Dosen Bunuh Istri, Dihajar Kakak Korban


Selasa, 07 April 2015 - 19:52:21 WIB
Dosen Bunuh Istri, Dihajar Kakak Korban

Berdasarkan pantauan Ha­luan, Ilmul Khaer yang meru­pakan dosen Ilmu Hu­kum Internasional (HI) Unand sampai di Padang sekitar pu­kul 16.00 WIB, satu setengah jam setelah jasad istrinya yang terlebih dahulu sampai di Rumah Sakit Bhayangkara dengan menggunakan am­bulans milik RSUD Saro­langun, Jambi.

Karena masih dalam kon­disi sakit setelah meneguk racun serangga dan juga ben­sin, setelah diturunkan dari ambulans, tersangka terpaksa dibawa dengan menggunakan tandu dorong  menuju Rua­ngan Kesehatan Tahanan Ru­mah sakit Bhayangkara.

Baca Juga : Hadiri Wisuda TK dan SMP Adz-Zikra, Wako Padang Hendri Septa Beri 'Reward'

Saat itu, puluhan orang juga berkerumun di dekat mobil am­bulans untuk menyaksikan ter­sangka.  Dalam kondisi terbaring, tersangka mengangkat tangannya dan memberi sebuah isyarat yang tidak seorang pun bisa me­ma­ha­minya.

Meski dikawal ketat oleh petugas dari Polresta Padang namun seorang laki-laki yang merupakan kakak korban berhasil menghadiahi ter­sangka dengan bogem mentah. “Ka­mu bunuh adikku..,” teriaknya sambil melayangkan tinjunya hingga mengenai wajah tersangka.

Beruntung petugas cepat menga­mankan kakak korban dan men­jauhkannya dari tersangka sehingga tersangka bisa digiring masuk ke dalam ruangan kesehatan tahanan rumah sakit milik Polda tersebut untuk mendapatkan perawatan seca­ra intensif.

Jasad korban Dewi datang lebih awal sekitar pukul 14.00 WIB dengan mobil ambulans milik RSUD Sarolangun dan disambut dengan isak tangis oleh pihak keluarga. Puluhan keluarga dan teman-teman Dewi datang ke rumah sakit untuk melihat jasad Dewi.

Setelah divisum dok­ter RS Bhayangkara, jasad korban dibawa ke rumah duka di Jalan Kupang, Siteba, Kota Padang untuk disemayamkan.

Namun hasil visum belum bisa diketahui. Pihak rumah sakit  belum bisa dimintai keterangan.

Kapolresta Padang, Kombes Pol Wisnu Andayana, melalui Kasat Reskrim Polresta Padang, Kompol Franky M. Monathen, meminta,  awak media bersabar sampai benar-benar didapatkan data yang lebih lengkap dan bisa diper­tang­gunjawabkan. “Nanti kalau datanya sudah lengkap saya akan bagi,” ujarnya kepada puluhan awak media yang mengepungnya.

Frangky menjelaskan bah­wa pemeriksaan akan dilakukan setelah tersangka benar-benar pulih dan bisa memberi kete­rangan. “Kon­disinya masih lemah karena kera­cunan setelah meneng­gak racun serangga. Kita tunggu izin dari dokter dulu, baru tersangka  dipe­riksa,” pungkasnya.

Frangky mengatakan bahwa empat saksi telah dipe­riksa di anta­ranya ada dari pihak keluarga kor­ban. “Nanti masih ada lagi saksi-saksi yang akan kita periksa,” ucapnya.

Untuk keamanan tersangka, petugas kepolisian juga menjaga ketat tersangka di ruang kesehatan tahanan.

Pasangan suami istri ini ditemu­kan di salah satu SPBU di Saro­langun, Jambi. Sang istri ditemu­kan sudah tidak bernyawa di dalam mobil Katana yang terparkir di SPBU tersebut. Si suami ditemukan di depan toilet SPBU dalam kondisi lemah karena diduga meminum racun serangga, karena panik karena telah membunuh istrinya.

