Ratusan Warga Tabing Dievakuasi ke Shelter


Kamis, 23 April 2015 - 19:08:45 WIB
Ratusan Warga Tabing Dievakuasi ke Shelter

“Ingat, sesering mungkin kita harus berlatih menaiki shelter ini. Karena bencana tidak dapat kita prediksi, sehingga apabila itu terjadi kita sudah dalam keadaan siap dan tidak panik mencari tempat yang aman,” ucap Syamsul kepada ratu­san warga yang ikut memenuhi lokasi peresmian shelter tersebut.

Baca Juga : Di Tengah Guyuran Hujan, Wako Hendri Septa Jemput Keluarga Penerima Bedah Rumah

Berdasarkan pengkajian para ahli, lanjut Syamsul, terdapat dua jenis evakuasi, yaitu evakuasi vertikal (menjauh ke atas) dan evakuasi horizontal (menjauh ke samping). Namun, di kawasan zona merah seperti di Kelurahan Tabiang, akan lebih aman dan efisien jika dilakukan evakuasi vertikal saat bencana datang. Dan diharapkan keberadaan TES Koto Tangah I di kawasan Parupuk Tabing dengan daya tam­pung 4.500 jiwa dan TES Koto Tangah II di Wisman Indah V dengan daya tam­pung 5.000 jiwa, bisa menjadi solusi dalam upaya mitigasi bencana berupa evakuasi vertikal.

“Kita sudah mengkaji masak-masak pengadaan shelter ini, maksi­mal waktu tempuh untuk sampai ke puncak adalah 30 menit dengan radius pelayanan 0,5-1 Kilometer. Karena sifatnya sebagai tempat evakuasi sementara waktu, masya­rakat harus menempati shelter ini saat bencana selama dua jam dan kemudian disesuaikan dengan in­truk­si dari Badan Meteorologi Klima­tologi dan Geofisika (BMKG). Setelah itu, dari shelter ini nantinya kita akan menjemput warga untuk dibawa ke tempat evakuasi akhir, ke daerah-daerah aman se­perti di ka­wasan Limau Manis, Indarung dan lain sebagainya,” lanjut Syamsul.

Baca Juga : Hendri Septa: Masyarakat Langgar Prokes Akan Ditindak Tegas

Pelaksana tugas (Plt) Sekjen Kementerian PU & Perumahan Rakyat Taufik Wijoyono ikut me­nyam­paikan, pengadaan TES di kawasan zona merah adalah bentuk upaya pemerintah dalam penang­gulangan bencana, setelah berkaca pada pengalaman masa lalu.

“Setelah tsunami 2004 dan gem­pa 2009, pandangan kita dalam menanggapi bencana berubah dari penanggulangan menjadi kesiap­siagaan. Salah satu wujudnya adalah pengadaan shelter ini,” ungkap Taufik.

Sementara itu, Gubernur Sum­bar Irwan Prayitno mengungkapkan apresiasinya pada pemerintah pusat atas perhatian yang begitu besar terhadap penanggulangan bencana di Sumatera Barat. Selain shelter khusus TES, ia juga mengatakan bahwa perkantoran di Sumbar, terutama yang berada di kabupaten/kota rawan bencana, telah dilengkapi shelter di bagian atap yang juga diperuntukkan sebagai tujuan eva­kuasi masyarakat.

“Di Sumbar terdapat 7 kabu­paten/kota yang rawan bencana gempa dan tsunami. Selain dua shelter yang kita resmikan hari ini, kita akan terus upayakan penam­bahannya,” terang Irwan.

Simulasi Sukses

Setelah peresmian atas kedua shelter tersebut, dilakukan pula simulasi penanggulangan bencana gempa dan tsunami. Dalam simulasi ini warga Kelurahan Tabiang dimin­ta berlatih menyelamatkan diri ke shelter TES Koto Tangah II. Simu­lasi ini dipandu dan dibimbing oleh Kelompok Siaga Bencana (KSB) yang terlatih yang telah dipersiapkan oleh BNPB.

Dari pantauan Haluan, ratusan warga terlihat antusias mengikuti simulasi dan intruksi yang diberikan oleh pemandu simu­lasi melalui pengeras suara. Selain simulasi penyelamatan diri juga dilakukan adegan penyelamatan terhadap orangtua, jompo, penderita disa­bilitas, anak-anak dan pem­berian bantuan pertama oleh satu unit helikopter yang terbang rendah di atas bangunan shelter. “Kita cukup puas dengan hasil simulasi pertama di TES Koto Ta­ngah II ini. Waktu maksimal 30 menit dari radius terjauh 1 Kilometer bisa dilalui warga dengan waktu 17 menit sudah sampai ke puncak shelter. Kita sangat mem­butuhkan kesiapsiagaan warga seperti yang dipraktekkan hari ini,” ucap Syam­sul Maarif yang ikut dalam reka simulasi evakuasi sambil meninjau seluruh sisi bangunan shelter.  (h/mg-isq)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]