Menganggur atau Merantau


Selasa, 21 April 2015 - 18:49:38 WIB
Menganggur atau Merantau

Problema ini mendapat perhatian dari Guru Besar Fakultas Ekonomi Unand Prof Elfindri. Dia pun mem­perkirakan bahwa Sumbar sulit mencapai target untuk menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), karena tidak adanya program nyata untuk mencapai target itu. Kepala daerah harus berfikir ekstra untuk mencari formula guna membuka lapangan pekerjaan bagi angkatan kerja yang terus dicetak pada akhir tahun ajaran.

Baca Juga : Audiensi dengan Musisi Indonesia, Menko Airlangga akan Cari Solusi Konstruktif untuk Industri Musik

Dari data yang ada, angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sumbar terus mengalami kenaikkan. Dalam rentang setahun saja, kenaikkan mencapai 6,99 persen. Kondisi ini menandakan, pemerintahan daerah tidak memiliki program yang tepat, dalam membuka akses lapangan kerja, untuk mengatasi para pengangguran. Angka pengangguran didominasi kalangan produktif, tamatan SMK bahkan sarjana. Mereka yang menganggur adalah anak muda dan yang berpendidikan. Generasi produktif, yang dianggap memiliki potensi, tapi sayang tidak diarahkan. Pemerintah daerah mestinya berperan aktif dalam menciptakan lapangan perkerjaan, atau setidaknya mengarahkan para generasi muda.

Jika dibiarkan, kondisi ini akan berdampak luas dalam kehidupan sosial masyarakat. Angka pengangguran, akan berbanding lurus dengan penurunan perekonomian ma­syarakat. Dampak lebih luasnya lagi, angka kejahatan akan semakin tinggi, sebab para pengangguran, akan melakukan hal apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari sanalah, mereka mulai menjambret, mencuri, hingga melakukan perampokan. Semua itu adalah tantangan bagi Sumbar yang harus dicarikan jalan keluarnya.

Baca Juga : Menko Airlangga Sebut Tingkat Kesembuhan Covid-19 di Indonesia Semakin Membaik

Rektor Unand Prof Dr Werry Darta Taifur  menilai minimnya lapangan pekerjaan di Sumbar bersumber dari lemah, sedikit dan lambannya kegiatan ekonomi yang terjadinya di Sumbar.

Terbatasnya lapangan pekerjaan itu karena kegiatan ekonomi juga terbatas. Untuk mengurai permasalahan ini, perlu dikaji lebih dalam sektor pendidikan masa saja yang banyak mencetak pengangguran terbuka. Salah satunya yang ia kritisi adalah tingginya tingkat pengangguran di kalangan diploma atau sarjana bidang kesehatan. Untuk itu ia berharap pemerintah tak terlalu mudah memberi izin pendirian perguruan tinggi kesehatan kepada lembaga-lembaga tertentu.

Baca Juga : Resmikan Aplikasi SINAR, Kapolri: Kini Perpanjang SIM Bisa dari Rumah

Tingginya angka pengangguran terbuka di Sumbar saat ini juga disebabkan oleh keengganan angkatan kerja Sumbar bekerja di luar daerah atau pun luar negeri. Angkatan kerja tersebut lebih memilih menjadi pengangguran terbuka, setengah pengangguran atau pun pengangguran terselubung di kampung.  Fighting spirit mereka sangat rendah dan selalu ingin berada pada jalur aman dan nyaman dengan tetap tinggal bersama orang tua atau pun sanak saudara di kampung halaman. Dalam hal ini bukan maksud mendorong seluruh orang untuk pergi jauh merantau, tapi karena sangat terbatasnya lapangan pekerjaan yang mampu menampung mereka sesuai dengan latar belakang pendidikan dan skill yang mereka miliki.

Peluang untuk bisa maju dan mendapatkan kesempatan kerja dengan penghasilan, posisi dan karir yang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki sangat besar di luar daerah Sumbar dan luar negeri. Sementara jika bertahan di kampung halaman dengan harapan bisa bekerja di swasta/perusahaan kecil dengan berharap adanya lompatan-lompatan karir dan prestasi tentu sangat mustahil.

Baca Juga : Jaksa Bakal Hadirkan 5 Saksi dalam Sidang Kasus Swab Habib Rizieq

Pada tahun 2014, Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar mencatat jumlah pengangguran terbuka di daerah ini 6,99 persen atau mencapai 150 ribu orang lebih dari total angkatan kerja 2,33 juta orang. Dari jumlah pengangguran terbuka itu, lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) mendominasi hingga 11,15 persen per Agustus 2014. Selain lulusan SMK, pengangguran terbuka penduduk usia 15 tahun ke atas juga didominasi lulusan sekolah menengah atas sebesar 9,22 persen, lulusan univeritas 8,46 persen, sekolah menengah pertama 6,19 persen, dan lulusan diploma I/II/III sebesar 5,79 persen. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]