Penemuan ini bermula dari kecurigaan pihak SPBU Simpang Pelawan yang awalnya melihat mo­bil Katana dengan Nopol BA 1320 AT mondar-mandir di area SPBU sebelum akhirnya diparkir. Karena merasa curiga, pihak SPBU mem­buka paksa mobil tersebut dan menemukan sesosok tubuh wanita yang sudah tewas berlumuran darah. Tidak beberapa lama kemudian, petugas Polres Sarolangun datang ke lokasi setelah mendapatkan infor­masi dari warga, juga menemukan seorang pria yang diketahui suami sekaligus tersangka dalam keadaan lemah di depan toilet SPBU.

Dugaan sementara, kasus pem­bunuhan ini dipicu masalah cem­buru. Tapi, hingga sekarang ini pihak kepolisian belum bisa mema­s­tikan hal tersebut.

Ilmul Khaer merupakan alumni Fakultas Hukum Unand angkatan 1991. Ia kemudian melanjutkan studi S2 di Universitas Diponegoro, Semarang, lalu melanjutkan studi S3 di Uni­versitas Padjajaran, Bandung.

Wakil Dekan II Fakultas Hukum Unand, Busyra Azheri mengatakan, Ilmul menjadi dosen Jurusan Hu­kum Internasional Unand sejak tahun 2002. Ia meraih gelar doktor pada Oktober 2014. Pada November 2014, ia aktif lagi sebagai dosen di Fakultas Hukum.

Busyra terakhir kali bertemu Ilmul pada Sabtu (4/4) di Fakultas Hukum. Hari itu, Ilmul tidak me­ngajar, melainkan menyelesaikan persoalan administrasi program pascasarjana Magister Ilmu Hukum. Ilmul sendiri merupakan sekretaris di program tersebut.

Beberapa hari kemudian, saat mendengar kabar tentang perbuatan Ilmul, Busyra kaget, karena ia tidak melihat ada yang aneh dengan peri­laku Ilmul Sabtu itu.

“Sabtu itu dia enjoy-enjoy saja di kampus. Perilakunya normal, seperti orang biasa, seperti dosen-dosen kebanyakan,” ujarnya.

Tak hanya Busyra, Najmi, teman akrab Ilmul yang juga dosen di Fakultas Hukum Unand, juga tidak percaya dengan apa yang dilakukan Ilmul. Najmi mengenal Ilmul seba­gai pribadi yang baik.

Menunggu Putusan Pengadilan

Rektor Unand, Werry Darta Taifur menyatakan prihatin atas perbuatan Ilmul. Ia menegaskan, akar per­soalan akibat perbuatan Ilmul, bukan dari kampus.

Werry tidak mau menyampaikan apa pun bentuk sanksi yang akan diberikan, sebelum kasus itu diputuskan pe­ngadilan.

“Kami menganut azas praduga tak bersalah. Jadi, kami menunggu putusan pengadilan,” tuturnya.

Werry menyampaikan, jika benar dugaan perbuatan, maka Ilmul melakukan pe­lang­garan etika akademik. Tapi pihaknya belum bisa mengambil keputusan. Jika benar Ilmul melakukan pelanggaran kri­minal dan seandainya hukumannya di atas empat tahun penjara, secara otomatis Ilmul dikeluarkan dari Unand, sesuai aturan yang berlaku.

Kediaman Orangtua Ilmul Sepi

Di tempat kejadian perkara, yakni di rumah orangtua Ilmul di Jalan Koto Marapak Nomor 07, Kelurahan Olo, Kecamatan Padang Barat, suasana terlihat sepi. Pan­tauan Haluan Selasa (7/4) siang, tidak ada yang keluar atau masuk ke rumah dua tingkat di depan kantor PT Kebayoran Pharma itu. Setelah beberapa lama mengamati, tampak seorang remaja putri berjilbab mengenakan seragam SMA me­masuki rumah yang pagarnya diberi garis polisi itu. Sempat terlihat seseorang dari dalam rumah cepat-cepat menyuruh remaja itu masuk, sebelum pintu ditutup.

