KBRI di Yaman Kena Bom


Senin, 20 April 2015 - 19:48:32 WIB
KBRI di Yaman Kena Bom

Hingga berita ini diturun­kan, setidaknya tiga WNI dila­porkan terluka akibat ledakan bom di Sanaa.

Baca Juga : Hingga Kuartal 1 2021, Penjualan Daihatsu Tembus 30 Ribu Unit

Direktur Perlindungan War­­ga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Ke­menterian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengatakan tiga warga Indonesia itu yakni Sapto Nugroho, kepala tim evakuasi WNI di Yaman yang baru datang dari Hudaidah ke Sanaa. Tim Sapto berniat meng­evakuasi 50 WNI dengan men­jemput mereka di rumah ma­sing-masing.  “Ada 50 WNI yang sebe­lumnya tidak ikut program evakuasi karena me­rasa masih aman,” kata Mu­ham­mad Iq­bal, yang dihu­bu­ngi melalui telepon dari Jakarta.

Iqbal menuturkan sasaran utama pengeboman sebe­nar­nya adalah gudang senjata yang terletak di Gunung Faj Attan. Jaraknya sekitar 5 kilometer dari KBRI. “Ka­rena ini gudang senjata, leda­kannya sangat besar dan meng­g­uncang sampai KBRI,” ujar­nya. Beberapa bagian KBRI porak-poranda akibat ledakan itu.

Baca Juga : Dukung Ekonomi Syariah, Pemerintah Fokus Bangun Industri Halal

Sampai kemarin, tim Sapto baru berhasil mengevakuasi 12 WNI yang semuanya ber­kum­pul di safe house. “Pak Sapto luka-luka di kaki dan tangan karena sedang keluar dari basement saat terjadi leda­kan,” ujar Iqbal.

Dua WNI lain yang terluka ter­diri atas satu laki-laki dan satu perempuan. WNI laki-laki kini berada di safe house. Iqbal belum mendapat informasi detail tentang kondisinya. Hanya, lukanya tidak separah WNI perempuan yang sam­pai dilarikan ke rumah sakit.

Baca Juga : Perdagangan Pukul 11.00 WIB: Nilai Tukar Rupiah Belum Beranjak Dari Rp 14.600/US$

Kata Iqbal, ini adalah serangan terbesar di Yaman sejak terjadi aksi saling serang antara pemberontak Houthi dan pemerintah Yaman pada 25 Maret lalu.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi mengatakan, tak ada korban jiwa akibat serangan brutal tersebut. Namun dua orang staf KBRI dan 1 WNI mengalami luka.

Baca Juga : Harga Emas Antam Hari Ini Melesat Setelah 2 Hari Turun Tipis-tipis

“Kementerian Luar Negeri telah menginstruksikan kepada KBRI dan tim evakuasi di Sanaa untuk segera mengambil langkah yang diperlukan untuk mengamankan keselamatan WNI di sana,” kata Menlu Retno sata jumpa pers di Gedung JCC. Senayan, Jakarta Pusat, Senin (20/4).

Retno menjelaskan dua orang staf diplomat dan seorang WNI yang terluka itu telah mendapat pera­watan. “Kini seluruh WNI tersebut sudah dievakuasi ke Wisma Duta di Sanaa dan kita upayakan segera dievakuasi ke Hudaidah,” kata Retno.

Menlu Retno Marsudi memas­tikan serangan bom tidak menyasar gedung KBRI, tapi menyasar gudang amunisi milisi loyalis mantan Pre­siden Abdullah Saleh.

Gudang tersebut berada di ba­wah gunung dan bom sempat me­nem­bus masuk sebelum akhirnya meledak besar. Akibat bom tersebut, kerusakan gedung KBRI mencapai 90 persen.

“KBRI di Sanaa bukan target utama serangan. Ini perlu dite­kankan. Tapi serangannya meng­akibatkan kaca-kaca pecah dan atap terkelupas,” kata Retno.

Hingga serangan terjadi, lanjut Retno, KBRI di Sanaa masih dibuka untuk keperluan lanjutan evakuasi pemulangan warga negara Indonesia (WNI). Namun operasional resmi para staf kedutaan berada di Kota Salala. “Hanya ada beberapa staf di KBRI Sanaa apabila WNI yang memerlukan evakuasi maka ada orang yang dapat dihubungi,” ujarnya.

Atas serangan bom tersebut, pemerintah Indonesia mengecam keras serangan yang telah melukai dua staf diplomat dan satu WNI tersebut.

Pemerintah Indonesia mene­gaskan pengemboman ini adalah bukti bahwa penyelesaian masalah dengan kekerasan hanya meng­akibatkan korban jiwa yang tak bersalah. Indonesia menekankan kembali bahwa penyelesaian secara damai melalui diplomasi dan perun­dingan merupakan jalan terbaik.

Retno menyebut, pemerintah Indonesia mendesak agar semua pihak segera menghentikan aksi kekerasan. Dia juga meminta agar jeda kemanusiaan segera diterapkan sehingga warga sipil termasuk warga negara asing dapat segera keluar dari Yaman dan bantuan kemanusiaan dapat masuk ke Yaman.

Masih menurut Retno, Indonesia meminta agar semua pihak yang bertikai menghormati aturan dan hukum internasional, khususnya terkait perlindungan warga sipil termasuk berbagai resolusi Perse­rikatan Bnagsa-Bangsa terkait. Presi­den Joko Widodo belum men­da­patkan laporan utuh ihwal KBRI di Yaman yang hancur karena bom. Presiden Jokowi mengaku masih menunggu proses evakuasi dan investigasi kerusakan di Yaman.

“Saya sudah dilapori, namun belum mendengar laporan utuh. Masih menunggu investigasi dari sana,” kata Jokowi seusai membuka World Economic Forum di Jakarta pada Senin (20/4).

Presiden Jokowi, yang hadir didampingi Menko Perekonomian Sofyan Djalil dan Kepala Bappenas Andrinof Chaniago, ingin menge­tahui seberapa besar dampak keru­sakan di sana.

Di Yaman kini sedang berke­camuk konflik antara pemerintah Sunni dan pemberontak Houthi yang beraliran Syiah. Krisis bersen­jata melanda Yaman setelah Arab Saudi dan negara-negara Teluk sekutunya melancarkan operasi militer untuk menahan laju pem­berontak Syiah Houthi. Operasi militer yang melibatkan serangan udara itu mulai digelar pada 26 Maret lalu, dua hari setelah peme­rintah Yaman memohon Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mela­ku­kan intervensi militer ke negeri itu.

Konflik terjadi setelah kubu Hout­hi melengserkan Presiden Abed Rab­bo Mansour Hadi. Hadi beru­paya mempertahankan kekua­saannya dengan mengungsi dari ibu kota Sanaa dan mendirikan pusat peme­rintahan di Kota Aden. Sepak terjang kaum Houthi telah mem­bangkitkan dugaan Arab Saudi bahwa aksi mere­ka disokong oleh pemerintah Iran, yang juga beraliran Syiah. Namun, baik kelompok Houthi maupun Iran menepis duga­an tersebut.

Sejak Desember 2014 pem­erin­tah berusaha mengevakusi WNI di Yaman. Akhir tahun lalu peme­rintah berhasil mengevakuasi 332 WNI, lalu Februari-Maret 148 orang, kemudian pada pekan perta­ma April sebanyak 220 orang. (h/met/tmp)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]