Pergerakan Stagnan, Investasi di Sumbar Melemah


Rabu, 22 April 2015 - 20:27:21 WIB
Pergerakan Stagnan, Investasi di Sumbar Melemah

 

Selain menghadirkan senator asal Sumbar, Emma Yohanna, kegiatan yang diinisiasi Fisipol Unand beker­jasama dengan DPD RI itu, juga dihadiri sejumlah tokoh Sumbar dari berbagai latar belakang profesi lainnya. Seperti Bupati Solok, Syam­su Rahim, Anggota DPRD Sumbar Marlis, Rektor IAIN IB Prof Dr Asasriwarni,  Dosen FISIP Unand Prof Dr Nusyirwan Effendi, Direktur Eksekutif Spektrum Politika As­rinal­di, tokoh pers Khairul Jasmi (Pemred Singgalang) dan Yon Erizon (Pemred Haluan), LSM, serta sejum­lah undangan lainnya. Diskusi ini dimoderatori oleh Yuliandre Darwis PhD, dosen FISIP Unand

Baca Juga : Irawati Meuraksa Serahkan Donasi Spensa Peduli di SMP Negeri 1 Padang

Romeo Rizal mengatakan, mes­ki pertumbuhan ekonomi Sumbar secara nasional relatif membaik,  namun hal tersebut belum serta merta berdampak terhadap pening­katan derajat kesejahteraan masya­rakat Sumbar secara umum. “Walau pertumbuhan ekonomi mencapai angka 9,5 persen sekalipun, namun sepanjang tidak memberikan dam­pak positif terhadap masyarakat, sama juga bohong,” kata Romeo.

Anggota DPD RI, Emma Yohan­na mengakui, kondisi Sumbar saat ini masih sangat menyedihkan. Selain minim dan lambatnya pem­bangunan fisik dan infrastruktur, pemerintah daerah juga dinilai belum sepenuhnya berhasil dalam pembangunan sumber daya manu­sia, yang berlandaskan pada nilai-nilai adat, budaya dan agama.

Baca Juga : Cegah Penularan Covid-19, Lapas Padang Lakukan Penyemprotan Desinfektan

“Di satu sisi, kita gembar-gem­bor soal filosofi ABS-SBK. Semen­tara di sisi lain, berbagai kasus penyakit masyarakat (pekat), mak­siat, serta sejumlah kasus bunuh diri, justru semakin bertambah marak sejak beberapa waktu ter­akhir. Jadi seolah tidak nyambung,” ujar Emma.

Emma juga menilai, jika sejauh ini pemerintah daerah masih kurang respon terhadap peluang-peluang investasi yang ada di pusat untuk dibawa ke daerah. Salah satu poten­sinya terang Emma, ada di para wakil rakyat dan wakil daerah yang kini bertugas di Senayan. “Potensi wakil daerah seperti kurang termanfaatkan untuk berbicara dan mencarikan solusi bagi daerah. Justru kami lebih banyak keluar,” pungkas Emma.

Senada dengan Emma, pengamat politik yang juga peneliti Spek­trum Politika, Asrinaldi mengatakan, lobi pemerintah Provinsi Sumbar ke pusat, dinilai masih sangat lemah. Hal ini terang Asrinaldi, membuat iklim investasi menjadi tidak ber­gairah dan cenderung menunjukkan grafik melemah. Untuk itu, sangat diperlukan berbagai terobosan dan solusi konkrit agar daerah ini bisa mengejar ketertinggalan dengan daerah lain.

“Tidak ada ‘gula’ di Sumbar. Sehingga secara factual, investor lebih memilih daerah lain untuk berinvestasi. Sebenarnya jika peme­rintah daerah jeli, para wakil rakyat dan wakil daerah yang kini di Sena­yan (14 anggota DPR, 4 anggota DPD), adalah investasi,” timpal anggota DPRD Sumbar, Marlis.

Pemred Haluan, Yon Erizon juga tidak menampik jika berbagai kece­masan dan kegelisahan, hingga saat ini diakui masih menghantui seba­gian besar masyarakat Sumbar. Tingginya angka kasus bunuh diri sejak beberapa waktu terakhir, merupakan salah satu contoh kecil dari kegagalan pemerintah dalam pembangunan manusia, sekaligus menjadi bukti nyata belum mak­simalnya implementasi ABS-SBK.

“Itu baru contoh kecil. Belum lagi kita bicara soal reformasi birokrasi yang nyaris tidak berjalan, serta pembangunan sektor pen­didikan dan kesehatan yang juga masih jauh dari harapan. Kasus bunuh diri yang jelas-jelas berkaitan dengan pembangunan manusia, justru tidak serius mendapat per­hatian,” ujar Yon Erizon.

Soal investasi, Pemred Sing­galang, Kahirul Jasmi mengakui, jika sejauh ini Sumbar masih sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Pulau Su­matera. “Hanya Belanda yang baru berani berinvestasi di Sumbar, yaitu Semen Padang. Ke depan, selain pemerintah, peran swasta juga sangat dibutuhkan untuk meng­gairahkan investasi di daerah ini,” ujar KJ.

Sementara Bupati Solok, Syam­su Rahim pada kesempatan yang sama, juga mengakui jika im­ple­mentasi ABS-SBK di Sumbar masih sebatas retorika. Dari ber­bagai pengalaman kunjungannya ke naga­ri-nagari, sendi-sendi adat budaya dalam kehidupan masyarakat Sum­bar dewasa ini, diakui sudah sema­kin luntur.

“Pembangunan tidak hanya dili­hat dari sisi kuantitatif, namun yang terpenting itu adalah kualitatif. Sejauh ini, kombinasi antara pem­bangunan fisik dan infrastruktur dengan pembangunan pada aspek mental, adat dan budaya, terasa masih belum sinkron. Lihat saja di kampung-kampung, tigo tungku (tungku tigo sajarangan), sudah runtuh,” papar Syamsu Rahim.

Di akhir sesi, Syamsu Rahim menyebut jika selain dibutuhkan sosok pemimpin yang mampu dalam mengkombinasikan berbagai aspek pembangunan (fisik, mental dan budaya), Sumbar ke depan juga membutuhkan hadirnya sosok pe­mim­pin yang mampu dalam mem­berdayakan segenap potensi ma­syarakat dan organisasi-organisasi kemasyarakatan yang ada.

“Pekerjaan rumah terberat sosok pemimpin Sumbar ke depan adalah bagaimana memaksimalkan kepe­mimpinan untuk kemaslahatan rak­yat, mampu menghadirkan rasa kebersamaan, punya empati dan kepedulian dan mampu men­cip­takan kaderisasi yang baik,” tutup Pemred Haluan, Yon Erizon. (h/yan)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]