Menurut warga sekitar yang enggan menyebutkan namanya, pada Senin (6/4) malam, rumah itu ramai didatangi orang, baik polisi, warta­wan, dan masyarakat sekitar.

Rumah itu, kata warga, meru­pakan milik kedua orangtua Ilmul yang sudah lama meninggal. Rumah itu seperti rumah yang lama ditinggal pemiliknya. Jika disebut tak dihuni, sesekali ada yang menempati rumah itu, yakni Ilmul atau kakak Ilmul yang belakangan menempati rumah itu. Namun, rumah itu tetap seperti tak terurus.

Warga tersebut mengungkapkan, kehidupan antartetangga di sekitar kawasan itu cuek. Sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“Ilmul tinggal di sini sejak kecil. Waktu bujang, dia sering ke masjid dekat sini. Dia juga mengajar me­ngaji anak-anak di masjid itu. Po­koknya, waktu bujang dia sering bersosialisasi dengan masyarakat sini. Tapi, sejak menikah, dia jarang kelihatan atau berkomunikasi de­ngan masyarakat sekitar. Mungkin dia sibuk karena dia dosen dan istrinya karyawan bank,” tuturnya.

Ia pun menyatakan, warga sekitar tak terlalu kaget mendengar dugaan pembunuhan yang dilakukan oleh Ilmul, sebab selama ini Ilmul jarang bergaul.

Diselimuti Duka

Duka mendalam memenuhi rumah orangtua Dewi di Jalan Ku­pang, Wisma Indah IV, Siteba. Para pelayat yang merupakan keluarga, masyarakat sekitar, rekan kerja, dan kolega Dewi menunggu jenazah Dewi sejak siang.

Sekitar pukul 16.45, jena­zah tiba di rumah duka, diantar oleh ambulans RS Bha­yangk­a­ra dan disambut oleh isak tangis para pelayat. Korban ke­mudian disa­latkan di Masjid Al Muttaqin persis di depan rumah duka. Kata pihak keluarga, Dewi akan dibawa ke Duku, Kabupaten Padang Pariaman, untuk kemudian dima­kamkan.

Seorang tetangga Dewi  mengatakan, Dewi seorang yang ramah, penyapa dan baik terhadap warga sekitar. Warga tak menyangka hidup Dewi akan berakhir demikian, karena baik Dewi dan keluarganya, maupun suaminya, merupakan orang berpendidikan.

“Apalah benar masalah yang terjadi antara Dewi dan suaminya sehingga sampai dibunuh,” kata warga tersebut bercerita dengan warga lainnya.

Informasi yang dihimpun Ha­luan, Dewi merupakan anak Asril Aziz, pensiunan pegawai BRI Pa­dang dan Nilawati, karyawan salah peru­sahaan asuransi Bumi Putra di Padang. Dewi  satu-satunya anak pe­rem­puan dari 4 bersaudara.

Dari pernikahannya dengan Ilmul, Dewi memiliki dua anak, yakni perempuan kelas 1 SD dan laki-laki berusia 4 tahun.

Rika Permata Sari, adik sepupu Dewi, menulis status di akun facebooknya. Ia membantah kabar yang beredar di balik kematian kakaknya. “Banyak berita yang gak benar beredar. Kakak saya itu pulang malam karena lembur di kantornya. Pelaku menjemput kakak saya juga setelah lembur di kantornya, yang seterusnya diajak ke rumah pelaku kemudian ditusuk, karena jam 20.00 masih ada kontak antara kakak saya dan mamanya, sampai jam 22.00 tidak bisa dikontak lagi. Jam 24.00 WIB, keluarga kakak saya mencari ke kantor tempat dia bekerja. Na­mun satpam setempat mengatakan kakak saya sudah dijemput suami­nya. Anak-anak mereka sudah ting­gal di rumah orangtua istrinya (kakak saya) cukup lama. Jadi tidak ada penitipan anak dengan nenek seperti yang diberitakan. Beritanya simpang siur sekali. Ya Allah, jauh­kanlah almarhumah dari fitnah dunia ini,” tulisnya. (h/dib/mg-fds/mg-win)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]