Konflik Internal Muhammadiyah: Dinamika Politik di Nagari Matahari (1981-2015) – Bagian 1


Rabu, 15 April 2015 - 19:14:10 WIB
Konflik Internal Muhammadiyah: Dinamika Politik di Nagari Matahari  (1981-2015) – Bagian 1

Secara umum konflik bera­sal dari sumbu perbedaan ciri-ciri yang hadir dan dibawa individu dalam suatu inter-aksi dengan pihak sesama atau pihak lain.

Baca Juga : Cegah Warga Nekat Mudik, Polri Gelar Operasi Sebelum 6 Mei

Perbedaan identitas,  ciri fisik, kecerdasan, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, pa­ham, ideologi, politik  atau kepentigan lain.

Oleh karena merupakan ba­waan  ciri-ciri perorangan, kelompok atau komuitas di  dalam interaksi-sosial, maka konflik menjadi situasi yang wajar dalam setiap masyarakat.  Hampir  tidak ada satupun  masyarakat  yang bebas dari konflik.  Hanya, apakah kon­flik itu laten (potensial) atau manifes, nyata dan aktual .

Baca Juga : Inilah Jam Kerja ASN pada Bulan Ramadan 1442 Hijriah

Sebagai bagian dari ke­pedulian yang serius kepada Muhammadiyah, tulisan beri­kut  ingin mengemukakan bagaimana contoh konflik internal di dalam persyarikatan ini yang telah memberikan dinamika yang luar biasa bagi Muhammadiyah.

Konflik sering terjadi pada tingkat ranting,  cabang, da­erah,  pada organisasi otonom (Ortom), lembaga amal-usaha  dan mungkin juga tingkat wi­layah bahkan mungkin tingkat pusat.  Semua itu, seakan sudah menjadi pakaian harian bagi  persyarikatan ini.  Ada kalanya cepat terselesaikan, tak kurang pula yang berkepanjangan. Atau bahkan tidak perlu di­selesaikan, karena konflik akan memperkuat daya juang dan dinamika serta pro­gre­sifitas persyariakatan pada setiap kurun kepemimpinan.

Baca Juga : Gawat! Ada 22.000 Senjata Api Dimiliki Warga Sipil di Daerah Ini

Pada kalanya membuat Mu­­hammadiyah menjadi ber­semangat,  bersinar dan ber­syiar, tetapi tak kurang pula membuatnya meredup. Masih banyak con­­­toh Kon­flik la­in­nya.  Akan tetapi contoh be­rikut hanya sa­lah konflik  yang ter­jadi di pe­ringkat paling ba­wah di Or­ga­ni­sasi Masyarikat Islam (Ormas) yang sering disebut terbesar di Indonesia dari segi amal usaha dan dak­wahnya dalam semua bidang ke­hi­dupan social, pendidikan, ekonomi, budaya, dakwah dan keagamaan.

Tulisan ini berdasarkan kasus yang  benar-benar terjadi dan  bersumber dari tokoh yang ma­sih hidup dan ter­percaya. Akan tetapi semua tempat, nama dan lembaga serta sebutan disamarkan, kecuali nama Muham­ma­di­yah, nama kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Hal itu sesuai dengan permintaan nara sum­ber untuk tidak me­nim­bulkan ketidak nyamanan atau bahkan menimbulkan konflik baru, karena ada di antara mereka dan para pihak  yang masih hidup dan konflik itu, bahkan masih berlangsung sampai sekarang.

Baca Juga : Launching Polri TV dan Radio, Jenderal Listyo Sigit: Untuk Mengedukasi Masyarakat

Ular dan Tikus

Pada pergantian Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM)  di Desa Camin Jaya, Ke­­nagarian Matahari, Keca­matan Pinggir Danau,  Kabu­paten Solok, Sumatera Barat, dalam Musyawarah Ranting (Musyrat) 1981, terjadi peng­gusuran pengurus Lama.  Se­bagian besar PRM se­belumnya tidak ter­pilih lagi.

Akibatnya be­be­rapa rencana pem­bangunan oleh PRM lama mengalami kendala. Di anta­ranya mereka  su­­dah men­canangkan dan me­mulai pen­dirian Masjid Taqwa Mu­ham­madiyah Camin Jaya. Awalnya adalah musala Muham­ma­diyah. Lalu  di­tingkatkan men­jadi Masjid. Pada pada masa pengurus lama sudah dimulai salat Jumat di musala tadi pada lantai dasar dan di atasnya sudah ada se­kolah Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (MTsM ).

Pada suatu kali di tahun 1981 itu.  terjadi  kericuhan   yang datang dari pihak eks­ternal. Salat Jumat di bubarkan oleh beberapa petugas ke­amanan dan ketertiban ne­gara yang datang dalam satu mobil  dari  ibukota kecamatan Ping­gir Danau. Mereka mem­bu­barkan salat Jumat itu. Puncak bisul konflik di antaranya  adalah ucapan khatib  salat Jumat, muballigh dari Padang. Kata khatib, pemerintah itu ibarat  ular, dan rakyat ibarat tikus. Makanan ular adalah tikus.

