Mempersoalkan RA Kartini


Selasa, 21 April 2015 - 18:50:10 WIB
Mempersoalkan RA Kartini

Sebenarnya,  sudah sejak lama memang ramai pihak-pihak yang mempersoalkan penasbihan RA Kartini seba­gai pahlawan emansipasi.  Orang lalu mem­per­ban­ding­kan kiprah RA Kartini dengan Cut Nyak Dien, Cut Meutia dari Aceh, Rohana Kudus dan Rahma Yunus Elsiyah dari Sumatera Barat, Dewi Sartika dari Bandung (Jawa Barat) atau Cristina Marta Tiahahu  dari Maluku dan yang lainnya.

Dari kumpulan surat RA Kartini itu, (konon kabarnya, sebagian di antaranya disensor dan tidak diterbitkan) ter­gambar, bahwa Kartini yang  sebenarnya tidak secerdas yang digembar-gemborkan selama ini. Ia sebenarnya awam, tidak mengerti dan tahu apa-apa.

Baca Juga : Banpres Produktif Tahap II Segera Dibuka, Sasar 3 Juta UMKM

Yang dilakukan Kartini adalah “perenungan” dalam ke­­rangka menemukan iden­titas dirinya. Kartini muda yang dalam proses pencarian jati diri kemudian diper­kenal­kan dan bertemu Nyonya Rosa  Abendanon, isteri Menteri Agama, Kebudayaan dan Ke­rajinan Hindia Belanda, JH Abendanon tahun 1900-1905.

Lalu, perkenalan Kartini dengan Stella yang seorang femi­nisme radikal berke­bang­saan Yahudi melalui sebuah iklan di majalah terkenal ne­geri Belanda, semakin meng­u­kuhkan pandangan Kartini tentang  gerakan feminisme.  Ajaran theosofi maupun plu­ralisme bukan barang baru bagi Kartini mengingat dia bersekolah di sekolah elit Eropa kala itu. Kartini sangat terkagum-kagum dengan femi­nisme, liberalisme, hu­ma­nisme dan pluralisme yang diajarkan sahabat ko­res­pon­densinya.

Saat itu, Kartini yang se­dang galau (meminjam isti­lah yang sedang trend saat ini), merasa menemukan oase di Padang Pasir. Kega­lauan Kar­tini sangat mudah dipa­hami. Dalam usia yang rawan, Kartini menghadapi banyak masalah  dan me­nga­lami krisis iden­titas. Kartini pun terpaksa menghentikan studinya. Ka­rena walaupun ber­sentuhan dengan ke­hi­du­pan elit bangsa Eropa, ke­luarga besar Kartini masih tetap me­megang tradisi leluhur mereka yang melarang anak pe­rem­puan ber­pen­di­dikan tinggi.

Ironisnya, justru menjelang kepergiannya menemui sang Khaliq, Kartini baru belajar tentang Islam yang sesung­guhnya. Perjalanan spiritual Kartini tersebut diawali per­temuan dengan Kiai Soleh Darat di Semarang. Kartini yang saat itu berstatus nyonya bu­pati, kemudian belajar me­ng­aji dan ilmu agama dengan kiai tersebut.

Sama seperti saat ber­ke­nalan dengan dunia feminisme dan humanis-pluralisme, Kar­tini  pun terkagum-kagum dengan ajaran Islam, terutama kitab suci Alquran. Dalam suratnya tertanggal 15 Agustus 1902 kepada Rosa Aben­da­non, Kartini me­nulis, “Alang­kah bebal dan bodohnya ka­mi, kami tidak melihat, tidak tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan di­sam­­ping kami”. (Api sejarah, Prof.­­Ahmad Man­syur Suryanegara).

Kartini menulis surat ter­sebut setelah ia membaca tafsir Al­quran dan mengatakan, bah­wa pendidikan barat membuat ia dan banyak orang melu­pa­kan Al­quran. Saat itu Kartini melihat Alquran seba­gai gu­nung agung hakikat ke­hi­dupan.  Kondisi ini mem­buat Kartini terjebak pada ambiguitas yang tak di­ingin­­kannya. Di satu sisi, ia memuja pluralisme dan femi­nisme serta ajaran theo­sofi. Namun di lain pihak, ia juga terkagum-kagum pada isi dan kandungan kitab suci Al­qur­an setelah membaca ter­je­ma­hannya.

Sayangnya, persentuhan atau “asimilasi” Kartini dan Kiai Soleh Darat yang terbilang sangat singkat tidak didoku­men­tasikan dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.  JH Abendanon yang mensponsori terbitnya kumpulan surat-surat Kartini tersebut lebih mengedepankan “per­ka­wi­nan” barat dan timur dalam kemasan humanisme dan femi­nisme radikal.

