2 Mayat Ditemukan di Bukittinggi


Selasa, 07 April 2015 - 19:48:47 WIB
2 Mayat Ditemukan di Bukittinggi

Ketika ditemukan, mulut mayat itu mengeluarkan busa. Kuat dugaan, korban tewas setelah meneguk minuman keras, karena dari mulut kor­ban tercium bau alkohol. Se­mentara dilihat dari kondisi fisiknya secara umum, polisi tidak menemukan tanda-tanda lu­ka-luka akibat penga­niayaan.

Awalnya, mayat ini perta­ma kali dilihat oleh seorang pemuda bernama Rudi yang kemudian melaporkannya ke rumah warga sekitar yang terle­tak di dekat lokasi kejadian. Temuan itu kemudian dila­por­kan ke RT 04/RW 02 Kubu Gulai Bancah, sebelum akhir­nya dilaporkan ke kepo­lisian.

Baca Juga : Pemkab Pesisir Selatan Usulkan 1.000 Unit Bedah Rumah untuk Masyarakat Miskin

Awalnya, petugas ke­po­lisian kesulitan melacak iden­titas jenazah itu, karena tidak ditemukan satupun tanda pe­ngenal yang dibawa korban, baik berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM) maupun tanda pengenal lainnya.

Namun siangnya, identitas kor­ban akhirnya diketahui, setelah salah seorang warga mengaku jena­zah itu adalah bagian dari anggota keluarganya. Korban itu ternyata bernama Joni (16) asal Kabupaten Pasaman  yang tinggal di kawasan Belakang Puskesmas Aur Kuning, atau tak jauh dari Kantor Dinas Kesehatan Kota (DKK) Bukittinggi.

“Jenazah korban sudah dibawa pihak keluarga ke Pasaman Timur. Kami tidak melakukan visum, kare­na pihak keluarga tidak mau jasad korban divisum,” ujar Kasat Res­­krim Polres Bukittinggi, AKP Albert Zai.

Sementara itu, sorenya sekitar pukul 17.00 WIB,  giliran warga Jalan By Pass Aur Kuning, tepatnya di ujung fly over di sebelah Kampus Universitas Muhammmadiyah Su­mat­era Barat (UMSB) yang diheb­ohkan dengan penemuan sesosok mayat tergantung di dalam kamar sebuah rumah semi permanen.

Korban gantung diri itu terdetek­si bernama Riki Nisi Jaya (24), yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan. Penemuan mayat Riki pertama kali diketahui oleh ibu korban bernama Otilalase.

Otilalase mengaku, dirinya baru melihat anaknya tewas gantung diri di saat dirinya baru saja pulang kerja mencari sampah-sampah bekas. Memang, sehari-harinya Otilalase bekerja sebagai pemulung. Otilalase menjelaskan, sebelum tewas gantung diri, anaknya sering mengeluhkan sakit kepala sejak setahun terakhir. Ia mengakui, sejak dua tahun silam anaknya memang sering mengidap stres, bahkan pernah berobat ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ).

Otitalase tidak habis pikir kena­pa anaknya mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Namun Ia menduga, anaknya gantung diri, karena tidak sanggup menahan derita akibat pe­nyakit yang diidap­nya itu. (h/wan)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]