KAA Dukung Kemerdekaan Palestina


Ahad, 19 April 2015 - 18:32:50 WIB
KAA Dukung Kemerdekaan Palestina

Jubir Kemenlu menegaskan, tidak ada tambahan isu dalam soal kemerdekaan Palestina, kecuali perubahan dua kalimat. “Semua setuju (kemerdekaan) Palestina, tidak ada yang keberatan, karena dukungan itu sesungguhnya sudah ada sejak lama,” ujarnya.

Baca Juga : Partai Golkar Satu Suara Usung Airlangga Hartarto Jadi Capres

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi men­jelaskan, peringatan 60 Tahun KAA digelar di Jakarta dan Bandung pada 19-24 April. Pada 19 April diadakan pertemuan pejabat tingkat tinggi (Senior Official Meeting) kawasan Asia-Afrika, lalu dilanjutkan dengan Pertemuan Tingkat Menteri pada 20 April. Pada 21-22 April, diseleng­garakan Pertemuan Puncak Bisnis Kawasan Asia-Afrika (Asia-Africa Business Summit). Selanjutnya pada 22 April digelar pelaksanaan KTT hari pertama dan dilanjutkan pada 23 April dengan KTT hari kedua, dan jamuan makan malam oleh Presiden RI Joko Widodo untuk para kepala negara. Pada 24 April, hari terakhir rangkaian pelaksanaan KAA, akan ada napak tilas (His­torical Walk) KAA oleh para kepala negara di Bandung.

Saat ini pada KAA 2015, tambah Arrmanatha, negara-negara Asia-Afrika kembali menekankan duku­ngan kemerdekaan Palestina. Na­mun aspek penting yang justru lebih nyata dibahas adalah komitmen Asia-Afrika untuk membantu Pales­tina dalam mempersiapkan diri saat sudah merdeka. “Mereka butuh sesuatu agar mampu menjalankan pemerintahan. Bantuan itu yang perlu diberikan,” tegas dia.

Baca Juga : Perkuat Infrastruktur Digitalisasi Partai, Anis Matta Resmikan Gelora Media Centre

Pembahasan Bandung Message dan deklarasi kemitraan strategis Asia-Afrika memakan waktu sedikit lebih lama karena ada beberapa usul baru. “Bandung Message ada dua paragraf yang harus dibahas kem­bali, sedangkan Re-invigorating New Asia Africa Strategic Part­nership tiga paragraf,” ujarnya.

Pembahasan lebih lanjut soal penajaman pada butir-butir kese­pakatan terkait isu pariwisata dan kalimat baru dekolonisasi.

Kerja Sama Selatan-Selatan

Di tempat yang sama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasio­nal Andrinof Chaniago menje­las­kan, rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2015-2019 akan diarahkan untuk mem­perkuat kerja sama pembangunan negara-negara yang masuk dalam Kerja Sama Selatan-Selatan. “Ko­mit­men kami dalam RPJMN 2015-2019, Bappenas akan memastikan rencana dan alokasi program untuk memperkuat kerja sama pem­bangu­nan dengan negara-negara Selatan,” kata Andrinof Chaniago.

Pernyataan tersebut ia sam­paikan dalam pidato pembukaan Pameran Kerja Sama Selatan-Sela­tan dan Triangular (KSST) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Indonesia sebagai bagian dari rang­kaian acara Pertemuan dan Pe­ringatan KAA ke-60.

Tema yang diangkat dalam Pe­ringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 adalah “Memajukan Kerja Sama Selatan-Selatan”.

Menurut Andrinof, Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular dapat digunakan sebagai modalitas untuk menghasilkan manfaat yang nyata dan menguntungkan bagi negara-negara Selatan. “Kerja sama ini dapat meningkatkan solidaritas di antara negara Selatan. Kita semua teman dan sahabat,” ujar dia.

Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi menyampaikan bahwa Indonesia sangat berkomitmen untuk memperkuat Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular.

Hal itu terbukti dengan diben­tuknya Badan Koordinasi Nasional untuk Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular oleh Pemerintah Indonesia pada 2010. Selain itu, Pemerintah Indonesia telah melak­sanakan 400 program pelatihan dengan melibatkan 4.400 peserta dari 99 negara, baik dari Asia, Pasifik, Afrika, dan Amerika Latin.

Menlu menekankan bahwa In­donesia sangat siap untuk tumbuh bersama dengan negara-negara Asia dan Afrika. “Bertumbuh bersama adalah suatu keharusan. Mari kita melalui Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular bertindak untuk bertumbuh bersama dan mem­bangun bersama,” ujar Retno.

KAA 2015 direspon antusias sejumlah Kepala Negara. Lima pemimpin negara berencana mem­bawa jet pribadi untuk meng­ha­dirinya. “Sampai sekarang ada lima negara yang akan membawa private jet, yaitu Cina, Jepang, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Myan­mar,” kata penanggung jawab acara, Luhut Binsar Panjaitan di Jakarta Convention Center, Minggu.

Banyak negara yang telah me­ngon­firmasikan hadir pada acara ini dengan menggunakan pesawat kene­garaannya sendiri, namun ka­rena keterbatasan lahan parkir terutama di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, pemerintah membatasi penggunaan jet pribadi. Peringatan KAA ke-60 akan digelar di Bandung pada Jumat,tanggal 24 April.

Presiden Joko Widodo sendiri, kata Luhut, akan menggunakan mobil menuju Bandung. “Semua pemimpin negara nanti ke Bandung naik pesawat terbang kecuali dari Presiden Jokowi, dari Cina dan Brunei Darussalam. Tetapi bisa jadi ada perubahan-perubahan,” jelas Luhut.

Berdasarkan keterangan Kemen­terian Luar Negeri, kepala negara atau kepala pemerintahan yang telah memastikan hadir antara lain adalah Brunei Darussalam, Yordania, Swa­ziland, Tiongkok, Korea Utara, Iran, Madagaskar, Malawi, Myanmar, Namibia, Sudan, Timor Leste, Viet­nam, Zimbabwe, Bangladesh, Kam­boja, Mesir, Gabon, Malaysia, Ne­pal, Pakistan, Palestina, Singa­pura, dan Thailand.

Enam wakil kepala negara atau wakil kepala pemerintahan dari Aljazair, Angola, Liberia, Filipina, Seychelles, dan Zambia juga akan menghadiri acara ini.

Dalam Pertemuan KAA juga akan hadir perwakilan enam orga­nisasi internasional, yaitu Bank Pembangunan Asia (ADB), Uni Afrika, ASEAN, PBB, Liga Arab, dan South Center. (h/dn/ant)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]