Rohana Kudus dan Gerakan Perempuan


Senin, 20 April 2015 - 19:40:31 WIB
Rohana Kudus dan Gerakan Perempuan

Rohana Kudus, kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang per­tama dan juga Mak Tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar, ia pun adalah sepupu H. Agus Salim. Rohana Ku­dus, memang berada pada ling­kungan keluarga yang men­jadi orang besar dengan cara­nya sendiri. Meskipun, ia ada hu­bungan dengan Soetan Sjah­rir, Chairil Anwar dan Agus Sa­lim—peran Rohana Kudus dalam menunjukan keman­dirian sudah terlihat sejak kecil.

Baca Juga : Kolaborasi dengan HR Academy dan Kemenkop UKM, YES Preneur Gelora Resmikan Program 'GEBER UMKM' 

Perempuan yang lahir di Koto Gadang, Kabupaten Ag­am, Sumatera Barat, 20 De­sem­ber 1884. Sejak kecil sudah menunjukan perannya sebagai perempuan yang tak ber­gan­tung pada sistem(keadaan). Tak mendapatkan pendidikan for­mal oleh ayahnya, tak men­jadikan Rohana kecewa. Te­tapi, ayahnya selalu mem­belikan buku, koran dan bahan bacaan lainnua untuk Tohana, sehingga Rohana belajar mem­baca dan menulis secara otodidak.

Menjelang dewasa, ke­de­katan Rohana dengan istri pejabat Belanda, membuat Rohana mendapatakan pen­didikan yang bagus secara non-formal. Ia membaca majalah Belanda, belajar menyulam dan menjahit. Saat itu Rohana tampil sebagai perempuan pertama yang tangguh, dan ia bisa berkarya dengan caranya sendiri, tanpa memandang gender bahwa ia adala seorang perempuan.

Baca Juga : Termasuk Bupati Novi Rahman Hidayat, KPK Tangkap 10 Orang dalam OTT di Nganjuk

Dunia Pendidikan

Pergerakan Rohana dalam dunia pendidikan memang menonjol. Gebrakan awal yang dilakukan oleh Rohana, pada 11 Februari 1911, ia men­dirikan “ Sekolah Ke­rajinan Amai Setia”. Rohana men­dirikan sekolah ini, de­ngan menampung para pe­rem­puan Minang, dalam mengem­bang­kan bakat dan ke­teram­pilan­nya. Sehingga, perem­puan juga bisa menunjukan kontribusinya dalam lingkunganya.

Pergerakan Rohana dalam dunia pendidikan, tak hanya sekadar “ Sekolah Kerajinan Amai Setia” saja. Rohana, tidak hanya memberikan ketera­m­pilan kepada kaum perempu­an, Rohana juga mendirikan sekolah Rohana School, se­kolah ini menjadikan Rohana tak hanya mengajar anak pe­rem­puan saja, Rohana ber­peran dalam menampung mu­rid laki dan perempuan, yang tidak hanya berasal dari Mi­nang­kabau. Peran-peran Ro­hana dalam pendidikan, ia juga pernah diminta mengajar di berbagai tempat—wujud se­bagai perempuan Minang, ia mengajar di Sekolah Dharma Putra, yang tak lagi me­ngajar­kan perempuan—tetapi mu­rid­nya adalah laki-laki. Ro­hana dalam perjuangannya tak hanya sampai disitu, ia terus merantau ke berbagai tem­pat—demi tercapainya jihad pendidikan yang ia laksanakan.

Perjuangan Pers

Selain bergerak dalam du­nia pendidikan, Rohana juga aktif dalam kegiatannya dalam dunai jurnalistik. Wartawati pertama Indonesia ini, banyak mendirikan surat kabar—yang berperan dalam dunia per­gerakan dan isu-isu ke­perem­pu­a­nan—Rohana tampil se­bagai tokoh multitalenta de­ngan gejolak perempuan yang tak mendapatkan tempat da­lam dunia yang penuh ke­kang­an pada zaman itu—bahwa perempuan tak bisa mela­kukan apa-apa.

Keberadaan Surat Kabar, Suntiang Melayu, Perempuan Bergerak, Radio dan Cahaya Sumatera—membuktikan pe­r­gerakan Rohana dalam dunia jurnalistik. Rohana tampil dalam pergerakan perempuan Minang yang berpengaruh, ia tak dipandang sebelah mata sebagai perempuan yang biasa-biasanya saja. Tulisan Ro­hana­pun tersebar dimana-mana: Sunting Melayu, Saudara Hin­dia, Perempuan Bergerak, Radio, dan Suara Koto Ga­dang. Rohana juga pemah menulis pada beberapa surat kabar yang terbit di Pulau Jawa, seperti Mojopahit, Guntur Bergerak, Fajar Asia.

Jasa-jasa Rohana dalam dunia jurnalistik, sudah di­ke­tahui banyak orang. Sehingga, penghargaan yang diberikan pemerintah. Pada Hari Pers Nasional ke-3 tahun 1874, ia dianugerahi penghargaan se­bagai Wartawati Pertama Indo­nesia. Pada bulan Februari tahun 1987, Menteri Pene­rangan Harmoko menga­nu­gerahi­nya sebagai Perintis Pers Indonesia. Dan pada tahun 2008 pemerintah Indonesia menganugrahkan Bintang Jasa Utama. Jasa-jasa Rohana da­lam dunia pers, tak bisa kita pungkiri bahwa ia banyak berperan.

Diktum yang bergembang bahwa perempuan hanya un­tuk tiga saja: dapur(memasak), sumur(mencuci) dan ka­sur (sex). Bagi Rohana, diktum itu tak cocok lagi, dari segi gebe­rakan yang Rohana lakukan, ia telah menjadi orang besar dengan karya yang telah ia perbuat. Sebagai perempuan Minangkabau, itu tak mudah karena perempuan Minang­kabau juga kental de­ngan adat, perempuan betu;-betul men­jadi “Limpapeh Rumah Nan Gadang. Rohanapun banyak tantang dalam berjuang. Se­bagai perempuan ia tentu men­e­rima cemoohan, fitnah dari banyak orang. Karena saat itu perempuan jarang melakukan gebrakan besar, yang juga sulit dilakukan oleh laki-laki-laki.

Penutup

Pesan-pesan gerakan pe­rempuan Rohana Kudus, ba­nyak menjadi pesan-pesan perjuangan inspiratif bagi kita. Pesan ini tak hanya untuk perempuan tetapi juga laki-laki. Hal yang terpenting kita baca dan renungkan. Menjadi seorang perempuan dengan gerakan yang luar biasa adalah suatu prestasi yang me­ngan­gum­kan. Perempuan penuh karya dan ia mengukir p­era­daban pada masanya dan juga dikenang pada masa kini. Se­moga Minagkanbau tak ber­jalan mundur, Rohana-Rohana berikutnya pun mun­cul—demi melanjutkan ge­bera­kan besar kaum perempuan.***

 

ARIFKI
(Koordinator Minangkabau Tranparency Watch)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]