Banyak Cobaan, Serahkan Takdir pada Tuhan


Selasa, 21 April 2015 - 19:03:11 WIB
Banyak Cobaan, Serahkan Takdir pada Tuhan

Havidz dan sebagian besar mahasiswa Sumbar yang die­vakuasi tinggal di Aden, kota terbesar kedua di Yaman. Sejak situasi memanas di Yaman, Presiden Yaman Abd Rabbuh Mansur Hadi melarikan diri ke kota tersebut dan meminta bantuan ke negara sahabatnya untuk melindungi diri dari kepungan pemberontak.

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

“Untuk urusan kesela­ma­tan Havizh, sejak berada di tengah pertempuran sampai terombang-ambing di tengah badai saat evakuasi, saya dan keluarga sudah menyerahkan takdir kepada Allah sebagai yang maha memiliki. Jika Allah yang menghendaki anak saya, di bawah ketiak saya pun pasti akan diambilnya,” ucap Edi Asman Kiram kepada Haluan beberapa waktu lalu, me­nun­jukkan kebesaran hatinya.

Sebelum dievakuasi, Ha­vizh intens (rutin) melaporkan kondisinya kepada keluarga, bahkan juga intens berko­munikasi dengan Haluan. Ha­vizh bercerita soal situasi yang mulai memanas, hingga mele­tusnya kon­flik bersenjata di pusat Kota Aden. Selama per­perangan itu pula komu­nikasi antara Havizh, keluarga dan awak media hanya terhubung dengan fasilitas Whatsapp di hand­phone pintar (android) masing-masing.

Baca Juga : Tips Pola Makan Sehat saat Lebaran

“Banyak kuasa Tuhan yang saya dan teman-teman lihat selama pro­ses evakuasi dila­kukan. Saat kami terkepung di dalam asrama Arbithah Attar­biyyah Al Islamiyyah wa Marra­kiuha Atta’limiyyah, seringkali gra­nat dilemparkan ke arah masjid dan asrama tempat kami tinggal, tapi anehnya granat itu tidak meledak. Kejadian itu saya lihat langsung. Saya juga sempat merekam beberapa video pertempuran yang terjadi,” cerita Havizh.

Bahkan, selama terkurung dalam situasi perperangan, banyak kebu­tuhan yang terputus karena sebagian besar gedung di Kota Aden hancur lebur, seperti kantor pemerintahan dan kantor pelayanan umum. Se­hing­ga kebutuhan pokok seperti air bersih sangat sulit didapati.

“Beberapa kali evakuasi dila­kukan, tapi terus saja mengalami kegagalan karena kontak senjata masih terus terjadi. Akhirnya kami berhasil keluar dari Aden pada pada Senin (13/4). Kami langsung ke pelabuhan di Aden, menyeberang ke Negara Djibouti di Afrika Timur menggunakan kapal kayu,” lanjut Havizh.

Sebelumnya Havizh tidak beren­cana untuk pulang meskipun telah terjadi pertempuran dahsyat di Kota Aden. Ia hanya berencana untuk menghindar ke daerah yang aman seperti ke Yaman Selatan. Tetapi, karena orangtuanya meminta untuk pulang, Havizh tak kuasa untuk menolak permintaan tersebut.

“Saat berada di tengah lautan dari Yaman ke Djibouti, kapal kami terombang ambing karena badai dan tentu kami sedikit ketakutan. Kami hanya berpasrah diri kepada Tuhan, dan Alhamdulillah Tuhan menunjukkan kembali kuasanya. Kapal kami selamat hingga kami menepi di pelabuhan Djibouti,” kenang Havizh.

Setelah sampai di Djibouti, ia dan kawan-kawan langsung ditampung oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di negara tersebut, dengan masih didamping oleh PMI yang setia mengurusi segala hal terkait proses evakuasi.

“Setelah sampai di Djibouti, sambil menunggu keberangkatan selanjutnya kami menginap di hotel. Semua urusan ditanggung oleh KBRI, termasuk pengurusan visa untuk melanjutkan perjalanan. Hing­ga akhirnya kami berangkat dari kawasan Afrika Timur menuju Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) pada Kamis (16/4),” lanjutnya.

Setelah mengantongi tiket kebe­rangkatan dari Djibouti menuju Dubai menggunakan pesawat ko­mer­sil Qatar Airways, perjalanan ber­lanjut dan tidak begitu lama samp­ai­lah di Dubai. Setelah transit selama tiga jam, perjalanan dilan­jutkan menuju negara tercinta Indonesia.

Jumat (17/4) sekitar pukul 22.00, udara Indonesia akhirnya disapa oleh 26 mahasiswa Sumbar dari Yaman. Setelah melalui proses evakuasi berhari-hari yang mele­lahkan, Ha­vizh dan kawan-kawan akhirnya sampai dan menginap terlebih dulu di salah satu hotel di Jakarta.

“Setelah sampai di Jakarta kami diminta dulu beristirahat. Besoknya (Sabtu 18 April), 24 mahasiswa dari Sumbar langsung berangkat ke Kota Padang menggunakan Lion Air. Sedangkan 2 orang rekan kami lainnya berhenti sampai di Jakarta saja untuk mengurus beberapa hal,” lanjut Havizh.

Sabtu (18/4), tepat pukul 18.55 WIB, pesawat pun meluncur menuju Kota Padang. Selang beberapa jam kemudian, tepat pukul 21.15 pesa­wat yang dinaiki Havizh dan kawan-kawan mendarat mulus di Bandara Inter­nasional Minangkabau (BIM). Di saat yang sama, di bandara telah menunggu segenap keluarga yang tak sabar bertemu dengan anak-anak mereka yang akhirnya terlepas dari ancaman kemungkinan terburuk yang bisa saja menimpa mereka di Yaman.

Sesuai dengan harapan orangtua mahasiswa-mahasiswa yang dieva­kuasi, kedatangan 24 anak mereka disambut langsung oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. Gubernur menghimbau agar mahasiswa yang telah dievakuasi untuk bertahan di kampung halaman terlebih dahulu, sembari menunggu kondisi di Ya­man kondusif. “Saya minta anak-anak kita ini bertahan dulu hingga kondisi benar-benar membaik,” ucap Irwan saat itu.

Keluar dari situasi konflik ber­sen­jata memang bukan urusan gam­pang. Penghargaan pantas dibe­rikan kepada tim evakuasi, terutama dari PMI dan KBRI. Perjalanan me­lelahkan yang ditem­puh Havizh dan kawan-kawan berujung happy en­ding. Bisa dibi­lang, sambil menye­lam minum air, mahasiswa yang dievakuasi bisa melepas penat dulu di kampung halaman, melepas rindu dengan keluarga dan handai taulan, mung­kin juga berbagi ilmu dan pe­ngalaman pada teman-teman. Hing­ga nanti situasi Yaman kem­bali Aman, mereka bisa kembali melan­jutkan pendidikan. ***

 

Oleh:  JULI ISHAQ PUTRA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]