25 Mahasiswa Sumbar Terperangkap di Yaman


Selasa, 07 April 2015 - 19:47:09 WIB
25 Mahasiswa Sumbar Terperangkap di Yaman

“Kami  sangat berharap  segera dievakuasi  ke luar  dari  Yaman, pak,” ungkap Ilham Taufiq,  mahasiswa asal  kota Padang  yang dikontak Haluan, Selasa petang.

Baca Juga : Jelang Idul Fitri, Gema Sehat Juken BKKBN Sumbar Bagi-bagi Sembako untuk Kaum Dhuafa di Padang

Ilham  merupakan satu dari 25 mahasiswa asal ranah Minang  yang kini terperangkap  di Kota Aden, Yaman.

Menurut alumni MAN 2 Padang  yang sedang kuliah di    Perguruan Tinggi Al Baihani  Aden  ini,  kegiatan perkuliahan  di kampusnya  telah  dihentikan akibat kondisi Kota Aden yang  yang  semaki gawat. “Tolong sampaikan,  kami sangat  berharap dievakuasi agar  segera bisa keluar dari Yaman,”  pinta Ilham.

Baca Juga : H-6 Lebaran, Pantai Purus Padang Sepi Pengunjung

Sampai kemarin mereka masih bersembunyi di Asrama Mahasiswa di Aden.  Dalam kondisi yang makin  tidak kondusif  itu,   mahasiswa  asal  Sumbar yang  terperangkap di  Kota Aden,  masih belum dikunjungi pihak  KBRI di Aden. “Belum  ada  yang dapat  dihubungi, belum ada pihak KBRI yang datang ke sini,”  jelas  putra sembilan bersaudara yang keluarganya bermukim di Kompleks   Perumahan Filano Jaya 2,  Padang.

Detik-detik yang menegangkan di Aden  juga diceritakan   oleh  Asyam Hafizh, mahasiswa Perguruan Tinggi Al Baihani asal Kota Padang  kepada ayahnya, Edi Asman Karim.

Edi Asman Karim  mengutip keterangan  yang dikirim putranya  menyatakan,  situasi peperangan antara kelompok pemberontak Syiah Huthi dengan koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi di Republik Yaman, makin  mencekam. Baku tembak peluru, ledakan roket dan granat di wilayah Aden masih terus terdengar hampir setiap menit.

Melalui video Whatsapp yang dikirim Asyam Hafizh kepada orang­­tuanya, terlihat ledakan roket sangat dekat dengan tempat pe­ngungsian mereka. Menurut pe­ngakuan mahasiswa Jurusan Dirasah Islamiah ini, ledakan loket hanya berjarak 100 meter dari lokasi persembuyian mereka.

Kepada orangtuanya, Asyam Ha­fizh juga mengatakan ingin lari dari lokasi persembunyian, karena takut akan ledakan bom lain. Namun ia menyarankan pada anaknya supa­ya tetap di lokasi persembuyian un­tuk me­lin­dungi kawan-kawan yang lainnya.

Menurut pengakuan Asyam Ha­fizh kepadanya, rombongan dari Sumbar juga pernah ingin melarikan diri menuju kompleks pers­em­buyian, namun jarak antara persem­bunyian dengan lokasi pengungsian mencapai enam kilometer. Tak hanya itu, jalan menuju lokasi pengungsian pun harus melalui jalur peperangan.

“Namun jika mereka masih berada di lokasi pengungsian, mere­ka sangat kesulitan untuk men­dapatkan air bersih, dan pasokan listrik. Hanya persediaan makanan saja yang ada karena warga yang tempat ia mengungsi sekarang sa­ngat baik memperlakukan anak saya dan temannya yang lainnya,” jelas­nya, Selasa (8/4) saat ditemui war­tawan ketika menjemput anak bung­sunya di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Gunung Pangilun.

Dikatakan juga, dengan kondisi yang terjadi pada anaknya itu, mem­buat dirinya sangat khawatir terha­dap keselamatan anak keduanya tersebut dan mahasiswa lainnya. Ia berharap Pemprov Sumbar segera mengambil langkah untuk mela­kukan penyelamatan terhadap ma­hasiswa Sumbar. “Saya bersama istri saya sangat cemas. Hampir setiap hari saya selalu termenung me­mikirkan kondisi anak saya. Namun saya tetap mencoba untuk tegar, jika dibawakan ke suasana cemas, maka bisa saja penyakit saya kambuh nantinya,” ujar warga Peru­maham Lubuk Gading I Blok II 15 Lubuk Buaya ini.

Kepala Biro Pembangunan dan Kerjasama Rantau Setdaprov Sumbar A Yani mengatakan, pihaknya terus melakukan upaya untuk meng­hubungi Kementerian Luar Negeri Indonesia untuk koordinasi.

”KBRI di Yaman juga kami hubungi, tapi tak menjawab. Kami akan terus menghubungi Kemenlu, agar proses evakuasi dilakukan dalam waktu secepat mungkin. Ini juga menyangkut keselamatan maha­siswa Sumbar yang ada di Yaman,” ujarnya.

A Yani juga telah melakukan kontak dengan salah seorang maha­siswa Minang di Yaman. Berdasarkan informasinya, maha­siswa dari Sumbar 25 orang, 4 orang berasal dari Padang, kemudian lainnya ber­asal dari Agam, Solok dan lainnya.

“Kami telah mengontak ma­hasiswa yang ada di Yaman, nama­nya Abrurrahman. Ia manga­takan, situasi saat ini sudah mulai aman, namun pemerintah Indonesia masih belum bisa melakukan evakuasi karena pelabuhan tempat kapal Indonesia bersandar sedang di serang para pemberontak,” ulasnya.

Kabid Ker­jasama Rantau, Fahyu Yeretti me­ngatakan, telah ada 8 keluarga yang mengkonfirmasi kepada pihak­nya yang minta  evakuasi bisa dilakukan secepatnya.

Wakil Ketua DPRD Sumbar Arkadius mengatakan, pihaknya akan mela­kukan koordinasi dengan Pemprov Sumbar.

Gubenur Sumbar, Irwan Prayit­no menga­takan, Pemprov terus melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat terkait keberadaan mahasiswa asal Sumbar di Yaman. (h/mg-rin/isr/dn)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]