Ini dianggap menyentil pemerintah Orde Baru.  Ma­kanya Jumat berikutnya yang berwajib membubarkan salat Jumat yang sedang berlangsung ketika khatib khutbah.  Ala­sannya    Masjid itu belum ada izin dan khutbah-khutbah serta ceramah dan dakwah di Musala ini melawan pemerintah. Ma­ka sejak itu, berhenti shalat Jumat beberapa kali Jumat. Sesudah itu di­mulai lagi di tem­pat yang sama be­berapa kali dan tak lama ke­mu­dian  diadakan Musya­warah  Ran­ting Muham­ma­diyah (Musyrat) dan ber­gan­tilah pengurus Pimpinan Ran­ting Muhammadiyah (PRM), seperti disebut di awal tulisan ini.

Pengurus baru mendapat tanah wakaf di lokasi Masjid yang sekarang namanya Taqwa, maka pindahlah  dari musala Taqwa ke Masjid Taqwa Mu­hammadiyah yang jaraknya sekitar 1000 meter pada desa yang berbeda tetapi dalam satu nagari. Maka konflik  datang lagi dari ekesternal lainnya, yaitu pengurus Masjid Raya  Nagari Matahari, yang sudah jauh lebh lama berdiri berada di  Nagari Camin Jaya.  Ala­san­nya dalam satu nagari tidak boleh dua Masjid.

Sementara alasan para pen­­diri Masjid Taqwa me­ngatakan bahwa Masjid baru ini sudah berada di desa yang berbeda. Masjid Raya di Desa Balai Bernyanyi, Masjid Taq­wa di Desa Semenanjung. Walaupun kedua masjid ber­ada di dalam satu Nagari Mata­hari.

Masjid Taqwa dan Partai Politik

Kembali ke soal pendirian  masjid baru, alasan lain, pen­duduk Nagari Matahari sudah cukup banyak dan terasa Mas­jid Raya yang waktu itu belum direhab terasa sempit dan penuh serta melimpah jama­ahnya keluar Masjid terutama Jumatan. Pada tahun 1981 tadi, ada inisiatif oleh  seorang warga nagari bernama Um­buik Mudo yang menjadi pe­jabat rendah di suatu instansi tingkat provinsi atau Kakanwil Urusan Rohani (UR).

Inisiator ini melihat Mas­jid Raya yang sudah sempit perlu direhab atau diperluas. Inisiator ini mengusahakan   bantuan bagi Masjid Raya dan berhasil Rp2 juta (tahun 1981) dari instansi tempatnya be­kerja. Bantuan itu diterima oleh pengurus Masjid Raya itu, meskipun mereka tidak meng­usulkan. Penerimanya adalah  mantan Qadhi Nagari nama­nya Lurus Amanah.

Sebelum Pemilu tahun 1982, oleh Umbuik Mudo, anak nagari yang tadi,  meng­usahakan lagi bantuan untuk Masjid Taqwa Muhammadiyah yang sudah  mulai berdiri  tetapi belum selesai di Semenanjung Dusun tadi.  Ketika bantuan akan dicairkan,  hebohlah Wali Nagari Matahari dan pengurus Masjid Raya. Mengapa bisa keluar bantuan itu, karena di Masjid Taqwa Muhammadiyah itu adalah sarang  Partai Kubus Hitam (PKH).

Secara internal Muham­madiyah,  konflik muncul  pula ke permukaan. Di antara war­ga Muhammadiyah Ranting  Desa Camin Jaya, ada 3  orang  pe­ngurus yang tergusur. Me­reka menghadap Bupati yang waktu itu adalah Putra Danau Jaya, di seberang nagari Ma­tahari. Mereka menuntut Bu­pati  supaya bantuan itu dipin­dahkan dari  Desa Camin Jaya. Alasannya Masjid itu sarang  Partai Kubus Hitam  dan kalau dibantu juga, maka Partai  Pohon Rimbun (PPR)   tidak akan pernah Menang.  Mereka seakan kompak dengan Wali Nagari dan Pengurus Masjid Raya Matahari.

Bupati menerima tun­tutan itu. Bupati datang lang­sung menemui Kepala Ins­tansi Ti­ng­kat Provinsi  Ka­kanwil UR, dari mana sum­ber bantuan,  untuk me­nyampaikan hal itu supaya bantuan tadi  dipin­dahkan. Setelah Bupati pergi maka Umbuik Mudo, anak nagari yang bekerja di Kakan­wil UR  itu serta mengusulkan bantuan tadi dipanggil kepala instansinya bahwa Bupati So­lok minta dipindahkan ban­tuan itu karena ada pengaduan dari kaum ulama Desa Camin Jaya, yang menuduh masjid baru itu sarang PKH.

Serta merta kepala instansi meminta supaya "waang" (pa­ng­gilan akrab untuk si pe­ngusul),  menjadi "maklum". Karena sekarang yang ber­kuasa  adalah Partai PPR.  Dan Bupati adalah Penasihat Partai PPR. Karena Partai PPR yang  meminta dipindahkan bantuan itu. maka dipanggillah Pimpro Ahmad, Kabid Spiritual se­hingga bantuan itu di­pin­dahkan ke Masjid Muttaqin,  kawasan lain   di ibu­kota Provinsi, dekat rumahnya. (Bersambung)

 

SHOFWAN KARIM

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]