Sehingga sosok Kartini yang ditampil dan dikenal pada hari ini adalah icon emansipasi yang menuntut kesetaraan hak laki-laki dan perempuan da­lam segala hal. Dan itu adalah konsep emanispasi atau femi­nisme radikal ala barat. Ada indi­kasi, kolonial Belanda mela­lui per­pan­jangan JH Aben­­­danon dan Sno­uck Hur­­­gron­je se­nga­­­ja me­nga­bur­­­kan hal ter­sebut untuk me­nya­markan gerakan femi­­nisme di In­do­nesia.

Entah apa jadinya, jika Kartini lebih dulu mengenal Islam secara kaffah (utuh) bukan Islam Kejawen) dari­pada berkorespondensi dengan Stella atau Rosa Abendanon.  Atau, Kiai Soleh Darat tidak keburu meninggal yang disu­sul Kartini setahun berikutnya.

Alasan Memilih Kartini

Menilik fakta sejarah ter­sebut, Saya melihat dua hal  yang menjadi  benang merah mengapa Kartini yang ditas­bihkan sebagai tokoh eman­sipasi di republik ini. Pertama, adanya kepentingan kolonial Belanda melalui Snouck Hur­gronje di Indonesia pada masa itu. Saat itu, Snouck menjabat sebagai Penasehat Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia.  Kepentingan tersebut bukan hanya kepentingan politik namun juga zending miss­io­naris.  Kolonial Belanda sangat memahami kondisi psikologis Kartini muda. Ia dijadikan alat dan  pintu masuk faham the­osofi, pluralisme dan gerakan feminisme radikal.

Kedua, status Kartini se­bagai elit priyayi memung­kinkan Kartini  memiliki  akses dan massa yang lebih besar dari perempuan kebanyakan.  Apa yang dilakukan Kartini akan dengan mudah diterima dan diikuti orang lain.  Sikap kooperatif yang ditunjukkan Kartini, membuat pihak Be­landa menjatuhkan pilihan pada perempuan satu putra tersebut.

Jadi, meskipun Kartini tidak melakukan satu gebra­kan apapun selain menulis surat atau ber­korespondensi, maka JH Aben­danon tetap merasa perlu untuk mener­bitkan kumpulan surat-surat tersebut dan melakukan pen­de­katan kepada pemerintah RI guna menasbihkan Kartini sebagai pahlawan pejuang hak-hak perempuan.

Dengan kata lain, RA. Kar­tini sengaja dikemas, di­kon­­disikan dan dilakukan penci­traan gerakan pemberdayaan perempuan ala kolonial.

Ini tentu berbeda dengan gerakan emansipasi yang dita­warkan Rohana Kudus, mi­salnya. Menurut Rohana, per­samaan hak antara laki-laki dan perempuan lebih difokuskan kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu secara kodratnya. Supaya bisa ber­peran sebagai perempuan se­ja­ti, perempuan butuh pen­didikan.

Intinya,  yang diper­ju­ang­kan Rohana Kudus bukan kesetaraan hak laki-laki dan perempuan dalam segala hal. Konsep yang digagas Rohana Kudus me­ru­pakan imple­men­tasi dari ajaran Islam yang menempatkan pe­rempuan pa­da posisi terhormat. Sedang­kan Cut Nyak Dien yang terjun langsung di me­dan pe­perangan memilih untuk ber­­sikap kon­tra dan non kom­pro­mis de­ngan Belanda.

Dengan fakta tersebut, Belanda sadar betul, sulit untuk mempengaruhi Rohana Kudus  dan juga Cut Nyak Dien. Ma­­ka tak ada pilihan, mem­bidik dan menjadikan Kartini sebagai tokoh emansipasi ada­lah politik untuk melakukan penetrasi jitu bagi Kolonial Belanda. Kartini awam, ia polos dan kooperatif.

Namun apapun itu, Kartini tetap merupakan bagian dari perjalanan sejarah bangsa ini. Hanya saja, sejarah tidak selalu benar dan terlepas dari ber­bagai intrik dan kepentingan yang mewarnai dinamikanya.  Ter­masuk adanya branding, pe­ncitraan dan pemu­tarba­likkan fakta sejarah itu sendiri. Yang harus juga digarisbawahi, tidak perlu mengagung-agung­kan atau mengkultuskan sosok Kartini sedemikian rupa serta me­nas­bihkannya sebagai to­koh atau pahlawan kesetaraan gender. ***

 

MIRAWATI UNIANG

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]