pariwisata serta keunikan adat budaya Minangkabau seakan tidak mampu menjadikan daerah ini lebih maju dan tidak tertinggal dari daerah-daerah tetangga.

Baca Juga : Berapa Jumlah THR untuk Anak? Simak Panduan dari Psikolog Karina Istifarisny

Apakah Sumbar bisa mengejar ketertinggalan itu? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita menyadari beberapa kecenderungan-kecenderungan kurenah urang awak yang pada akhirnya merugikan Ranah Minang. Di antaranya, urang awak cenderung bergerak sendiri-sendiri. Kepala daerah, anggota DPD, DPR, DPRD, para tokoh Sumbar yang jadi menteri, dirjen, pengusaha, pemuda, perguruan tinggi, ninik mamak, nyaris berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing berpikir, inyo nan paliang santiang. Konsep mulia, “Saciok bak ayam, Sadanciang samo bak basi. Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo menurun. Bulek air dek pambuluah, bulek kato dek mufakaik. Nilai-nilai itu hanya tinggal konsep belaka.

Urang awak justru lebih banyak yang suka mengeksplorasi pembengkokan nilai-nilai yang tergandung dalam pepatah Minangkabau, takuruang nak  di lua,  taimpik nak di ateh. Talunjuak luruih, kalingkiang bakaik, dalam maangguak-manggeleng, titian biaso lapuak, janji biaso mungkia. Muara dari eksplorasi nilai-nilai yang tidak didasari niat baik dan bukan untuk kepentingan orang banyak, menyebabkan lahirnya pimpinan-pimpinan yang tidak amanah, serakah dan gila jabatan.

Agar berbagai persoalan Sumbar bisa segera diidentifikasi dan dapat dicari jalan keluarnya, maka semua elemen di daerah ini dan rantau mesti duduk bersama. Himpun semua kekuatan untuk membawa Sumbar menjadi lebih baik dan maju. Tinggalkan sikap individualis dan ego sektoral yang berlebihan untuk Sumbar yang lebih baik. Pilihlah calon pemimpin Sumbar yang bisa merangkul berbagai pihak/elemen untuk Sumbar yang lebih baik dan lebih maju. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]